
Suasana diruang tamu keluarga Winandra terlihat hening. Aleta duduk dihadapan orangtua dan kakaknya seperti terdakwa yang akan diadili karna berbuat kesalahan.
"sebenarnya apa yang terjadi Aleta ? kenapa kau bisa kenal sama Agra?" tanya papa Arsen.
"emm itu pa gak sengaja ketemu di mall," jawab Aleta pelan sambil menundukkan kepalanya.
"terus kenapa mereka bisa sampai melamarmu ? kau tidak berbuat yang aneh-aneh kan?" papa Arsen menyipitkan matanya karna curiga pada Aleta.
"hah, tidak kok. memang melakukan apa?" Aleta mengibas-ibaskan tangannya. Dia terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan dari keluarganya.
"jadi kau pacaran sama dia?" kali ini mama Deeva yang bertanya.
"duuh..., aku harus jawab apa ini," Aleta bingung untuk menjawab pertanyaan mamanya.
"kami gak pacaran ma, tapi aku suka sama dia." Aleta menjawab dengan sekali tarikan napas.
"terus kenapa mereka bisa sampai melamarmu?" tanya papa Arsen. dia sudah geram melihat Aleta.
"i.itu karna mereka tau kalau aku suka sama Agra. makanya mereka melamarku." jawab Aleta sambil tersenyum cerah untuk menghilangkan kegugupannya.
"mama, papa. maafkan aku." Aleta merasa bersalah karna berbohong pada orangtuanya.
"tapi, apa Agra juga suka padamu?" mama Deeva tidak yakin kalau Agra juga menyukai Aleta. terlihat dari sifat Agra yang acuh tak acuh saat bertemu dengan mereka tadi.
"ma, aku mencintainya. pelan-pelan pasti dia juga akan mencintaiku," ucap Aleta. dia tidak bisa bilang kalau Agra juga mencintainya.
"jadi kau memang mau menikah dengannya?" tanya papa Arsen lagi. dengan cepat Aleta menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan papa Arsen.
__ADS_1
"baiklah, biar papa sama mama pikirkan dulu." papa Arsen berjalan ke arah kamarnya dengan diikuti oleh mama Deeva.
"ikut kakak ke kamar !" Dareen yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. dia mengajak Aleta ke kamar untuk berbicara 4 mata pada adiknya itu.
"habislah aku. kakak pasti tidak percaya sama apa yang ku bilang tadi." Aleta mengikuti langkah Dareen ke kamarnya.
"dek, jangan kau pikir kakak percaya sama semua yang kau ucapkan tadi. sekarang ceritakan semuanya sama kakak, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Agra," ucap Dareen sambil duduk diranjang Aleta.
"kak, aku mengatakan yang sejujurnya kok sama papa dan mama." Aleta ikut duduk di samping Dareen.
"sejak kapan kau kenal sama Agra ? kau gak bisa bohingin kakak dek. atau biar kakak aja yang tanya langsung ke dia?" ancam Dareen. Aleta menghela napas kasar, dia sudah tidak bisa berkelit lagi. akhirnya Aleta menceritakan semuanya pada Dareen.
"apa kau gila Aleta," bentak Dareen setelah mendengar cerita dari Aleta. untuk pertama kalinya Dareen membentak adiknya seperti itu.
Aleta menundukkan kepalanya dengan tangis yang sudah mengalir diwajah cantiknya. dia meremas kuat jemari tangannya, sembari sesekali tangan itu mengusap air mata yang sudah berjatuhan.
"Aleta, kau...,"
"iya kak Dareen, aku udah gila. aku udah gila karna menjebak Agra agar mau menikah denganku. aku menjebak Agra agar kakak tidak menikah dengan wanita sialan itu. aku menjebak Agra agar dia mau membantu perusahaan papa. aku memang benar-benar udah gila," Aleta menangis histeris sambil mengeluarkan segala resah dan gelisah yang ada dihatinya.
Dareen mematung di tempat duduknya. dia tidak menyangka kalau Aleta tau mengenai masalah di perusahaan mereka. dia juga tidak menyangka kalau Aleta tau pernikahan kontrak antara dirinya dan Lesya.
Dareen segera memeluk sang adik, dan berusaha untuk menenangkannya.
"maafkan kakak dek," ucap Dareen. dia juga meneteskan air mata melihat apa yang sudah dilakukan adik kecilnya itu.
Setelah Aleta tenang, Dareen melepas pelukan mereka. dia mengusap air mata Aleta yang masih membekas diwajah cantik adiknya.
__ADS_1
"lap ingusnya juga," kata Aleta sambil memajukan hidungnya. Dareen terkekeh pelan mendengar ocehan Aleta, dia lalu mengambil tisu dan mengelap seluruh wajah gadis itu.
"dek, kakak mengerti maksud dan tujuanmu berbuat kayak gitu. tapi semua ini gak benar dek, kau tidak boleh menikah dengannya," ucap Dareen. dia tidak mau kalau hidup adik kesayangannya menjadi hancur.
"lalu, kakak boleh menikah dengan wanita sialan itu," bentak Aleta.
"aku gak akan biarin kakak nikah sama orang yang udah mengkhianati kakak," ucap Aleta tajam penuh kebencian.
Huh, Dareen menghembuskan napasnya dengan kasar. dia sebenarnya juga tidak ingin menikah dengan Lesya, karna rasa sakit yang wanita itu goreskan masih menyisakan bekas yang lebar dihatinya. tapi dia juga tidak mau kalau Aleta yang menjadi korban, lebih baik dia yang menikah dengan Lesya.
"walaupun kakak pernah disakiti oleh Lesya, tapi kakak udah mengenal dia luar dalam dek. tapi kalau kau gimana, kau bahkan gak tau kan sifat Agra itu seperti apa ? pernikahan itu bukan untuk permainan dek, jadi kakak tetap enggak setuju." Dareen tetap tidak akan membiarkan Aleta menikah dengan Agra.
"baiklah, terserah apa kata kakak. seperti yang kakak bilang, kita tidak tau bagaimana sifat laki-laki itu. sekarang kakak kasitau sama mama dan papa tentang semuanya, juga pada Agra. kita lihat, apa yang akan dia lakukan pada keluarga kita. juga mama sama papa pasti akan kecewa sama aku," ucap Aleta.
"semua sudah terjadi kak, jadi ku harap kakak mendukung keputusanku. apapun yang terjadi ke depannya, kita akan hadapi bersama," tambahnya lagi sambil menatap kearah sang kakak.
Dareen memikirkan semua yang dikatakan Aleta. memang benar, nasi sudah menjadi bubur. kalau dia mengatakan yang sejujurnya pasti akan timbul masalah yang besar.
"baiklah, kakak akan mendukungmu. tapi ingat, kalau sampai kau melakukan hal seperti ini lagi, kakak gak akan pernah memafkanmu," ucap Dareen.
"tentu saja." Aleta langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang kakak. akhirnya dia bernapas lega karna sudah mendapat dukungan dari kakaknya.
"semoga semuanya baik-baik saja Tuhan," Dareen hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan Aleta.
☆☆☆ **TBC.
duuh Aleta udah dapat dukungan nih dari kak Dareen, kalian juga harus kasi dukungan ya guys 🤭 yang banyak pokoknya 😘**
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘