
Setelah keluar dari lemari, Devo beranjak ke lantai dua rumah Mona untuk mengambil ponselnya. Dia mencari nama seseorang dan menelponnya.
"apa yang kau lakukan?" tanyanya pada seseorang di sebrang telpon.
"maksudmu?" tanya orang tersebut.
"untuk apa kau mengirim bajingan itu ke sini, hah?" bentaknya pada orang tersebut.
"Devo, jaga ucapanmu!" sentak orang itu lagi, dari nada bicaranya dapat dipastikan dia sedang emosi saat ini.
"kenapa kau selalu saja menggangguku? tidak bisakah kau menghilang dari kehidupanku?" teriak Devo, napasnya terlihat memburu karna emosi saat melihat seseorang yang bersama Agra tadi.
"aku ayahmu Devo! sudah sepantasnya aku mengurus putra-"
"Persetan dengan semua itu, aku tidak punya ayah! Aku hanya hidup sebatang kara didunia ini." Tut. Devo langsung mematikan panggilan telponnya, lalu dia membanting ponsel itu ke lantai sampai hancur tak bersisa.
"Felix, kau selalu saja ikut campur dalam urusanku," geram Devo sembari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, kepalanya sedang pusing saat ini.
Ditempat lain, Agra dan Felix sudah kembali ke perusahaan. Agra segera melanjutkan pekerjaannya sementara Felix sedang sibuk berkutat dengan ponselnya, dia sedang mengirim pesan pada seseorang.
Tak lama ponsel Felix berdering, terlihat Aleta sedang melakukan panggilan telpon padanya. Felix segera keluar dari ruangan agar Agra tidak bisa mendengar pembicaraannya dengan Aleta.
"halo Nyonya," jawab Felix setelah dia menjauh dari ruangan Agra.
"Felix, cepat kirimkan identitas Mona secara keseluruhan padaku!" perintah Aleta, sudah beberapa hari dia menunggu namun Felix tak juga mengirim apa yang dia minta.
"Nyonya, Tuan Agra tidak akan suka kalau Nyonya berurusan dengan Nona Mona," Felix mencoba untuk menghalangi Aleta, dia tidak mau usaha yang telah dia lakukan selama ini jadi sia-sia.
"dia lebih tidak suka kalau aku berhubungan denganmu! sudah cepat kirim!" Aleta sudah merasa geram di sebrang telpon, dia sampai meninju lengan Lusi yang sedang duduk di sampingnya.
"gila ya!" teriak Lusi yang terdengar sampai ketelinga Felix.
"apa dia mengundang semua pasukannya?" Felix benar-benar takjub dengan Aleta beserta teman-temannya.
"Felix, apa kau mendengarkanku?"
"I-iya Nyonya, saya akan segera mengirimkan datanya." Tut. panggilang itu langsung diputus setelah Felix mengatakan akan mengirim identitas Mona.
"kalau sampai Nyonya Aleta membuat keributan, itu akan menggagalkan rencanaku," gumam Felix. Dia segera kembali keruangan sebelum tuannya itu mencari keberadaannya.
__ADS_1
****
Aleta dan teman-temannya sudah berkumpul di apartemen, mereka duduk diruang tamu sembari menikmati makanan dan minuman yang sudah disuguhkan oleh Bik Nani.
"bagaimana? apa Felix sudah mengirimnya?" tanya Lusi sembari bersandar disandaran sofa.
"kita tunggu saja, kalau sampai dia tidak mengirimnya maka aku akan langsung datang ke sana," ucap Aleta dengan geram, cukup susah membujuk lelaki itu untuk menuruti ucapannya.
Kling, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu mereka datang juga. Sebuah file yang menjelaskan identitas Mona terpampang jelas dilayar ponsel Aleta.
"wah, rupanya dia anak dari pemilik Mall yang ada di kota ini ya," seru Bima saat membaca identitas wanita itu.
"lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Lusi pada Aleta yang masih khusyuk membaca semua file yang dikirim Felix.
"entahlah," jawab Aleta tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Teman-temannya berdecak kesal saat mendengar jawaban Aleta, wanita itu masih belum memikirkan cara untuk menghempaskan Mona.
"loh, siapa ini?" seru Aleta tiba-tiba yang sedang melihat sebuah potret seorang lelaki sedang melihat pemandangan pantai. Sontak semua teman-temannya langsung merapatkan duduk mereka untuk melihat apa yang sedang Aleta lihat saat ini.
"tunggu, bukannya ini pria yang pernah menemui kita di kampus?" celetuk Egi yang masih mengingat wajah pria itu dengan jelas.
"kenapa Felix punya foto pria itu?" ucap Aleta, karna foto yang saat ini sedang mereka lihat adalah kiriman dari Felix.
"apa mungkin Felix suka sama pria itu?" tuduh Lusi membuat semua teman-temannya melotot karna ucapannya.
"sembarangan! mulutmu itu dijaga!" bantah Aleta dengan cepat, untung saja tidak ada Felix ditempat itu. Kalau tidak sudah habis dia dibuat oleh lelaki yang jarang sekali tersenyum itu. Lusi hanya cengengesan saja mendengar ucapan dari temannya.
"Ayo, kita harus berkunjung ke rumahnya!" ajak Aleta sembari bersiap mengambil tas ke dalam kamar.
"tunggu, apa kau gila? ngapain kita datang ke rumahnya?" teriak Lusi yang tidak setuju untuk datang ke rumah Mona. Egi dan Bima juga setuju dengannya, untuk apa kita datang kerumah pelakor itu, pikir mereka semua.
Aleta berkacak pinggang di atas tangga, dia menggeleng-gelangkan kepalanya melihat teman-temannya yang tidak ahli dalam hal seperti ini.
"Harus kita dulu yang mendatangi musuh, supaya dia tau kalau kita ini tidak lemah." Aleta meneruskan langkah kakinya untuk menuju kamar.
Lusi dan kedua temannya hanya terdiam dengan mulut terbuka mendengar apa yang Aleta ucapkan, mereka masih belum mengerti dengan tujuan Aleta menemui wanita itu.
"benar! kita harus memberinya tekanan supaya tidak berani macam-macam," celetuk Lusi tiba-tiba saat sudah mendapat pencerahan dari Tuhan.
__ADS_1
Karna tak mau ambil pusing, Egi dan Bima memilih untuk mengikuti apa yang mereka ucapkan. Lalu bergegas pergi ke rumah Mona saat ini juga.
"kalian nanti diam saja ya, biarkan aku yang menghadapinya," ucap Aleta dalam perjalanan.
"kok diam saja? nanti kalau dia menyerangmu gimana?" tanya Egi yang khawatir dengan bumil itu, apalagi saat ini perut Aleta sudah sangat besar.
"dia enggak akan berani," ucap Aleta dengan yakin, namun hatinya juga marasa sedikit was-was.
"baiklah, terserah kau saja," akhirnya semua teman-teman Aleta mengiyakan apa yang dia mau.
Sekitar 35 menit diperjalanan, mobil yang mereka kendarai sudah sampai didepan rumah yang mereka yakini adalah rumah Mona.
Aleta beserta pasukannya segera turun untuk segera bertemu dengan sih pelakor. Namun saat baru selangkah meninggalkan mobil, Bima menarik tangan Aleta yang membuat mereka menghentikan kakinya.
"Ale, malu bertanya sesat dijalan loh," ucap Bima tiba-tiba membuat ketiga temannya itu mengerutkan kening karna tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
"lebih baik kita tanya dulu sama orang disekitar sini, betul apa tidak kalau ini adalah rumah Mona," jelas Bima lagi, teman-temannya sampai takjub dengan pemikirannya yang pintar.
Egi segera pergi untuk menanyakan pemilik dari rumah tersebut, dan tak butuh waktu lama dia sudah kembali bersama mereka lagi.
"benar, ini rumah Mona," ucapnya pada mereka.
Mereka berempat segera berjalan ke arah rumah bercet putih itu dengan semangat, Lusi sampai menggulung lengan bajunya seperti para pelajar yang mau tawuran.
Aleta sudah bersiap untuk memencet bel, namun belum sempat tangannya itu menyentuh bel tiba-tiba seorang lelaki keluar dari rumah Mona beserta Mona juga di belakangnya.
"kau!" ucap Aleta dan Devo bersamaan, sementara yang lain membulatkan mata mereka, terutama Mona yang sudah hampir jatuh pingsan saat melihat keberadaan Aleta di depan rumahnya.
•
•
•
TBC.
Terima Kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru buat baca 😘
__ADS_1