Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 61. Kembar


__ADS_3

Selesai menelpon, Agra kembali menggenggam tangan Aleta walau mendapat pandangan tak suka dari istrinya. Dia merasa tidak peduli dan beralih melihat ke arah Ricky yang masih betah berada di ruangan itu.


"kau gak ada kerjaan?" tanya Agra pada Ricky yang sedang memperhatikannya dan Aleta.


"kenapa?" Ricky bertanya dengan bingung, dia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Agra.


"pergi sana! aku mau berdua sama istriku," usir Agra tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"apa? kurang ajar, dasar manusia gak tau terima kasih," cerca Ricky seraya bangkit dari duduknya.


"ya-ya terserah," Agra tidak peduli dengan perkataan Ricky, dia hanya ingin berdua saja dengan Aleta saat ini.


Ricky keluar dari ruangan itu dengan terpaksa, padahal dia masih ingin mengobrol lebih lama dengan Aleta. Namun sahabatnya itu benar-benar berhati iblis, tega-teganya dia mengusirnya yang sudah banyak membantu mereka. Benar-benar sial punya teman seperti Agra.


Pada saat yang sama, keluarga Mahesa dan keluarga Winandra berbondong-bondong datang ke Rumah sakit tempat Aleta di rawat, mereka sangat terkejut saat Agra mengatakan bahwa Aleta sedang sakit dan sedang berada di Rumah sakit.


Papa Arsen dan Dareen yang sedang berada di perusahaan langsung bergegas ke Rumah sakit saat menerima kabar dari mama Deeva, sementara Papa Abi dan Mama Lena juga tancap gas untuk menemui menantu kesayangan mereka.


Keluarga Mahesa dan Keluarga Winandra sudah sampai di Rumah sakit, lalu mereka segera berjalan ke tempat di mana Aleta dan Agra berada.


Brak, Mama Deeva membuka ruangan Aleta dengan kencang membuat Agra dan Aleta yang sedang tidur terlonjak kaget sembari menatap ke arah pintu.


"Aleta, huhuhu hiks jangan tinggalkan mama. Kamu anak perempuan mama satu-satunya, kamu tidak boleh meninggal! kalau kamu meninggal, Mama sama siapa? hiks hiks," Mama Deeva meratapi Aleta yang sedang terbengong melihat ke hadiran keluarganya. Lalu Aleta tersadar saat tubuhnya di tubruk oleh Mama Deeva, sampai banker yang sedang dia tempati bergeser karna tubrukan maut dari Mamanya.


"Mama, apa Mama mendo'akan aku agar cepat mati!" gerutu Aleta sembari berusaha melepaskan pelukan mamanya.


"sayang, apa yang terjadi?" tanya Mama Lena, dia sudah sangat khawatir melihat kondisi menantunya. Begitu juga dengan semua yang ada di tempat itu, terutama Mama Deeva yang sudah beranggapan bahwa Aleta terserang penyakit yang mematikan.


"Aleta enggak sakit, tapi dia sedang hamil," ucap Agra memberitahu mereka.

__ADS_1


"ooh sedang hamil," seru Dareen. Namun seketika dia sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan, begitu juga dengan kedua orangtuanya dan orangtua Agra.


"apa! hamil?" teriak mereka secara bersamaan membuat Aleta dan Agra terpaksa menutup telinga mereka agar tidak berdenyut sakit.


"apa kalian mau merubuhkan Rumah sakit ini?" seru Agra sambil menggosok-gosok telinganya akibat teriakan cetar membahana mereka.


"Agra, apa yang kau ucapkan itu sungguhan?" tanya mama Lena yang tidak percaya dengan ucapan sang putra dan di balas dengan anggukan kepala Agra membuat mereka kembali histeris.


Mama Lena langsung menubruk Aleta bersamaan dengan Mama Deeva yang kembali menubruknya, jadilah Aleta serasa ingin mati karna di timpa oleh kedua Mamanya.


"sebentar lagi aku pasti mati," gerutu Aleta dalam hati.


"selamat sayang, akhirnya Mama jadi oma," teriak Mama Lena sembari mengecup kening Aleta, begitu juga Mama Deeva yang sudah berkali-kali mengecup wajah sang putri.


Papa Arsen dan Papa Abi juga mengucapkan selamat untuk Agra dan juga Aleta, mereka memeluk Agra dengan bahagia begitu juga dengan Dareen yang tidak menyangka kalau adik kecilnya sudah mengandung.


"istriku bukan anak kecil lagi, jangan cium dia!" mulai lagi mode posesif Agra aktif, membuat semua orang berdecak kesal melihat tingkahnya.


Kemudian Aleta menceritakan semua perubahan yang terjadi pada Agra, dan semua itu disebabkan oleh kehamilannya. Namun Dareen dan para Papa terlihat bingung, mereka sedang berpikir keras kenapa Agra bisa ngidam sedangkan yang hamil adalah Aleta.


Aleta menjelaskan kepada mereka apa itu kehamilan simpatik, dan barulah mereka semua paham atas apa yang terjadi pada Agra.


"halah, kalau anak ini memang sok gaya saja," cibir Mama Lena yang membuat Agra menghela napas kasar.


Tak berselang lama, datanglah dua orang perawat yang memberi informasi kalau Aleta harus segera diperiksa oleh Dokter kandungan. Agra segera mendudukkan Aleta di kursi roda sembari mendorongnya ke ruang pemeriksaan diikuti oleh seluruh keluarga.


"selamat siang tuan, nyonya," sapa Dokter Sila pada mereka.


Aleta dan seluruh keluarga membalas sapaan Dokter itu, sementara Agra hanya bersikap acuh tak acuh. Dokter mempersilahkan mereka untuk duduk, dia merasa agak kaget saat melihat ada banyak orang yang menemani pasiennya.

__ADS_1


Kemudian Dokter segera melakukan pemeriksaan, dan menampakkan sebuah tampilan yang sangat mengharukan bagi mereka semua.


"i-itu anakku," lirih Aleta saat melihat ke layar monitor yang menampilkan pergerakan dari bayi yang di kandungnya. Begitu juga Agra yang merasa terharu sekaligus takjub, dia benar-benar tidak menyangka bahwa benihnya akan berhasil mengisi rahim Aleta.


"tuan dan nyonya, apa anda semua bisa melihat titik-titik ini?" tanya Dokter Sila pada mereka dan dibalas dengan anggukan kepala.


"selamat tuan dan nyonya, kalian akan memiliki bayi kembar," ucap Dokter Sila sembari memperlihatkan apa yang sedang dia ucapkan.


Semua orang merasa sangat bahagia, mereka sampai meneteskan air mata saat mendengar penuturan Dokter itu. Apalagi Aleta dan Agra yang menatapnya dengan tidak percaya sembari buliran air mata menetes di wajah mereka.


Agra segera memeluk dan mengecup seluruh wajah Aleta, dia merasa sangat bahagia. Agra yang sebelumnya tidak pernah menangis, hari ini menjatuhkan air matanya saat melihat anak-anaknya hadir di rahim sang istri.


Suasana bahagia terus menyelimuti mereka, apalagi Agra yang terus menempel pada sang istri dengan senyum merekah yang menghiasi wajah tampannya. Karna hari semakin sore, Agra menyuruh semua keluarganya untuk pulang. Awalnya mereka menolak, dan ingin menemani Aleta. Namum Agra tidak mengizinkannya, dia ingin menemani Aleta seorang diri.


Setelah kepergian keluarganya, Aleta kembali beristirahat dengan tetap di temani oleh Agra. Namun tiba-tiba, Agra teringat satu hal penting yang lupa dia tanyakan pada Dokter Sila.


"apa aku boleh bercinta saat Aleta sedang hamil?" Agra merasa kesal karna lupa menanyakan hal itu pada Dokter.





TBC.


Yuk Like dan Komen yg banyak, VOTE dan Rating 5, Kasi Hadiah juga ya 🥰 supaya karya othor ini bisa berkembang 😍


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2