Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 14. Bertemu dilampu Merah


__ADS_3

Egi menyeret teman-temannya yang sudah tidak waras itu keluar dari kafe. sedangkan Aleta yang baru sadar langsung menghajar Bima dengan seluruh kekuatan jiwa dan raganya.


"sialan. kuarang ajar." teriak Aleta sambil terus memukuli temannya itu.


"duuh apa sih... kenapa menganiaya aku." Bima berlari sembunyi dibalik tubuh Egi.


"udah udah. kalian ini gak ada malu-malu nya ya." Egi melerai perkelahian mereka.


"awas kau ya." tunjuk Aleta pada Bima. Bima hanya cengengesan saja dibalik tubuh Egi.


Tiba-tiba Aleta kembali mengingat adegan panas pada video tadi dan itu berhasil membuat wajahnya merah padam.


"duuh lupakan lupakan..." Aleta mengibas-ngibaskan tangannya kedepan wajah.


Kemudian mereka memutuskan untuk pergi ketaman kota sambil menikmati suasana sore yang cerah hari ini.


"jadi gimana dong ?" tanya Aleta kembali sambil meminum es kelapa muda yang sudah tersedia dihadapannya.


"apa..."


"diam kau !" Aleta memotong ucapan Bima. dia tidak mau lagi mendengar ucapan temannya yang sesat itu.


"coba aja deh pelan-pelan ngomong sama Agra itu." ucap Egi. dia mengusulkan untuk cari aman saja tanpa harus menggoda-goda.


Aleta terdiam untuk sesaat. memang dia harus mencoba untuk menemui Agra lagi dan memohon belas kasihannya.


"ya udah besok aku bakal ke kantor dia lagi." ucapnya kemudian.


"besok kita ada kelas Ale. sampai sore lagi." Lusi mengingatkan kalau mereka besok pasti akan sangat sibuk.


"iya ya. yaudah besok-besok deh." mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


☆☆☆


Keesokan harinya, terlihat Aleta sedang berlari-lari menuju ke kelasnya. jangan tanya kenapa dia seperti itu, sudah pasti karna dia bangun kesiangan.

__ADS_1


hah. hah. hah. dengan napas terputus-putus Aleta terus melajukan kecepatan larinya dan tiba-tiba, bruk. Aleta menabrak seorang pemuda dan langsung terjatuh diatas tanah.


"maaf mbak. saya tidak sengaja." ucap pemuda itu sambil membantu Aleta untuk berdiri.


"duuh gak papa mas. kalau orang ganteng pasti dimaafin." ucap Aleta sambil mengedipkan sebelah matanya. kemudian dia kembali berlari menuju keruang kelas.


"lucu juga gadis itu." gumam pemuda tadi.


Sesampainya dikelas Aleta langsung duduk bersama dengan teman-temannya yang sudah mencarikan tempat duduk paling belakang untuknya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 sore. Aleta segera membereskan buku-bukunya dan keluar dari ruang kelas. dia memutuskan untuk langsung pulang kerumah.


Namun saat berhenti dilampu merah, tanpa sengaja Aleta melihat kearah kanan dan terkejut melihat Agra tepat disampingnya. dia memutuskan untuk mengikuti mobil Agra agar bisa kembali berbicara dengannya.


Mobil Agra terlihat memasuki kawasan apartemen yang sangat mewah, dan berhenti ditempat parkir. dengan cepat Aleta juga memarkirkan mobilnya untuk mengejar Agra.


"tunggu..." teriak Aleta saat Agra akan menutup pintu liff.


Agra sangat terkejut melihat seorang gadis menerobos masuk kedalam lif, dan lebih terkejut lagi saat mengenali gadis itu.


"hah. hah. hah. sebentar." Aleta berusaha untuk mengontrol napasnya yang terputus-putus akibat mengejar Agra. dia sudah seperti pelari maraton yang kerjanya selalu berlari dan berlari.


Agra menunggu jawaban gadis itu sambil bersedekap dada. begitu juga dengan Felix yang ternyata ada ditempat itu.


"tuan Agra." Aleta memanggilnya dengan penuh kelembutan. wajahnya juga sudah dibuat supaya terlihat sangat manis dan menggemaskan.


"ada apa dengannya ?" kening Agra berkerut melihat apa yang dilakukan Aleta.


"tuan, bolehkah saya berbicara pada tuan ?" tanya Aleta sambil memasang mimik wajah yang memelas.


"tidak." Agra langsung menolaknya mentah-mentah.


"apa katanya... huh. sabar Aleta. sabar." Aleta mencoba untuk menarik napas menahan emosinya.


"saya mohon tuan. kasihanilah saya." ucapnya lagi sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.

__ADS_1


Agra tidak menghiraukankannya, dia membuang muka kearah samping. tiba-tiba liff terbuka dan Agra segera keluar dari sana. Aleta tak tinggal diam, dia terus mengikuti kemana langkah kaki Agra pergi.


"nona. pulanglah." ucap Felix. dia tau kalau tuannya itu sudah berkata tidak, maka tidak bisa diubah lagi.


"tuan. apa tuan tau kalau perusahaan itu adalah satu-satunya harta keluarga saya. kami menggantungkan hidup kami pada perusahaan itu. juga para karyawan kami.." Aleta mengucapkannya dengan keras sambil menahan bibirnya yang bergetar.


"apa tidak bisa sedikit saja tuan bersimpati pada kami." ucapnya lagi dengan lelehan air mata yang sudah tumpah diwajahnya.


Agra tidak melihat kearah Aleta karna memang dia tadi sudah akan masuk kedalam apartemen. namun suara Aleta menghentikan langkah kakinya yang hampir mencapai pintu.


"saya akan melakukan apa saja yang tuan inginkan asal tuan mau membantu saya." tambahnya lagi. sekilas wajah kedua orangtua dan kakaknya melintas dipikirannya. dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mereka.


huh. Agra membuang napas kasar. sebenarnya dia tidak tega dengan gadis yang sedang menangis ini. tapi dia memang paling malas untuk memperbaiki perusahaan yang sudah hancur lebur itu. lebih baik membuat yang baru dan menghempaskan segala parasit yang menjadi sumber kehancuran perusahaan yang lama.


"dengar. aku tetap tidak akan mengubah keputusanku. sudah ku katakan, bangunlah perusahaan yang baru maka aku akan membantu." ucapnya tanpa melihat kearah Aleta.


"dan satu lagi. bisnis tetaplah bisnis. tidak bisa disamakan dengan rasa simpati atau apapun itu. dan aku juga tidak ada hubungan apapun dengan kalian sampai harus memperbaiki semua kekacauan yang kalian lakukan." tambahnya dan langsung masuk kedalam apartemen.


Sebenarnya apa yang dilakukan Aleta saat ini seperti membuka luka lama dalam hati Agra. dia tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang dimanfaatkan untuk sesuatu hal. baik hati, pikiran dan jiwa raganya.


Sedangkan Aleta mematung ditempatnya dengan napas yang terasa tercekat ditenggorokan. air mata juga sudah terjun bebas diwajah cantiknya menyiratkan luka yang menusuk direlung hatinya.


Felix tetap berdiri disamping gadis itu. dia sedikit iba melihat keadaannya, tapi dia pun juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Aleta berbalik dan segera pergi meninggalkan apartemen itu. dadanya terasa sangat sesak. dia masuk ke mobil dan menumpahkan segala tangisnya.


"benar-benar laki-laki yang tidak punya perasaan." gerutunya.


"dan apa katanya tadi, tidak ada hubungan apapun dengan kami..."


"Agra Mahesa. aku akan membuat kau berhubungan denganku, dan juga dengan keluargaku."


"lihat saja. aku akan menjeratmu dan mengikatkan rantai diseluruh kehidupanmu." ucap Aleta penuh kebencian.


☆☆☆

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2