
"namanya apa?" tiba-tiba suara Agra mengagetkan mereka yang tengah bersitegang. Sontak semua mata langsung melihat ke arahnya yang sedang bersandar di depan pintu.
Aleta dan teman-temannya saling lirik-lirikan, mereka sedang menerka-nerka apakah lelaki itu mendengar apa yang mereka bicarakan atau tidak.
Agra melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah sang istri dan langsung mengecup bibirnya membuat semua orang kaget, terlebih-lebih Aleta yang menegang di atas ranjangnya.
"kenapa? kok pada diam?" tanya Agra sembari duduk di samping Aleta, dia memeluk istrinya itu dengan posesif membuat tiga manusia yang sedang melihatnya semakin melebarkan mata mereka.
"Agra, apa yang terjadi?" Aleta memegang kening Agra untuk memastikan bahwa suaminya itu tidak sakit.
"Aku merindukanmu." Agra semakin mengeratkan pelukannya, dan terus mengecupi pipi Aleta membuat wanita itu kembali terlonjak kaget.
Lusi, Egi dan Bima menelan salive mereka melihat itu semua, perasaan mereka dipenuhi dengan rasa iri dengki.
"Aleta, apa kami ini transparan dimata suamimu?" ucap Lusi yang sudah tidak sanggup lagi melihat tingkah suami sahabatnya itu.
"Eh, ehem." Aleta segera menahan bibir Agra yang tidak bisa dikondisikan, namun suaminya itu sepertinya sedang sangat lapar sehingga terus saja memakannya.
"kalau gitu kalian pergi deh, kayak nya suamiku mau anu," usir Aleta dengan malu-malu membuat Agra langsung mengangkat kepalanya yang sedang bersandar dibahu sang istri.
"mau anu apa?" tanyanya dengan bingung, sementara tiga makhluk yang sedang menjadi penonton hanya mengelus dada mereka berharap kalau mereka juga bisa anu. 🤭
"anu itu loh, anu-anuan," penjelasan ambigu dari Aleta semakin membuat Agra membuka mulutnya, dia merasa semakin bingung.
"mau ngomong bercinta saja pakek bahasa anu-anuan segala," seru seseorang dari arah pintu membuat semua orang langsung mengarahkan pandangannya pada orang tersebut.
"kau! ngapain kau di sini?" tanya Agra yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Rezie di tempat itu, sementara Rezie hanya acuh saja dan merasa tidak peduli.
Rezie masuk ke dalam ruangan bersama dengan Ricky yang sedang menahan tawa akibat perkataan Aleta, membuat wanita itu membuang muka karna malu.
"Dokter Ricky!" seru Lusi yang terlihat sangat bahagia saat melihat lelaki itu, matanya berbinar-binar penuh bunga saat menatapnya.
"kenapa kau? mau di anu juga sama Ricky?" sambar Rezie yang langsung membuat Lusi melotot ke arahnya.
"kalian berdua cocok loh, kenapa kalian-
__ADS_1
"tidak!" potong Lusi dan Rezie bersamaan, mereka sangat kompak sekali dalam membantah ucapan seseorang.
"nah kan, kalian kompak banget," tambah Aleta lagi membuat semua yang ada diruangan itu mengaminkannya, kecuali Lusi dan Rezie.
"Aleta, kenapa kau kejam sekali padaku. Apa kau pikir aku mau sama laki-laki dari gua hantu sepertinya,"
"apa kau bilang? laki-laki dari gua hantu?" teriak Rezie yang merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Lusi. Dia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Lusi yang membuat Lusi kalang kabut, dia berlari ke arah Ricky untuk meminta pertolongan.
"Pak Dokter, tolong aku." Lusi memeluk tubuh Ricky dengan erat membuat Ricky menegang dan tidak tau harus berbuat apa.
"lumayan, dapat memeluk Ricky yang tampan ini," Lusi mengambil kesempatan dalam kesempitan, kapan lagi bisa memeluk lelaki itu, pikirnya.
Aleta hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah tau dengan akal busuk temannya itu, begitu juga dengan Egi dan Bima yang berdecak kesal melihat tingkah gadis perawan yang tidak ada malunya sedikit pun.
"takut sih takut, tapi jangan nempel juga kali kayak perangko," cibir Aleta membuat Lusi langsung melepaskan pelukannya.
"tapi, kau pernah masuk penjarakan gara-gara dia?" tanya Agra dengan tetap memeluk istrinya, entah kenapa dia tidak bisa lepas satu senti saja dari Aleta. Padahal Aleta sendiri sudah merasa risih, apalagi saat ini banyak orang di ruangannya.
"benar. Gara-gara wanita sialan ini aku jadi punya catatan hitam." Tunjuk Rezie tepat di mulut Lusi membuat bibir wanita itu tersenggol dengan jarinya, Lusi langsung memegang jari Rezie dan menggigitnya dengan kuat.
"makanya jarimu itu disekolahkan, bisa-bisanya kau menyentuh bibirku yang masih perawan ini," bentak Lusi dengan dada yang naik turun menahan emosi, kalau saja yang melakukannya adalah Ricky, sudah pasti dia akan dengan sangat senang menyerahkan bibirnya yang seksi itu.
Kemudian Ricky memilih angkat bicara dan menengahi pertengkaran mereka, karna kalau sampai itu berlanjut, sudah pasti pihak keamanan akan datang untuk menyeret mereka keluar dari Rumah sakit.
Setelah kondisi tenang, Rezie bertanya mengenai kondisi Aleta dan juga kandungannya. Begitu juga dengan Ricky yang baru sempat menjenguk Aleta, padahal dia ada di Rumah sakit itu juga. Namun karna banyaknya pekerjaan, maka dia tidak sempat untuk melihat keadaan wanita itu.
Agra hanya menjadi pendengar budiman di antara mereka, dia malas untuk bicara. Namun tangannya tetap memeluk Aleta, dengan kepala yang tidak beranjak dari bahu sang istri.
"Aleta, apa tadi malam dia tidak mendapat jatah?" tunjuk Rezie pada Agra yang sudah seperti cicak menempal didinding.
"cih, jatah apa. Dia aja harus berbaring di ranjang pesakitan ini," cibir Agra sambil mencebikkan bibirnya, dia merasa kesal karna tidak bercinta dengan Aleta.
Astaga, mereka semua kembali mengelus dada mendengar ucapannya, bisa-bisanya lelaki itu masih kepikiran untuk bercinta disaat sang istri sedang sakit.
"ranjang pesakitan ranjang pesakitan, kan kau yang buat aku jadi gini," Aleta tidak terima dengan apa yang Agra ucapkan, seenaknya saja lelaki itu lempar batu sembunyi tangan.
__ADS_1
Agra tidak lagi membalas ucapan sang istri dan memilih untuk kembali menyandarkan kepalanya dibahu Aleta.
Setelah selesai dengan urusan mereka, teman-teman Aleta memutuskan untuk pulang. Begitu juga dengan teman-teman Agra yang pamit untuk pergi karna memang masih ada pekerjaan yang harus mereka lakukan.
"Lepas! gerah tau." Aleta berusaha melepas tangan Agra yang melingkar diperutnya, namun bukannya terlepas, tangannya itu malah semakin memeluknya dengan erat.
"kau kenapa? apa kesambet siluman ular?" tanya Aleta sembari melihat ke arah Agra, dia merasa heran melihat tingkah suaminya hari ini.
"apa ada yang terjadi? oh ya, bagaimana pertemuanmu dengan Mona?" tanya Aleta yang pura-pura tidak tau, dia ingin lihat apakah Agra akan berkata jujur atau tidak.
Agra menghembuskan napas kasar, dia terlihat enggan untuk menceritakan semuanya pada sang istri.
"Kenapa? apa kau tidak mau cerita?" Aleta dapat melihat kalau Agra sangat keberatan untuk menceritakannya, namun ya sudahlah dia tidak ingin ambil pusing.
"wanita itu mencium bibirku," ucap Agra tiba-tiba. Aleta yang sudah berbalik kembali mengarahkan pandangannya pada Agra, lelaki itu menundukkan kepalanya kebahu Aleta.
"apa kau menikmatinya?" tanya Aleta dengan tajam.
"ya, tapi-"
"apa?" teriak Aleta dengan kencang membuat Agra terlonjak kaget dengan telinga berdengung.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍
__ADS_1