Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 118. Rencana Melamar


__ADS_3

Hening, itulah yang sedang terjadi di dalam sebuah mobil berwarna putih yang sedang melaju kencang menuju perumahan dikawasan cinta.


Dua orang penghuni mobil itu tampak saling membuang muka, sebentar lagi mereka pasti akan membuang mulut, hidung dan telinga.


Mobil mewah Dareen sudah memasuki halaman rumah Margaret, dia segera memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin mobil itu. Margaret segera turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuat Dareen berdecak kesal karnanya.


"loh, sudah pulang?" tanya Ayah Dito yang sedang minum kopi diteras rumah, Margaret hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan sang Ayah dan langsung masuk ke dalam rumah mereka.


"kenapa anak itu?" gumam Ayah Dito sembari mengernyitkan keningnya.


"selamat sore Om," sapa Dareen sambil duduk dihadapan Ayah Dito.


"selamat sore Dareen, tapi kenapa kau langsung duduk?" tanya Ayah Dito saat Dareen duduk dihadapannya.


"eeh," Dareen kembali berdiri karna merasa malu pada pria paruh baya itu. Namun, saat Dareen baru mengangkat pantatnya, tiba-tiba orang tua itu kembali bersuara.


"sudah-sudah, duduklah. Anggap saja rumah sendiri," serunya lagi sembari memanggil sang putri.


"gimana sih orang tua ini? untung calon Mertuaku," Dareen merasa malu sekaligus kesal pada Ayah Dito.


Tak lama Margaret bergabung dengan mereka, dia membawa secangkir teh dan juga camilan untuk mereka.


Dareen terus melirik ke arah Margaret saat gadis itu menyajikan apa yang dia bawa, kemudian Margaret kembali masuk ke dalam untuk membersihkan diri.


"seperti itulah cinta, yang tetap dirasa kurang walau sepanjang hari saling menatap," Ayah Dito berucap bak seorang pujangga cinta membuat Dareen menahan geli karna ucapannya.


"wahai anak muda, ada gerangan apakah kau ke sini? apa ingin melamar putriku?" tanya Ayah Dito sang raja drama.


"benar, saya ingin melamar putri anda!"


"apa?" teriakan cetar membahana menggelegar diteras rumahnya, Dareen sampai terjingkat kaget saat Ayah Dito mengeluarkan suara seksinya.


"apa kau serius? kau tidak bercandakan? atau kau tidak main-mainkan?" tanya Ayah Dito membabi buta membuat Dareen bingung ingin menjawab pertanyaan lelaki paruh baya itu.


"tapi, anak Om tidak mau!" seru Dareen, dia sengaja mengadu pada Ayah Dito untuk mencari bala bantuan.


"kenapa? kau kan tampan gini, mana mungkin anakku menolakmu!" ucap Ayah Dito yang tidak percaya dengan apa yang Dareen ucapkan.


"benar Om, dia tidak ingin menikah denganku!" tambah Dareen lagi seperti anak kecil yang sedang mengadu pada sang Ayah.

__ADS_1


"kau tenang saja, serahkan tugas ini kepada, Ayah Dito." Dia berdiri di atas kursi sembari membusungkan dada, Dareen mengalihkan pandangan ke arah samping. Dia tidak tahan ingin tertawa saat melihat tingkah calon mertuanya.


"astaga, Ayah! apa yang sedang Ayah lakukan?" teriak Margaret saat melihat sang Ayah berdiri di atas kursi.


Ayah Dito segera turun dengan mengulurkan tangannya meminta Margaret untuk memegangi tubuhnya, dia sedikit takut walaupun hanya di atas kursi.


"Margaret, apa kau punya pacar?" tanya Ayah Dito setelah turun dari kursi, dan kembali duduk dikursi tersebut.


Margaret mengerutkan keningnya, "tidak!" walaupun merasa heran, tetatpi dia masih menjawab pertanyaan sang Ayah.


"kenalan pria?" tanya Ayah Dito lagi.


"tidak!"


"apa kau sedang menyukai seseorang?"


"tidak! Ayah, apa yang Ayah lakukan sih?" ketus Margaret saat melihat perilaku sang Ayah yang menyimpang.


"kalau gitu, kau nikah saja padanya. Ayah ingin segera menggendong cucu.


"apa? nikah?" teriak Margaret yang sangat terkejut dengan apa yang dia dengar. Margaret lalu melirik tajam ke arah Dareen yang saat ini melihatnya ke arah samping.


"Ayah, jangan bicara sembarangan!" seru Margaret dengan jantung bersebar keras.


Brak, Dareen menjatuhkan ponsel yang sedang dia genggam dengan kuat menghantam lantai. Dareen tidak menyangka kalau Ayah Dito akan berkata seperti itu pada. Sementara Margaret serasa ingin pingsan dengan apa yang Ayahnya katakan.


Ayah Dito tersenyum simpul saat melihat Margaret dan Dareen saling lirik-lirikan, dia lalu berdehem untuk menyadarkan mereka yang terhanyut dalam suasana.


"ja-jadi, Om menerima lamaranku?" tanya Dareen, membuat Margaret benar-benar ingin mati.


"tidak! apaan sih kau ini, kenapa kau mengatakan ingin melamarku?" ketus Margaret pada lelaki yang sudah beberapa kali dia tolak.


"hus, diam kamu!" seru Ayah Dito sembari menunjuk ke arah Margaret membuat wanita itu terpaksa mengunci mulutnya.


"pokoknya minggu depan kalian datang, jangan lupa bawa semua keluarga dan sanak saudara," ucap Ayah Dito, dia sangat senang saat Dareen ingin menikah dengan sang putri.


"apa-apa sih Yah, aku tidak mau-"


"sudah diam! matamu itu katarak, makanya gak bisa lihat cowok tampan," ucap Ayah Dito yang sudah berpengalaman.

__ADS_1


"baik Om, aku akan membawa seluruh keluargaku untuk datang ke sini," ucap Dareen, dia merasa sangat senang karna sudah mendapat restu.


"jangan gila kamu, Dareen!" geram Margaret, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki itu.


"sudahlah, ngapain marah-marah dapat rezeki," celetuk Ayah Dito kemudian.


Margaret hanya berdecak kesal melihat kedua pria yang saat ini ada dihadapanyanya, lalu dia melirik tajam ke arah Dareen sanh sumber masalah.


"Ayah saja yang nikah sama dia! aku gak mau," seru Margaret sembari bangkit dari kursinya.


"mana mungkin Ayah yang nikah, kami kan pedang sama pedang. Apa pikirnya mau buat sanggar pedang?" seru Ayah Dito sembari menunjuk ke arah bagian intinya dan bagian inti Dareen membuat Dareen menutupi senjata negaranya.


"Terserah!" Margaret memilih masuk daripada berdebat dengan sang Ayah ataupun Dareen.


"pokoknya kau siapkan saja semuanya, setelah itu datang ke sini," ucap Ayah Dito dengan yakin.


"tapi bagaimana dengan Margaret Om?" tanya Dareen, calon istrinya masih tidak mau menikah dengannya saat ini.


"urusan dia kau tenang saja, biar Ayah yang mengurusnya!" ucap Ayah Dito dengan yakin, dia pasti akan membujuk Margaret habis-habisan agar wanita itu mau menikah.


Setelah melaksanakan rencanya yang mulia, Dareen segara pamit untuk kembali pulang kerumah, pikirannya masih berkelana tentang hubungannya dengan Margaret saat ini.


Margaret yang berada dikamar terlihat melempar semua barang-barangnya karna merasa kesal atas apa yang telah Dareen lakukan, dia tidak tau lagi harus berkata apa pada lelaki itu.


Apalagi kalau sampai mantan pacar Dareen mengetahui rencana pernikahan mereka, sudah pasti wanita itu tidak akan tinggal diam.


Kemudian Margaret kembali mengumpulkan barang-barang yang tadi dia lempar, dia meletakkan kembali barang-barang itu ke tempat semula.


Lalu Margaret naik ke atas ranjang, dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dengan pikiran yang juga terasa berat.


"aku bukannya tidak mau menikah denganmu Dareen, aku sangat mau! Tapi aku tidak bisa melihatmu terluka atau melihat Ayah tersiksa,"





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🙏


__ADS_2