
Aleta mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dadanya bergemuruh menahan kekesalan terhadap Agra. beberapa kali Aleta mengucapkan sumpah serapah untuk lelaki pembohong itu.
Tak berselang lama, mobil Aleta sudah sampai di depan rumahnya. dia segera turun dan bergegas untuk menuju dapur, rasanya dia sudah akan pingsan karna kelaparan.
"sayang, kau sudah pulang,"
Aleta mematung di depan pintu saat melihat banyak orang di rumahnya, tapi dia juga tidak mengenal siapa yang sedang bertamu ke rumahnya itu.
"kok malah diam aja, sini masuk," panggil mama Lena sembari menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Aleta berjalan ke arah mama Lena dan duduk tepat di sofa yang mama Lena tepuk tadi. pikiran Aleta berkeliaran ke sana ke mari menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang terjadi di rumah nya ini.
"sayang, mereka adalah keluarga besar mama," mama Lena memperkenalkan satu persatu orang yang ada diruangan itu kepada calon menantunya.
Aleta hanya menyunggingkan senyum palsunya sambil mencoba untuk mengingat manusia-manusia yang sedang di kenalkan padanya ini. matanya juga celingak-celinguk mencari keberadaan mama Deeva yang sedari tadi tidak menampakkan wujudnya.
"sayang, lusa kalian akan foto prewedding," mama Lena mengingatkan Aleta kalau hari pernikahan sudah semakin dekat. banyak sekali hal yang harus mereka siapkan sebelum hari itu tiba.
"em ma, aku mau ke dapur sebentar." Aleta langsung pergi meninggalkan mama Lena, dia sudah tidak tahan lagi menahan lapar yang terus menggerogoti organ-organ tubuhnya.
Kebetulan ada makanan kesukaannya di atas meja, dengan sigap Aleta mengambil nasi beserta lauk pauk yang sudah terhidang di meja makan.
Eegh..., suara sendawa Aleta memenuhi seisi dapur, dia sudah merasa lega karna kampung tengah telah terisi dengan sempurna. Aleta lalu beranjak untuk kembali menemui mama Lena dan keluarga besar mamanya itu.
"loh Aleta, sudah pulang?" suara mama Deeva menghentikan langkah Aleta yang sudah hampir keluar dari dapur.
Mama Deeva membawa beberapa kotak makanan dan minuman yang langsung diletakkan di atas meja, dan disusun ke piring juga nampan.
"sana, suguhkan buat calon keluarga besarmu," mama Deeva menyuruh Aleta membawa makanan sedangkan dia sendiri membawa minuman bersama dengan bik Eni.
"sayang, dari tadi ponsel kamu bunyi terus loh," ucap mama Lena. dia yang tadi sedang mengobrol cantik mendengar ponsel Aleta yang berdering terus menerus. mungkin ada yang penting pikir mama Lena.
Aleta bergegas untuk mengambil ponselnya dan melihat siapakah gerangan yang terus menelpon nya sedari tadi.
__ADS_1
8 panggilan tidak terjawab. Aleta segera membukanya, dan terlihatlah nama pria sombong di layar ponselnya.
"cih, ngapain dia nelpon-nelpon," dengus Aleta. lalu dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas tanpa menelpon atau membalas pesan dari Agra.
Pada saat yang sama, Agra yang sudah sampai di kampus Aleta terlihat sangat kesal. dia sudah berulang kali menelpon gadis itu namun tidak juga diangkat, dalam pikiran Agra apakah Aleta sedang membalas dendam karna dia juga tadi tidak mengangkat telponnya ? dia merasa bersalah bercampur dengan kesal.
"loh Agra, sedang apa kamu di sini?" tanya Pak Reza yang sedang berjalan ke arah mobil di samping Agra berdiri.
"ini om mau jemput Aleta, apa dia sudah pulang ya?" Agra bertanya sembari mendekat ke arah Pak Reza.
"kelas sudah selesai dari tadi kok," jawab Pak Reza.
Agra di selimuti rasa bersalah, Aleta pasti sudah menunggu lama di tempat itu.
"tapi tadi Ricky pergi bersama teman-teman Aleta, mungkin dia juga ikut," tambah Pak Reza lagi. lalu dia segera masuk ke mobilnya dan berlalu meninggalkan Agra.
"Ricky..., sedang apa dia bersama mereka?" Agra langsung mencari nomor Ricky untuk bertanya langsung keberadaannya.
"halo," jawab Ricky.
"tidak, aku sedang di rumah sakit," jawabnya.
Lalu Agra segera mematikan panggilan mereka, dia mengacak kasar rambutnya dengan helaan napas yang terdengar berat. Agra merasa bingung, dia harus kemana untuk mencari Aleta sedangkan gadis itu tidak mau mengangkat telpon darinya.
Akhirnya Agra memutuskan untuk pergi ke rumah Aleta, mungkin saja gadis itu sudah pulang ke rumahnya.
***
Aleta sedang duduk di taman samping rumahnya, dengan ditemani segelas jus dan cemilan menikmati sore hari yang tenang dengan hembusan angin menerpa wajah cantiknya.
Aleta sudah menghabiskan waktu untuk berkenalan dengan keluarga Agra, dan ternyata mereka semua adalah orang yang ramah dan juga baik. apalagi dengan sifat Aleta yang mudah bergaul dengan semua orang membuatnya cepat akrab dengan mereka.
Menikah satu kata yang sedang Aleta pikirkan saat ini. dia tidak menyangka diusia nya yang baru menginjak 20 tahun sudah bertunangan, bahkan mungkin sebentar lagi dia akan bergelar menjadi seorang istri.
__ADS_1
Terkadang rasa takut menghampirinya, dia masih terlalu terikat dengan orang tua sehingga merasa takut jika mungkin tidak bisa mengurus rumah tangganya sendiri, terlebih lagi mengurus seorang pria yang sudah bergelar suami untuknya.
Karna terlalu terbuai dengan lamunan, Aleta tidak sadar bahwa kini ada seorang pria yang berdiri tepat di sebelahnya. Agra terus memperhatikan wajah Aleta yang terlihat sangat tenang. gadis itu memejamkan matanya sembari bersandar pada sebuah ayunan yang sedikit bergoyang terkena hembusan aingin.
Agra semakin menatap intens pada gadis itu, jantungnya bergemuruh saat melihat bibir merah Aleta yang tampak menggoda padahal dia tidak memakai lipstik. juga leher jenjangnya yang seakan memancing hasratnya untuk menempelkan bibirnya ke leher yang sedang bersandar pada sebuah bantal.
Tanpa sadar Agra mendekat ke arah Aleta, dan langsung mengecup bibir Aleta yang kebetulan sedang sedikit terbuka.
Aleta yang kaget langsung membuka kedua matanya, dan disambut dengan wajah Agra yang sekarang tepat berada di hadapannya.
"ka.kau, apa yang kau lakukan?" Aleta menekan dada Agra yang semakin condong menghempit tubuhnya sementara Agra sendiri malah tersenyum sembari terus menatap Aleta.
"sayang, aku datang," ucap Agra sambil kembali mengecup bibir Aleta.
Deg. deg. deg. jantung Aleta serasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya, dia merasa kaget sampai tidak memberi reaksi apa pun pada lelaki itu.
"ck. ck. segitu sukanya ya kau ku cium sampai tidak sadarkan diri seperti itu," seru Agra sambil menahan senyumnya.
Mendengar suara Agra membuat Aleta kembali mendapatkan kesadarannya, dia lalu menatap Agra dan tatapan nya itu langsung berpusat pada bibir lelaki itu.
"beraninya bibir bekas medusa mencium bibirku," teriak Aleta sambil melompat dari ayunan yang sedang dia naiki.
"apa ! medusa?" ucap seseorang yang sedang mendekat ke arah mereka.
•
•
•
TBC.
duuh siapa ya yang sedang berjalan ke arah mereka ?
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘