Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 110. Tidak Terselamatkan!


__ADS_3

Felix yang saat ini sedang dalam perjalanan untuk mencari Aleta dan Devo tidak memperdulikan ponsel yang sejak tadi bergetar. Pikirannya sedang sibuk menerka-nerka tempat yang dituju oleh Devo, karna memang laki-laki itu biasanya akan pergi ke tempat-tempat yang sudah dia kunjungi.


Agra yang saat ini berada dimobil Rezie terlihat sangat buruk, beberapa kali dia memaki dan melampiaskan amarahnya pada semua orang. Perasaannya saat ini sangat hancur, rasa sakit, kecewa, amarah, sedih dan khawatir bercampur jadi satu yang membuatnya jadi gila.


Otak nya diperas, hatinya ditindas dan kebahagiaannya sekarang sedang berada di luar batas. Sungguh takdir kejam yang saat ini sedang menghantam hidupnya.


Rezie yang saat ini sedang duduk di sampingnya tidak berani membuka suara, dia hanya diam sambil terus memperhatikan keadaan sahabatnya yang sedang sangat kacau saat ini.


"aku akan membunuhnya!" ucap Agra penuh dendam, kilatan emosi terpancar dari sorot matanya yang tajam.


Cuaca yang sedikit mendung seakan mendukung situasinya saat ini, bagai dilanda badai besar yang menyeretnya dalam pusara penderitaan.


Agra memejamkan mata, rasa takut mulai menguasai hati dan jiwanya. Tubuhnya bergetar saat memikirkan bagaimana keadaan istrinya saat ini, matanya mulai panas saat tidak menemukan keberadaan sang istri ke mana pun dia mencarinya.


Deg, tiba-tiba jantung Agra terasa sangat sakit bagai ditimpa balok besar hingga membuat napasnya terasa sesak. Rasa khawatir semakin menyelimuti hatinya, entah kenapa saat ini dia merasa begitu gelisah.


Tiba-tiba, dering ponsel Rezie mengagetkan mereka yang dalam suasana hening. Rezie segera mengambil ponsel itu dan melihat bahwa Felix sedang menelponnya.


"halo," jawab Rezie.


Felix mengatakan tentang kabar Aleta saat ini, yang langsung membuat Rezie kaget dan melihat ke arah Agra.


"putar jalan, kita harus segera sampai ke Rumah sakit!" ucap Rezie setelah panggilan Felix dimatikan.


"kenapa ke Rumah sakit?" aku ingin mencari istriku!" ucap Agra dengan tajam, matanya berkilat marah karna Rezie seenaknya mengubah arah jalan.


Rezie menghembuskan napasnya dengan kasar, dia harus mencari pilihan kata yang tepat untuk memberitahukan kondisi Aleta saat ini.


"Agra, ki-kita harus segera ke Rumah sakit-"


"kenapa?" potong Agra yang sudah tidak sabar melihat Rezie.


Glek, Rezie menelan salivenya dengan kasar, "A-Aleta saat ini sedang ada di Rumah sakit,"


"apa? Aleta di Rumah sakit?" teriak Agra dengan raut wajah yang sangat sulit untuk diartikan.


"bajingan! brengsek! aku bersumpah aku akan membunuhmu Devo, aku akan membuat hidupmu menderita sampai dinapas terakhirmu!" teriak Agra yang sudah benar-benar tidak bisa menahan diri lagi, dia meninju kursi kemudi membuat supir terlonjak kaget sampai membuat mobil mereka sedikit oleng.

__ADS_1


"lebih cepat lagi! kalau sampai kita terlambat maka aku akan membunuhmu!" teriak Agra pada supir itu membuat tubuh supir itu merinding saat mendengar apa yang tuannya katakan.


Sementara Rezie juga sudah harap-harap cemas, dia berdo'a agar tidak terjadi apa-apa pada Aleta dan kandungannya atau Agra akan membinasakan mereka semua.


Setelah menghabiskan perjalanan selama 45 menit yang penuh dengan ancaman dan ketegangan, akhirnya mobil mereka sampai ke sebuah Rumah sakit yang ada dipinggiran kota.


Devo membawa Aleta ke Rumah sakit itu karna memang Rumah sakit itulah yang paling dekat dengan posisinya.


Agra langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Rumah sakit dan berlalu menuju ruangan yang saat ini ditempati Aleta.


Seluruh keluarga Mahesa dan Winandra sudah memadati lorong rumah sakit, terlihat teman-teman Aleta dan juga Agra sudah berada ditempat itu.


Agra terus berjalan sampai dekat dengan mereka, semua orang yang melihat kedatangan Agra langsung berdiri dan memandangnya dengan penuh kesedihan.


"di mana istriku?" suara Agra menggema dilorong Rumah sakit itu membuat semua orang bertambah tegang, beberapa orang yang juga ada dirumah sakit itu langsung melihat ke arah mereka.


Mama Lena langsung menghamburkan dirinya ke tubuh Agra, dia menangis dengan histeris sembari memeluk tubuh putranya yang masih terdiam di tempat.


"huhuhu hiks Agra, anakku," Mama Lena semakin terisak saat mengingat keadaan Aleta saat ini, dia yakin kalau putranya akan semakin hancur jika mengetahui kondisi sang istri.


"sabar sayang hiks, sabar," Mama Lena mencoba untuk menenangkan putranya yang saat ini sudah menggila.


Papa Abi juga mendekati putranya itu, matanya mulai memerah ingin mengeluarkan air mata untuk kesedihan yang sedang terjadi.


Mata Agra melihat ke arah Papanya dengan pandangan seolah bertanya di mana istrinya saat ini.


"nak, saat ini Aleta sedang dioperasi. Keadaannya-keadaannya sangat tidak baik," ucap Papa Abi dengan pelan, dia mencob untuk memberi penjelasan pada Agra.


"op-operasi? operasi apa?" jantung Agra berdebar keras saat mendengar kata operasi keluar dari mulut orangtuanya.


Papa Abi dan Mama Lena saling pandang, mereka tidak tau harus bagaimana mengatakannya pada Agra. Semua orang juga terlihat menundukkan kepala mereka, terutama keluarga Aleta yang sudah terisak, bahkan Mama Deeva berkali-kali tidak sadarkan diri saat mengetahui kondisi sang putri.


"operasi apa Pa? katakan padaku!" desak Agra yang tidak mendengar jawaban dari orangtuanya. Beberapa tetes air mata berhasil lolos dari sudut matanya.


Papa Abi menghela napas berat, "Aleta harus dioperasi karna kandungannya sedang kritis, dan bayi-bayi kalian sudah memaksa untuk segera lahir,"


Deg, jantung Agra terasa berhenti berdetak, napasnya pun terasa sesak seolah-olah alat pernapasannya sudah dicabut dari tubuhnya.

__ADS_1


"lahir? Papa bilang lahir? anak-anak kami masih berumur 7 bulan Pa, bagaimana mungkin bisa lahir?" teriak Agra sembari mengusap kasar wajahnya, dia lalu memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


"ka-karena itu kondisi mereka saat ini sedang tidak baik nak,"


Bruk, tubuh Agra langsung terjatuh ke atas lantai tanpa bisa ditahan oleh Mama Lena. Tubuh Agra bergetar dengan air mata yang sudah meluncur bebas diwajahnya, dia menelungkupkan kapalanya disela-sela kedua kakinya.


Semua yang melihat itu langsung terkejut, keluarga Aleta langsung berlari ke arah Agra sedangkan Mama Lena dan Papa Abi sudah memeluk putra mereka dengan terisak.


"kenapa? kenapa semua ini harus terjadi? kenapa? huhuhu," lirih Agra yang semakin terisak mendengar kondisi sang istri beserta anak-anaknya.


Kesedihan terus membalut perasaan mereka saat ini, rasa sakit dan khawatir terus menghantui tatkala menunggu kabar Dokter yang saat ini sedang berusaha untuk menyelamatkan Aleta dan kedua anaknya.


Suasana dilorong itu terlihat sangat menyakitkan, beberapa orang yang melintas dapat merasakan kesedihan yang sedang terjadi pada mereka semua.


Ditengah kesedihan itu, tiba-tiba pintu operasi terbuka. Semua orang langsung mendekat ke arah beberapa Dokter yang baru keluar dari ruangan itu.


Agra langsung bangkit dan menghampiri Dokter tersebut, "bagaimaan keadaan istri dan anak-anakku?" tanya Agra dengan cepat.


Dokter memandang mereka dengan sedih, bahkan ada diantara mereka yang menundukkan kepala akibat merasa gagal untuk menyelamatkan pasien mereka.


"maaf Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan istri anda,"


"tidak!"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Jangan lupa Mampir ke karya terbaru Othor 😍 Cinta Terakhir Zulaikha 🥰 Mohon dukungannya 🙏


__ADS_1


__ADS_2