
Setelah kepergian Dareen dan Margaret, keluarga Aleta dan juga Agra masih setia berada di ruangan itu. Mereka menghabiskan waktu dengan bersenda gurau, sesekali membahas tentang janin yang sedang dikandung oleh Aleta.
"sayang, sudah berapa bulan kandunganmu?" tanya Mama Lena yang sedang duduk di sofa bersama yang lainnya.
"emm..., berapa ya?" Aleta melihat ke arah Agra, dia lupa entah sudah berapa bulan kandungannya saat ini.
"Emm..., 20, ya-ya 20 minggu." Agra mengangguk-anggukkan kepalanya mengingat usia kandungan sang istri.
"gimana sih kalian berdua ini? bisa-bisa nya hal penting kayak gitu gak ingat!" sembur Mama Deeva, dia sampai berdiri dan meletakkan tangannya dipinggang.
Mama Lena juga ikut-ikutan marah, dia menarik telinga Agra sampai anaknya itu mengaduh kesakitan dan minta dilepaskan.
"Ma, telinga suami aku bisa lepas nanti," seru Aleta sambil terkikik geli melihat wajah Agra yang meringis menahan sakit.
Mama Lena melepas tarikan tangannya yang maha dahsyat. "Suami macam apa kau itu!"
Dia kembali menghempaskan pantatnya ke sofa, namun ternyata pendaratannya tidak tepat dan malah membuatnya terjerembab di atas lantai. Sontak semua tertawa saat melihat itu, sementara Papa Abi berusaha untuk membantu sang istri sembari menahan tawa yang hampir lepas dari mulutnya.
Mama Lena menggerutu sambil mengusap-usap bokongnya yang terasa sakit, dia melirik ke arah Agra dan juga Aleta yang terlihat menundukkan kepala dengan bahu gemetar akibat tertawa sedangkan Mama Deeva dan Papa Arsen memalingkan wajah ke arah samping. Mereka takut menginggung perasaan besannya itu.
Lena mencebikkan bibirnya, bisa-bisanya dia terjatuh saat sedang seperti ini.
"Duduk Ma, jangan berdiri terus." Papa Abi menepuk sofa yang ada di sebelahnya dengan tetap menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang masih saja ingin terlepas.
"ketawa terus mulutmu itu, Agra!" sungut Mama Lena yang merasa kesal sekaligus malu.
Agra dan Aleta hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah orangtuanya yang memang tidak ada lawan.
Kemudian Papa Arsen pamit untuk berangkat ke kantor, begitu juga dengan Papa Abi. Agra sendiri memilih untuk tidak masuk ke perusahaan, dia ingin menjaga Aleta di rumah sakit.
****
Di tempat lain, seorang wanita tengah bersiap untuk pergi kesuatu tempat. Dia berdandan sangat cantik bak seorang model, dia berlenggak-lenggok di depan kaca untuk melihat penampilan paripurnanya.
Setelah dirasa cukup, wanita itu mengambil tas dan berlalu keluar dari dalam kamarnya.
"mau kemana kamu?" tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk disofa ruang tamu.
"loh, Papa di sini?" tanya Mona yang kaget melihat keberadaan sang ayah di rumahnya.
__ADS_1
"Papa baru aja sampai. Tapi, mau ke mana kamu pagi-pagi gini?" dia memperhatikan penampilan Mona yang sangat berlebihan menurutnya.
"aku ingin menemui Agra," jawab Mona sembari berjalan ke arah pintu.
Papa Edi langsung berdiri dari duduknya saat mendengar jawaban Mona, dia lalu mengejar langkah Mona yang sudah keluar dari rumah.
Papa Edi mencekal tangan Mona membuat wanita itu berbalik dan melihat dengan tatapan bingung.
"mau apa lagi kau dengannya?" tanya Papa Edi yang sangat tidak suka kalau Mona berurusan lagi dengan Agra.
"aku merindukannya, apa salah kalau aku menemuinya?" ucap Mona tanpa rasa malu sama sekali.
"apa kau sadar, dengan apa yang kau lakukan?" bentak Papa Edi sembari melepas cekalan tangannya. Dadanya naik turun menahan emosi mendengar ucapan sang putri.
"aku-aku mencintai-"
"Cukup, Mona!" Mona terlonjak kaget mendengar suara Papa Edi yang sangat menggelegar, Papanya itu terlihat sangat marah hingga membuatnya meneteskan air mata.
"2 tahun, sudah 2 tahun semuanya berlalu. Kau jangan lagi bermain api dengannya!" bentak Papa Edi lagi.
"aku masih mencintainya Pa, aku-"
"dengan tidak tau malunya kau berselingkuh dengan bedebah itu, lalu bersekongkol untuk merebut kekayaan Agra? hah!" bentaknya lagi yang sudah habis kesabaran, andai saja Mona bukanlah anaknya, sudah pasti dia sendiri yang akan menjebloskan gadis itu ke dalam penjara.
"aku-aku khilaf Pa, aku benar-benar-" Mona tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya, dadanya terasa sesak kala mengingat kebodohan yang telah dia lakukan.
Flashback
Dengan teganya Mona bersekongkol dengan Devo untuk merebut kekayaan Agra setelah mengkhianati cintanya, membuat Agra benar-benar terpuruk kala itu.
Namun, teman-teman Agra tidak membiarkannya begitu saja. Mereka membantu Agra untuk bangkit kembali dan memperbaiki perusahaan yang hampir saja jatuh ke tangan Devo, lalu menguak perselingkuhan Mona dengan lelaki gila itu.
Mona yang awalnya memang diperkosa oleh Devo merasa tidak terima, dan menuntut Devo untuk menjelaskan semua kejahatannya pada Agra. Namun dia terjebak dalam muslihat Devo yang mengatakan kalau dia sebenarnya mencintai Mona, dan terus membuat wanita itu bertekuk lutut dikaki Devo.
Selama beberapa bulan mereka menjalin hubungan dibelakang Agra, dan lama kelamaan Devo memerintahkan Mona untuk membantunya menguasai perusahaan Agra. Mona yang sudah terjebak dengan permainan Devo pun menuruti perkataan lelaki itu, hingga suatu saat dia tau kalau Devo tidak benar-benar mencintainya.
Namun Mona terlambat, Agra dan kedua temannya telah berhasil mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Devo dan juga dirinya, beserta bukti perselingkuhan mereka.
Agra yang saat itu sangat emosi mencekik leher Mona tidak membiarkan wanita itu berbicara sepatah katapun, lalu Papa Edi datang dan meminta pengampunan padanya.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu bersimpuh dikaki Agra, dia memohon untuk melepaskan sang putri dan bersedia menggantikan semua kesalahannya.
Agra meminta Mona untuk tidak lagi muncul dihadapannya, dan segera pergi mencari Devo yang sudah kabur entah kemana.
Falshback End.
Mona menangis dalam pelukan Papa Edi, dia meluapkan semua rasa penyesalan yang telah dia lakukan.
Selama ini, Mona tidak pernah lagi bertemu ataupun menghubungi Agra. Dia mengasingkan diri karna masih teringat dengan kemarahan Agra dua tahun lalu. Namun saat dia sedang berkumpul dengan teman-temannya, salah satu temannya memberitahu bahwa Agra sudah menikah dan berita itu sukses mengguncang dunianya.
Selama berhari-hari dia terus merasa gelisah, hatinya merasa tidak terima dengan pernikahan Agra. Kemudian Mona nekat meghubungi Devo, dan memintanya untuk kembali.
"sudah cukup Mona, kau sudah terlalu banyak menyakiti hati Agra," ucap Papa Edi, dia merasa sedih dengan apa yang dilakukan putri semata wayangnya.
Mona melepaskan pelukannya, lalu dia menatap Papa Edi yang juga tengah menatapnya.
"aku masih mencintainya Pa, aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Aku juga berjanji akan membantunya untuk menangkap Devo," ucap Mona dengan sendu.
"dia sudah beristri Mona, kau tidak pantas mengganggu hubungan mereka," tegur Papanya kembali.
"aku yakin dia masih mencintaiku Pa, Papa juga taukan bagaimana dulu dia sangat memujaku," Mona meyakinkan Papanya agar membiarkan dia mendapatkan Agra kembali.
"bagaimana dengan lelaki brengsek itu? bukannya kau sendiri yang menyuruh Devo untuk kembali ke negara ini?" tanya Papa Edi, dia takut kalau Mona kembali terjebak dengan permainan Devo.
"Papa tenang saja, aku sengaja memancingnya untuk membawanya pada Agra," jawabnya kemudian.
"bersiaplah Agra, aku akan merebuatmu kembali,"
•
•
•
TBC.
Jangan lupa dukungannya ya readers 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1