Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 121. Permintaan Gila


__ADS_3

Agra yang melihat Daffi sedang merangkak di samping ranjang langsung mengangkat tubuh sang putra, dia lalu mendudukkan Daffi di atas ranjang.


"kenapa? hm?" seru Agra sembari mengecup gemas pipi gembul Daffi.


"kenapa kau ada di sini? kau melarikan diri dari babbysittermu?" tanya Agra sembari memicingkan matanya.


"uwa, uwa," jawab Daffi dengan menggunakan bahasa yang hanya diketahui oleh anak seusianya.


"apa? kau benar-benar melarikan diri dari mereka" teriak Agra seolah-olah mengerti dengan jawaban sang putra.


"uwa, uwa, uwa,"


"Huh, dasar kau ya. Masih kecil sudah main kabur-kaburan, nanti besar mau jadi apa?" Agra menunjuk tepat di depan wajah Daffi membuat putranya itu menggigit tangannya.


"aw..., lihat! dibilangin malah melawan ya," seru Agra sembari menggelitik perut Daffi membuat putranya itu menggelinjang penuh tawa.


Tanpa Agra sadari, sejak tadi Aleta merekam segala tingkah yang dia lakukan. Lalu Aleta mengirim video itu ke semua keluarganya.


"sayang, kita bisa terlambat!" seru Aleta setelah berhasil merekam video suami dan anaknya.


"ingat ya Daffi, kau harus di rumah saja. Enggak boleh melarikan diri. oke, paham?" seru Agra seperti seorang guru yang sedang mengajari muridnya, dan dengan ajaibnya, Daffi mengenggukkan kepala seakan-akan paham dengan ucapan sang Ayah.


Kemudian Agra dan Aleta berangkat bekerja dengan menggunakan mobil yang sama, mereka sudah tidak pernah lagi dijemput oleh Felix.


"oh ya sayang, nanti sore aku mau bertemu sama kak Margaret. Jadi aku pulangnya agak malam ya," ucap Aleta meminta izin, ada sesuatu yang harus dia selesaikan dengan Margaret.


"kenapa? apa kau mau bertanya soal hubungan Margaret dan kakakmu?" tebak Agra tepat sasaran, Aleta menganggukkan kepalanya untuk menjawab tebakan Agra.


"kenapa kau semangat kali sih menjodohkan mereka?" tanya Agra kembali, istrinya itu sudah seperti dewi cinta.


"kenapa? apa kau enggak setuju?" tanya Aleta dengan tajam.


"kenapa aku tidak setuju?"


"iya karna Margaret itu, mantanmu!" ketus Aleta membuat Agra langsung melihatnya dengan tajam.


"mantan apa sih?" cibir Agra yang pura -pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Cih." Aleta hanya mendengus sebal saat mendengar ucapan dari Agra, sementara Agra menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Tidak berselang lama, mobil Agra sudah sampai dirumah sakit, Aleta segera keluar dan bergegas masuk karna memang dia sudah hampir terlambat.


Agra sendiri juga langsung menjalankan mobilnya untuk segera sampai ke perusahaan, di mana Felix pasti sudah menunggu kedatangannya.


"selamat pagi, Tuan," sapa Felix sembari menundukkan kepalanya, Agra hanya mengangguk kepala untuk membalas sapaan Felix.


"Tuan, pemimpin Lesyan Company meminta untuk bertemu dengan Anda," ucap Felix setelah mereka berada di dalam ruangan.


"Lesyan? untuk apa mereka meminta bertemu?" tanya Agra dengan bingung, biasanya kalau dalam urusan bisnis, mereka pasti akan mengatur janji terlebih dahulu.


"saya tidak begitu tau Tuan, tapi kemungkinan mereka bertemu bukan karna bisnis," ucap Felix kemudian.


Lalu Agra memerintahkan Felix untuk bertemu pada saat jam makan siang dengan mereka, dia sedikit penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Setelah berkutat dengan segudang pekerjaan, Felix masuk ke dalam ruangan Agra untuk mengajaknya makan siang.


Mereka lalu pergi kesebuah restoran yang sudah terlebih dahulu disiapkan oleh sekretarisnya itu.


"selamat siang, Tuan Agra," ucap seorang wanita yang saat ini sedang berdiri untuk menyambut kedatangan Agra.


"selamat datang, Tuan Agra. Silahkan duduk," ucap Lexi sembari mempersilahkan Agra dan Felix untuk duduk, lalu para pelayan mulai menyajikan makanan dan minuman ke atas meja.


"sebelumnya saya minta maaf, karna sudah mengganggu waktu Tuan. Saya hanya ingin mengajukan sebuah proyek kapal pesiar bersama dengan anda," ucap Lexi lagi, dia melirik ke arah Lesya yang sedang tersenyum dengan ceria.


"wah, saya tidak menyangka kalau Anda tertarik dengan bisnis kapal pesiar," seru Agra, biasanya Lesyan company hanya berbisnis dalam hal perhotelan dan yang lainnya.


"kami ingin melebarkan sayap usaha kami Tuan, dan kami berharap agar Tuan bersedia untuk kerja sama dengan kami," ucap Lexi.


Agra terlihat memikirkan semuanya, selama berbisnis dengan Lesyan company, memang selalu berajalan baik dan menghasilkan keuntungan yang berlimpah.


"Baiklah, ayo kita bekerja sama!" Agra menyodorkan tangannya dan dijawab langsung oleh Lexi.


Lesya yang sejak tadi menjadi pendengar budiman melebarkan senyumnya, semua rencana yang sudah dia siapkan harus berjalan dengan sempurna.


"Dan, saya ingin meminta tolong satu hal pada Anda, Tuan," ucap Lexi dengan pelan, sebenarnya dia sudah tidak ingin ikut campur masalah sang adik, tetapi adiknya itu selalu merengek membuatnya tidak tega untuk diam.

__ADS_1


"katakan saja! jika saya bisa, pasti akan saya bantu," balas Agra, dia mengambil minuman di atas meja dan segera meminumnya.


"saya ingin meminta bantuan Tuan, untuk menjodohkan Dareen dengan adik saya,"


Byur, air yang baru saja masuk ke dalam mulut Agra langsung berhamburan keluar membuat Lesya yang saat ini ada dihadapannya memekik kaget.


"astaga, apa yang terjadi sih?" jeritnya sembari mengusap wajah yang sudah basah terkena semprotan Agra, sementara yang lainnya menahan senyum saat melihat semua itu.


"apa maksud anda, Tuan Lexi?" tanya Agra tanpa menghiraukan kemarahan Lesya, dia menatap tajam pada Lexi membuat lelaki itu menjadi gugup.


"itu-"


"saya sangat mencintai Dareen Tuan, jadi saya mohon agar Anda mau membantu saya," potong Lesya, dia melirik sang kakak yang mencubit tangannya di bawah meja.


"Hah? menolongmu? hahaha." Tawa Agra pecah begitu saja saat mendengar ucapan wanita itu, dia tidak habis pikir dengan perbuatan yang kakak dan adik itu lakukan.


"Jadi, kalian menawariku proyek besar supaya aku menjodohkan kakak iparku dengan dia?" Agra menunjuk tepat ke arah Lesya membuat wanita itu sedikit takut.


"Bukan begitu Tuan, kami hanya mengutarakan niat baik kami. Kalau masalah Lesya dan Dareen mungkin biar mereka sendiri yang menyelesaikannya."


Lesya menatap sang kakak dengan tajam, sudah susah-susah bertemu dengan Agra malah dilepas begitu saja sedangkan Lexi lebih memilih jalan aman. Dia tidak mau hubungan bisnisnya dengan Agra hancur gara-gara Lesya.


"Jika Anda benar-benar mencintainya, maka berjuanglah. Bukan dengan cara seperti ini!" Agra menggeleng-gelangkan kepalanya karna berpikir masih ada saja wanita zaman sekarang yang melakukan hal seperti itu.


Lesya semakin kuat meremmas jemarinya yang saling bertautan, dia menundukkan kepala dengan perasaan campur aduk saat ini.


"jika aku bisa mendapatkan Dareen, tidak mungkin aku meminta bantuanmu. Dasar laki-laki brengsek," ingin sekali Lesya memukul mulut Agra yang sudah bicara sembarangan.


"sayang, sepertinya percintaan kakakmu sangat berat,"





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2