
Agra masih terlihat mematung di dalam mobil sementara Aleta sudah berjalan meninggalkannya. Dia masih memikirkan apa yang Aleta ucapkan, namun otaknya langsung terfokus pada kata-kata akan memuaskan yang membuat dia langsung keluar dari mobil dan menyusul langkah Aleta yang sudah masuk ke dalam lift.
Sesampainya di Apartemen, Aleta segera masuk dan berlalu ke dapur untuk mengambil minuman. Dia sudah merasa haus sedari tadi, dan matanya menangkap puding buah yang ada di dalam kulkas. Aleta segera mengambilnya dan menikmati puding buah tersebut.
Tak berselang lama, datanglah Agra dengan langkah cepat menghampiri istrinya yang sedang menikmati makanan sembari bersandar di depan kulkas.
Agra langsung menarik tangan Aleta hingga puding yang sedang dia pegang terjatuh ke lantai, membuat Aleta kesal karna puding kesayangannya jatuh dengan sia-sia.
"apa yang kau-" Aleta tidak bisa melanjutkan ucapannya karna mulutnya sudah di bungkam oleh mulut Agra.
Agra ******* bibir Aleta dengan rakus sembari tangannya terus berkeliaran di dada istrinya. Aleta memberontak berusaha melepaskan ciuman panas mereka, namun tenaga Agra jauh lebih kuat sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"A-Agra eeemmp le-"
"Hoek.... hoek...." Agra memuntahkan seluruh isi perutnya tepat ke tubuh Aleta membuat wanita itu kaget karna bau yang menyengat dari muntahan Agra.
"dasar gila! apa yang kau lakukan?" teriak Aleta sembari menutup hidung dan bibirnya menjauh dari Agra. Dia sudah mual karna muntahan Agra yang menempel di seluruh tubuhnya.
"A-aku tidak ta- hoek.... hoek...." Agra kembali muntah membuat Aleta juga ikut muntah karna melihat itu semua.
Aleta dan Agra muntah secara berjamaah, mereka terus berbalas-balasan mengeluarkan semua cairan yang ada diperut mereka sampai merasa lemas dan terduduk di atas lantai.
"Aleta, kau tidak apa-apa?" tanya Agra yang melihat Aleta bersandar disebuah kursi.
"tidak apa-apa, paling sebentar lagi jim," jawab Aleta dengan lemas. Agra membulatkan matanya mendengar ucapan sang istri, dia lalu bangkit dan menggendong tubuh Aleta walaupun dengan kaki yang gemetaran.
Ruangan dapur yang semula bersih berubah menjadi kotor dan menjijikkan, ditambah lagi dengan bau yang menyengat memenuhi seluruh ruangan itu.
Agra merebahkan Aleta diranjang dengan sangat hati-hati, dia melihat penampilan istrinya sudah kacau balau sama seperti dirinya sendiri. Agra segera menelpon Bik Nani untuk datang ke apartemennya, biasanya pembantunya itu akan datang saat pagi saja untuk membersihkan apartemen itu.
Selesai dengan urusannya, Agra memutuskan untuk membawa Aleta ke kamar mandi guna membersihkan tubuh istrinya beserta tubuhnya sendiri.
Aleta terbangun saat Agra membersihkan seluruh tubuhnya, dia memandang sayu pada suaminya itu.
"Sayang, kau sudah bangun." Agra mengecup bibir Aleta sembari membersihkan tubuhnya. Aleta hanya terbengong melihat semua itu, otaknya belum bisa mencerna semua yang terjadi pada suaminya.
__ADS_1
"kenapa kau sampai muntah seperti itu sih," sinis Aleta saat kembali mengingat adegan muntah berjamaah mereka.
"itukan karna kau!" ketus Agra sembari membuang muka.
Aleta menggeretakkan giginya menahan kekesalan, "kenapa kau malah menyalahkanku?"
"mulutmu itu tidak enak, buat aku muntah," terang Agra sembari bangun dari dalam bathtub.
"tidak enak kau bilang?" teriak Aleta saat Agra sudah keluar dari kamar mandi. Aleta segera menyelesaikan mandinya dan berlalu menyusul sang suami.
"Apa maksudmu sebenarnya?" Aleta menghalangi Agra yang akan membuka lemari, dia bersandar tepat di pintunya.
"kau tadi tidak gosok gigi ya?" tuduh Agra sembari kembali mencium bibir Aleta dan sekilas memasukkan lidahnya ke dalam untuk merasai mulut Aleta.
"emm enak kok," ucapnya lagi dengan heran.
Aleta menutup mulutnya dengan tangan karna tersinggung dengan ucapan Agra, dia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan berulang kali menghembuskan nafas dari mulutnya untuk mencium aroma yang berasal dari mulutnya sendiri.
"wangi tapi," gerutu Aleta sembari mengingat-ingat apakah tadi pagi dia gosok gigi atau tidak. Lalu tiba-tiba suara teriakan Agra terdengar, membuatnya bergegas keluar dari kamar mandi.
Belum sempat Agra menjawab, suara panggilan dari Bik Nani terdengar sembari ketukan di pintu kamar mereka.
"ada apa Bik?" tanya Agra setelah membuka pintu kamarnya.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" Bik Nani sangat kaget melihat keadaan dapur apartemen Agra, apalagi melihat seluruh tumpahan yang ada di lantai membuatnya ikut mual saat melihat itu.
"aku enggak tau bik, tiba-tiba kami muntah," jawab Agra dengan gelengan kepalanya.
Raut wajah Bik Nani terlihat sangat bingung, namun dia memilih untuk segera membersihkan dapur sebelum baunya menyebar ke seluruh penjuru apartemen.
Agra merebahkan tubuhnya ke atas ranjang mengikuti Aleta yang sudah bergelung di dalam selimut. Aleta merasa sangat lemas tak bertenaga karna kejadian tadi, apalagi dengan pengakuan Agra yang membuat kepercayaan dirinya menjadi hancur.
Agra sendiri juga sedang memikirkan semua yang terjadi, dia menduga-duga apa mungkin dia memang benar-benar ketempelan? apalagi beberapa hari ini emosinya terus naik turun, dan kejadian yang beberapa waktu tadi benar-benar mengusik pikirannya.
"Kenapa aku bisa muntah kayak gitu? kenapa mulut Aleta benar-benar tidak enak? padahal barusan aku mencium bibirnya, dan itu sangat nikmat," Agra mengacak-acak rambutnya frustasi, dia benar-benar pusing dengan semua yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Karna sudah merasa sangat lelah, Agra memilih untuk tidur dan memeluk Aleta dengan erat seraya mengecup seluruh wajah istrinya itu, dan berlalu menuju alam mimpi.
****
Dua bulan berlalu dengan sangat berat, Agra selalu saja mual dan muntah tanpa alasan. Kadang dia muntah hanya dengan mencium parfum Aleta, atau kadang karna aroma masakan yang menusuk indra penciumannya.
Aleta sendiri sudah sangat lelah mengurus Agra, kadang suaminya itu sangat manja, tapi kadang juga sudah emosi tak beralasan membuatnya kesal setiap waktu.
Sama seperti hari ini, Aleta tengah bersiap untuk berangkat ke kampus namun Agra tidak mengizinkannya. Dia memeluk tubuh Aleta dengan erat dan memohon agar wanita itu tidak meninggalkannya.
Aleta semakin tidak mengerti, dia sudah berencana untuk membawa Agra ke psikolog guna memeriksakan kondisi suaminya.
"sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku," pinta Agra sembari memeluk Aleta dengan erat.
"Agra, aku mau ke kampus. Bukan mau jalan-jalan," jelas Aleta sambil menahan kekesalannya.
"tidak boleh!" Agra tetap tidak melepaskan pelukannya membuat Aleta geram. Dia lalu memegang wajah Agra, dan menciumnya dengan bertubi-tubi agar lelaki itu mau melepaskannya.
"baiklah, kau boleh pergi. Tapi nanti siang kau harus datang ke kantor untuk makan siang bersamaku," setelah perjuangan yang sangat panjang, akhirnya Agra melepas kepergian Aleta sedangkan dia sendiri juga bersiap untuk ke perusahaan.
"ya tuhan, aku sudah tidak sanggup lagi!" teriak Aleta saat berada di dalam mobil.
"aku harus segera membawa Agra ke dokter sebelum kegilaannya semakin parah," gumam Aleta sembari mencengkram kuat kemudi mobilnya.
•
•
•
TBC.
menurut kalian, sebenarnya apa yang terjadi pada Agra ? 🤔
Yuk Like dan Komen yg banyak, VOTE dan Rating 5 ya, jgn lupa HADIAH juga. 🥰
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘