
"jika terjadi sesuatu pada anak-anakku, aku bersumpah kalau aku sendiri yang akan membunuhmu!"
Deg, jantung Agra terasa ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan saat mendengarnya. Napasnya terasa sesak seakan tercekat ditenggorokan dengan dada bergemuruh menahan sesal dan sakit yang sedang dia rasakan.
Agra menatap sedih pada Aleta, lidahnya keluh tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Hanya air mata dan penyesalanlah yang saat ini dapat terlihat, terlebih ketika matanya melihat kearah perut Aleta yang tampak mulai membesar.
Aleta sendiri merasa enggan untuk bertatapan langsung dengan Agra, hatinya masih terasa panas kala mengingat kejadian yang menimpanya malam ini. Namun karna tidak mendapat respon dari Agra, Aleta melirik ke arah lelaki itu yang sedang mematung dengan wajah tertunduk di sampingnya.
Aleta membuang napas berat, dia dapat melihat begitu berantakannya Agra saat ini. Sebenarnya dia merasa tidak tega, namun dia juga tidak bisa membiarkan semuanya berlalu begitu saja.
"Uuuh." Tiba-tiba Aleta kembali merasa sakit, perutnya terasa mengencang dengan tiba-tiba. Agra yang mendengar suara Aleta mendongakkan kepalanya dan mendekat ke ranjang.
"ada apa sayang? mana yang sakit?" Agra terlihat sangat panik, dia lalu berteriak memanggil Dokter membuat Felix dan Ricky yang masih setia berada di depan ruangan itu berlari masuk.
"ada apa?" tanya Ricky dan Felix bersamaan, tak lama datanglah Dokter dan beberapa perawat keruangan itu dan bergegas memeriksa kondisi Aleta.
"Anda tidak boleh stres, dan harus mengontrol emosi. Kasihan anak-anak anda yang sedang berjuang di dalam sini." Dokter Sila mengelus perut Aleta dengan lembut sembari mencoba untuk merasakan gerakan dari janin yang ada di dalam perut Aleta.
"bagaimana aku gak stres, suamiku sendiri ingin membunuh anak-anakku,"
"jaga ucapanmu, Aleta!" bentak Agra, dia merasa sangat emosi mendengar apa yang istrinya itu katakan. Ricky dan Felix mencoba untuk menenangkan Agra, lelaki itu tidak boleh terbawa emosi yang nantinya semakin membuat keadaan menjadi runyam.
"keluar kau, aku tidak ingin melihat wajahmu!" usir Aleta dengan bergetar, matanya berkilat penuh amarah pada Agra.
"sa-sayang, maafkan aku. Aku-aku tidak bermaksud-"
"kalau kau tidak mau keluar, biar aku sendiri yang keluar dari ruangan ini," potong Aleta sembari mencoba untuk bangun. Melihat apa yang dilakukan Aleta membuat Agra lemas, dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai.
Felix, Ricky dan Dokter Sila hanya bisa menjadi penonton, mereka tidak tau harus bagaimana mengatasi permasalahan yang sedang terjadi di hadapan mereka saat ini.
"Dokter, apa anak-anak saya baik-baik saja?" tanya Aleta setelah melihat Agra keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Tentu saja, mereka sangat baik." Dokter Sila kembali mengelus perut Aleta dengan senyum diwajahnya mencoba memberi ketenangan untuk calon ibu muda itu.
"namun anda harus tetap tenang, sih kecil ini akan merasa sangat sedih kalau ibunya juga sedih dan marah-marah," lanjut Dokter Sila, dia mencoba untuk memberi pemahaman untuk Aleta yang pastinya belum berpengalaman dalam hal seperti ini.
Aleta mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti dengan apa yang diucapkan Dokter cantik itu, kemudian dia beralih melihat ke arah Felix dan juga Ricky yang berdiri tidak jauh dari ranjangnya.
"Felix, kemari." Aleta melambai-lambaikan tangannya menyuruh Felix mendekat.
Felix sedikit kaget saat melihat apa yang dilakukan Aleta, lalu dia segera mendekat dengan diikuti oleh Ricky. Sementara Dokter Sila beranjak keluar dari ruangan, namun dia kembali mengingatkan Aleta agar bisa mengontrol emosi dan pikirannya.
Agra yang sedang duduk di depan ruangan Aleta langsung berdiri saat melihat Dokter Sila keluar, dia segera mendekati Dokter itu yang juga sedang melihat ke arahnya.
"bagaimana keadaan istriku? dia baik-baik sajakan?" tanya Agra dengan penuh kekhawatiran.
"untuk saat ini keadaannya baik, tapi saya mohon agar anda bisa lebih bersabar lagi dalam menghadapi istri anda. Emosinya saat ini sedang tidak stabil, dan itu sangat berpengaruh pada janin yang sedang beliau kandung. Anda tidak mau kan kalau sampai anak-anak anda meninggal?"
"jaga ucapanmu!" bentak Agra, dia kembali merasa emosi dengan apa yang dikatakan Dokter itu.
"seperti inilah, emosi seperti inilah yang harus anda ubah," Dokter Sila sengaja berkata seperti itu untuk memperlihatkan emosi Agra yang sebenarnya adalah boomerang bagi istri dan juga anak-anaknya.
"bersabarlah, kasihan istri dan anak anda yang sedang berjuang untuk kembali sehat seperti biasanya," ucap Dokter Sila kembali sebelum meninggalkan Agra.
Setelah kepergian Dokter Sila, Agra kembali mendudukkan tubuhnya dengan pikiran dan hati yang sedang kacau. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya dengan pelan, membuat Agra melihat ke arah orang tersebut.
"pulanglah, dan tenangkan dirimu," ucap Ricky sambil duduk di sebelah Agra.
"tidak! aku akan tetap di sini," tolak Agra, dia ingin meminta pengampunan dari Aleta sampai istrinya itu mau memaafkannya.
"sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Aleta sampai begitu marah padamu?" tanya Ricky yang sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka.
Agra menarik napas berat, kemudian dia menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi malam ini.
__ADS_1
"video apa yang kau tonton?" tanya Ricky setelah Agra selesai menceritakan semuanya.
"bajingan itu, dia membawa Mona dari Club dan memperkosanya dihotel," jelas Agra dengan kilatan amarah yang terpancar dimatanya.
"apa kau sudah memeriksa keaslian video itu?" tanya Ricky yang merasa ada kejanggalan dalam cerita Agra.
"Felix sudah memeriksanya, dan semua asli." Agra menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
"Lantas, apa yang akan kau lakukan? apa kau akan kembali pada Mona dan meninggalkan Aleta?" tanya Ricky dengan suara meninggi, dia mulai terpancing emosi saat ini.
"tidak, aku hanya-"
"Ingat Agra, wanita itu yang telah bersekongkol dengan Devo untuk menguasai seluruh perusahaanmu. Persetan dengan diperkosa atau tidak, kau harus ingat bukti-bukti yang sudah kita kunpulkan waktu itu." Ricky pergi meninggalkan Agra yang tampak diam mencerna setiap perkataan yang dia ucapkan, dan berlalu kembali ke dalam ruangan Aleta.
"bagaimana ? dia baik-baik saja kan?" tanya Aleta setelah melihat Ricky masuk kembali ke ruangannya. Ternyata Aleta menyuruh Ricky untuk melihat keadaan Agra, dia sedikit khawatir dengan suaminya yang kasar itu.
"tenang saja, dia masih hidup kok," jawab Ricky sembari duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Aleta.
"sekarang giliranmu Felix, ceritakan semua yang terjadi padaku! termasuk tentang wanita sialan itu, gara-gara dia aku jadi terkena imbas dari emosi Agra," geram Aleta sembari meremas selimut yang sedang menutupi tubuhnya.
•
•
•
TBC.
Jangan lupa dukungannya ya readers 😘
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Oh ya mampir juga ke karya teman othor yang super keren ini ya, dijamin bagus dan bikin betah baca 😍