
Agra terus melihat kearah Aleta walau gadis itu enggan untuk melihatnya. lalu dia mendekat kearah Aleta yang masih berada di dalam selimut.
"apa yang kau lakukan ?" tanya Agra dingin. dia berdiri tepat dihadapan Aleta. tentu dia sudah menggunakan pakaian lengkapnya.
"tuan, seharusnya saya yang bertanya pada tuan. kenapa tuan tega memperkosa saya ?" Aleta kembali berakting. dia memang pantas menjadi artis karna aktingnya yang sangat luar biasa.
"memperkosa kau bilang...." Agra menggertakkan giginya sembari mendekat ke arah Aleta. dengan sigap Aleta mengepalkan tangannya untuk jaga-jaga kalau Agra berani memukulnya.
"kau yang menjebakku," ucap Agra dengan tajam. dia tidak mungkin memperkosa seorang wanita.
"jangan sembarangan ya tuan," teriak Aleta pura-pura emosi.
"heh kau dengar ya, aku tidak tertarik sedikitpun pada bocah sepertimu," ucap Agra.
"aku tidak peduli, yang jelas kau harus bertanggung jawab." Aleta menekankan kata bertanggung jawab padanya.
"hahahahha...." seketika Agra tertawa mendengar perkataan Aleta. lalu dengan cepat Agra mencengkram wajah Aleta dengan kuat.
"kau dengar ya, kalau sampai aku mendapatkan bukti penjebakanmu maka aku akan menghancurkanmu dan juga seluruh keluargamu," ucap Agra tepat ditelinga Aleta. lalu dia melepaskan cengkraman tangannya dan berlalu ke luar dari kamar itu.
Seketika Aleta menjadi lemas. dia merasa seperti keluar dari kandang singa tapi masuk ke dalam kandang harimau. dia segera mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi teman-temannya.
"Ale..., " panggil Lusi dan temannya yang lain sambil masuk ke dalam kamar itu. Aleta yang tadi berniat untuk menghubungi mereka pun meletakkan kembali ponselnya.
Rupanya Lusi dan yang lainnya menginap disebelah kamar Aleta. mereka juga memantau apa yang terjadi antara Aleta dan juga Agra.
"bagaimana ini, kalau sampai kita ketauan matilah kita," ucap Aleta.
"tenang saja, temanku sudah membereskan semuanya. sekarang kau pakai dulu lah baju mu, nanti masuk angin," ucap Lusi sambil menyuruh Bima dan Juga Egi keluar dari kamar itu.
"duuh Lusi, aku takut." Aleta benar-benar merasa tidak tenang.
__ADS_1
"semua udah terjadi. yang penting kau nikah dulu sama Agra, soal yang lainnya pikirkan belakangan," ucap Lusi sambil keluar dari kamar itu diikuti oleh Aleta.
Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan hotel yang menjadi saksi bisu penjebakan yang telah mereka lakukan pada Agra.
Pada saat yang sama, Agra menelpon Felix dan menyuruhnya untuk datang ke apartemen. dia harus segera mencaritau sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan Aleta.
"ada apa tuan, kenapa pagi-pagi menyuruh saya datang ke sini ?" tanya Felix. dia yang tadi masih tidur langsung bergegas mandi dan tancap gas ke apartemen bosnya.
"Felix, cepat selidiki tentang apa yang terjadi tadi malam," perintah Agra. sedangkan Felix tidak mengerti dengan apa yang diperintahkan bos nya itu.
"tadi malam aku dijebak oleh seorang bocah, dan aku harus menikahinya," jelas Agra.
"apa ! dijebak ?" teriak Felix.
"kau mau buat aku tuli Felix," ucap Agra sambil menggosok telinganya yang berdengung akibat teriakan sekretarisnya itu.
"maaf tuan, tapi kenapa tuan bisa dijebak ?" tanyanya lagi. dia merasa kaget, baru kali ini ada yang berani menjebak tuannya. dan yang lebih kagetnya lagi yang menjebaknya adalah seorang bocah.
"baik tuan." Felix langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada tuannya itu.
"awas aja kau gadis kecil. beraninya kau bermain-main denganku." Agra menggeretakkan giginya menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya.
Sementara itu, Aleta yang sudah sampai di rumahnya langsung berjalan ke arah kamar. walaupun rencananya berjalan lancar, tapi hatinya malah semakin tidak tenang.
Brak. tiba-tiba pintu kamar Aleta dibuka dengan kuat oleh seseorang. siapa lagi kalau bukan mama Deeva, dia terkejut saat bik Eni bilang bahwa Aleta sudah pulang.
"astaga ma, bikin kaget aja," gerutu Aleta sambil menatap tajam pada mamanya.
"kok pulangnya pagi-pagi gini ? liat masih gelap." tunjuk mama Deeva pada jendela yang memang menampakkan suasana diluar sana masih gelap.
"yah karna mau pulang cepat aja. udah ah mau keluar sana." Aleta mendorong tubuh mamanya sampai melewati pintu kamar.
__ADS_1
"dasar anak ini...," gerutu mama Deeva saat anaknya mengusirnya keluar.
"hais, udah lah. bener kata Lusi, yang penting aku nikah dulu, urusan yang lain pikirin belakangan." Aleta merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan tak butuh waktu lama untuknya memasuki alam mimpi.
Aleta tidak tau sudah berapa lama dia tertidur, namun cacing-cacing diperutnya sudah berdemo minta dikasi makan. dia lalu bangun dan beranjak ke kamar mandi.
Ketika Aleta ingin ke dapur untuk mengambil makanan, dia dikejutkan dengan sosok pria yang sudah duduk di ruang tamu rumahnya bersama dengan orangtuanya.
"Aleta... kesini," panggil mama Deeva yang melihat Aleta berdiri di tangga.
"apa yang dilakukan Agra disini ?" Aleta kembalu cemas saat melihat Agra ada di rumahnya.
Karna tidak ada reaksi apa pun dari putrinya itu, mama Deeva beranjank untuk mendekatinya.
"kok malah bengong sih, ayo." mama Deeva menarik tangan Aleta untuk bergabung bersama mereka diruang tamu.
"waah, kau baru bangun sayang," ucap mama Lena. dia itu adalah mamanya Agra.
Aleta hanya menyunggingkan senyuman saja, dengan kecanggungan yang luar biasa tentunya. lalu dia segera duduk di samping Dareen yang sejak tadi menatap tajam padanya.
"habis lah aku," Aleta tidak ingat dengan Daareen. kakaknya itu pasti akan sangat marah kalau mengetahui apa yang dilakukannya.
Sedangkan di sisi lain, ada Agra yang juga menatapnya dengan sangat tajam. jadilah Aleta hanya menundukkan kepalanya sembari meremas tangannya yang sudah berkeringat.
☆☆☆☆
**kira-kira untuk apa ya keluarga Agra datang kerumah Aleta ?
terus gimana tanggapan keluarga Aleta saat mengetahui semuanya** ?
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1