
"karna saya adalah kakaknya, Tuan,"
Tiba-tiba suhu diruangan itu mendadak jadi panas, padahal ada ac yang terpasang disudut ruangan namun orang-orang yang berada ditempat itu terasa seperti terbakar.
Agra melihat Felix dengan tajam, tangannya masih bertengger dikerah kemeja lelaki itu. Otaknya tengah berpikir keras dengan apa yang baru saja sekretarisnya itu ucapkan, lidahnya keluh tidak bisa untuk mengeluarkan kata-kata.
"kau, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?" lirih Agra sembari melepaskan cengkraman tangannya, dia mundur beberapa langkah menjauh dari tubuh Felix.
"Maafkan saya, Tuan." Felix menundukkan kepalanya, tangannya terkepal dengan jantung berdebar keras karna merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.
"maksudmu, kau kakak bajingan itu?" tanya Agra yang merasa dia sedang dipermainkan.
Felix hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Agra tanpa mengangkat kepalanya. Dia sudah tidak mampu lagi menunjukkan wajahnya dihadapan Agra saat ini.
"kau, kakak kandung Devo?" untuk sekali lagi Agra bertanya pada Felix yang dijawab dengan anggukan kepalanya.
Buak, buak, buak. "Bajingan! beraninya kau menipuku!"
Agra menghajar Felix dengan membabi buta membuat lelaki itu tersungkur di atas lantai, darah segar menetes dari mulut dan pelipis Felix yang saat ini masih saja menerima pukulan dari Agra.
Ricky dan Rezie yang melihat semua itu sontak berlari ke arah mereka berdua, Ricky berusaha menarik Agra agar bangkit dari tubuh Felix yang saat ini dihimpit oleh tubuh Agra.
"Agra, hentikan!" teriak Ricky yang saat ini tengah berusaha untuk memisahkan mereka.
"Lepaskan! biarkan aku membunuh bajingan ini!" Agra semakin tidak terkendali, dia menghajar Felix habis-habisan sementara Felix sendiri hanya diam dan tidak melakukan perlawanan.
Ricky dan Rezie menarik tubuh Agra dengan sekuat tenaga hingga akhirnya lelaki itu menjauh dari Felix yang sudah terkapar dengan wajah mengenaskan.
"Lepaskan aku! aku ingin membunuhnya! aku ingin membunuh penipu itu!" Agra memberontak membuat sikutnya menghantam wajah Rezie hingga dia meringis menahan sakit, sementara kakinya juga menendang tepat ke aset Ricky membuatnya mengerrang karna sakit yang teramat dalam.
Agra yang saat ini sudah terlepas dari teman-temannya kembali menghajar Felix, keringat yang bercampur dengan air mata tampak menetes diwajah lelaki itu.
Hatinya begitu sakit, jiwanya begitu terluka melihat orang yang sangat dia percayai lagi-lagi mengkhianatinya. Kisah lama kini terulang kembali, badai kekecewaan kembali menghantam kehidupan Agra hingga mengoyak seluruh perasaannya.
"kenapa? kenapa Felix? kenapa kalian benar-benar kejam padaku? hah!" teriakan Agra menggema diruangan itu membuat tiga manusia yang sedang menahan sakit terjingkat kaget.
"hentikan Agra! dia bisa mati karnamu," teriak Ricky yang sudah kembali normal, walau asetnya masih terasa berdenyut saat dia menggerakkan tubuh.
__ADS_1
"dia memang pantas untuk mati!"
Felix memejamkan matanya, dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika memang Tuannya itu ingin membunuhnya, maka dia siap untuk mati ditangan orang yang selama ini dia layani.
"ayah, maafkan aku yang tidak bisa lagi berada disisimu. Aku selalu mendo'akan agar Ayah dan Devo hidup bahagia. Tuanku, Agra. Aku mohon maafkan lah aku, aku telah banyak berbohong padamu, aku telah mengkhianati kepercayaanmu. Aku telah membuatmu kecewa, maafkan aku,"
Air mata Felix menetes dari sudut matanya dan mengalir ke lantai yang saat ini menjadi alas tubuhnya. Hatinya jauh merasakan sakit daripada tubuh yang saat ini masih dihajar habis-habisan oleh Agra.
Felix kembali teringat dengan percakapannya dan Devo kemarin malam....
Flashback.
Felix yang saat ini sedang berkutat dengan segudang pekerjaan merasa terganggu mendengar dering ponselnya, dia lantas meraih beda pipih itu yang tergeletak di atas nakas.
"Devo," gumam Felix seraya mengangkat panggilan dari adiknya.
"aku ingin bertemu denganmu," ucap Devo setelah Felix menjawab panggilannya.
"di mana?" tanya Felix sembari bangkit dan keluar dari ruang kerjanya.
"apa lagi yang dia rencakan," gumam Felix dan bergegas untuk masuk ke mobilnya.
Felix melajukan mobilnya menuju kesebuah tempat yang diinginkan Devo, pikirannya mulai menerka-nerka tentang apa yang akan adiknya itu lakukan.
Sekitar 45 menit, mobilnya sudah sampai diparkiran sebuah apartemen. Felix langsung turun dan bergegas ke lantai 7, tempat Devo berada saat ini.
Setelah sampai di depan pintu unit apartemen, Felix langsung memencet bel dan tak lama keluarlah Devo yang langsung membuka pintu lebar-lebar untuknya.
Mereka berdua masuk ke dalam dengan Devo yang berjalan terus sampai ke balkon. Felix hanya mengikuti langkah kaki Devo tanpa mengatakan apapun, dia masih menunggu Devo untuk membuka suara.
"kau tau, aku sering membayangkan kita duduk berdua memandang bulan yang bersinar cerah seperti malam ini," Devo mulai membuka suara, dia menyanggah kepalanya dengan tangan yang terletak dikedua lututnya. Matanya masih sibuk memandangi langit malam yang bersinar terang, dengan taburan bintang yang menambah kemewahan malam.
Felix masih terdiam, dia ikut memandangi suasana malam yang mulai larut. Semilir angin juga mulai berhembus menambah keheningan malam.
"kau tau Felix, aku benar-benar menbencimu. Bahkan sampai sekarang aku masih sangat membencimu," Devo mengungkapkan perasaanya, sebenarnya tanpa diungkapkan pun Felix sudah tau bagaimana perasaan lelaki itu.
"tapi, saat aku melihat perlakuanmu pada Ayah. Aku merasa bersyukur karna kau lah yang merawatnya selama ini. Mungkin jika itu aku, aku tidak yakin bisa memperlakukan Ayah lebih baik darimu,"
__ADS_1
Felix sedikit tersentak, dia beralih melihat ke arah Devo yang ternyata sedang melihat juga ke arahnya.
"terima kasih kak, terima kasih karna telah merawat Ayah dengan baik," ucapnya dengan senyum yang tampak benar-benar tulus.
Felix menjadi kaku, seluruh tubuhnya terasa tidak bisa digerakkan. Mulutnya terbuka namun tidak bisa mengeluarkan kata-kata, matanya terasa panas ingin segera mengeluarkan tangisan namun tak mampu untuk keluar.
Namun entah kenapa hatinya menjadi lega, rasa sesak yang setiap hari terasa menghimpit pernapasannya kini perlahan mulai menghilang. Beban besar yang selama ini berada dipundaknya, terasa terangkat saat mendengar apa yang adiknya itu katakan.
"aku memang tidak bisa membenarkan apa yang telah ku lakukan pada Agra, aku tau aku telah banyak menyakitinya. Namun aku juga tidak berdaya, seolah-olah ada bagian lain dalam hatiku yang memaksa aku untuk melakukan hal seperti itu. Jika aku tidak melakukannya, maka aku akan selalu gelisah," ungkap Devo, dia seperti 1 orang yang mempunya kepribadian ganda.
"apa yang terjadi? kenapa aku merasa kalau adikku memiliki kelainan?" Felix mulai berpikir tentang tingkah laku yang selama ini Devo lakukan.
"besok, aku akan membawa Aleta pergi dari negara ini,"
Duar, Felix langsung menatapnya dengan tajam seolah tidak menyangka kalau Devo masih saja ingin menghancurkan hidup Agra.
"aku tidak memaksamu untuk membantuku, terserah kalau kau ingin tetap setia pada Agra. Aku cuma mau meminta sedikit waktu, tolong biarkan aku bersama Aleta sebentar saja. Jika aku memang tidak bisa memilikinya, maka biarkan aku satu hari saja menghabiskan waktu bersamanya," pinta Devo membuat Felix tidak mampu untuk mengucapkan apa-apa.
Hatinya memberontak dengan apa yang adiknya itu inginkan, namun disisi lain dia seperti melihat mental sang adik yang jelas-jelas bermasalah.
Setelah mengatakan apa yang dia mau, Devo langsung mengusir Felix untuk keluar dari apartemennya. Dia ingin menghabiskan waktu seorang diri
Felix melangkahkan kakinya dengan gontai, dia tidak tau takdir apa yang sedang dihadapkan padanya saat ini.
Flashback end.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Yuk mampir ke karya terbatu othor, Cinta terakhir Zulaikha. Bantu dukungannya sayang 🤗
__ADS_1