Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 102. Perasaan Devo


__ADS_3

Setelah urusan dengan Aleta selesai, Devo segera menelpon Felix untuk membicarakan sesuatu. Dia lalu berjalan kembali ke ruangan Ayah Dion dengan ditemani oleh Mona.


"nak, ke mana kakakmu?" tanya Ayah Dion saat Devo baru masuk ke ruangannya. Semenjak dia dirawat di Rumah sakit, Devo selalu berada di sampingnya. Walau sifatnya masih dingin dan bermulut pedas, namun itu lebih baik daripada tidak melihat keberadaannya.


"kerja," jawab Devo yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Devo, kau harus menghubungiku kalau semua rencana kita sudah selesai," bisik Mona, dia takut kalau Ayah Dion mendengar apa yang dia ucapkan. Devo hanya menganggukkan kepalanya, lalu Mona pamit untuk pulang ke rumahnya.


"Devo, kau tidak akan melakukan sesuatu lagi kan pada Agra?" tanya Ayah Dion, dia tidak mau kalau putranya itu menyakiti orang lain.


"kenapa?" tanya Devo, dia tidak suka kalau hidupnya harus diatur-atur.


"sebenarnya kesalahan apa yang telah Agra lakukan padamu? bukannya dia memperlakukanmu dengan sangat baik?" Ayah Dion benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran putranya itu, persis seperti sifat almarhum ibunya.


"keberadaannya! keberadaannya lah yang telah melukai hatiku!" ucap Devo.


Ayah Dion memandangnya dengan sedih, sebenarnya apa yang salah dengan keberadaan Agra ? bukannya dia adalah laki-laki yang sangat baik ?


"kenapa nak? kenapa kau mengatakan itu?" tanya Ayah Dion kembali.


"kehadirannya mengganggu hidupku!" ucap Devo dengan santai seperti sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan.


"sebenarnya apa yang terjadi pada anakku?" Ayah Dion merasa sedih melihat apa yang terjadi pada Devo.


Felix yang ternyata sudah berada di depan pintu ruangan sang Ayah tidak jadi masuk karna mendengar ucapan Devo, adiknya itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"nak-" Ayah Dion tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat Felix masuk ke ruangannya, Felix lalu menggelengkan kepalanya pada Ayah Dion agar tidak mengatakan sesuatu pada Devo.


"Kau sudah sampai?" Devo mendongakkan kepalanya untuk melihat Felix, lalu dia kembali melihat ke arah ponsel yang sejak tadi ada ditangannya.


"kau ingin bicara denganku?" tanya Felix yang langsung pergi ke rumah sakit saat Devo menelponnya. Dia sampai berbohong pada Agra karna ucapan Devo.


"Ikut aku!" Devo beranjak keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh Felix, sementara Ayah Dion hanya melihat kepergian kedua putranya dengan sedih.


"ada apa? apa ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Felix setelah mereka berada di atap rumah sakit.

__ADS_1


"aku akan kembali pada Ayah, aku akan melupakan semua masa lalu. Dan aku juga akan menerima kau sebagai kakakku," ucap Devo dengan lantang membuat tubuh Felix menegang, jantungnya berdebar sangat kencang saat mendengar ucapan sang adik.


"be-benarkah?" tanya Felix yang tidak percaya dengan apa yang Devo ucapkan.


"benar! tapi, ada sesuatu yang aku inginkan. Ini adalah permintaan terakhirku padamu, kak,"


Tubuh Felix bergetar saat mendengar panggilan Devo untuknya, tubuhnya limbung ke belakang karna merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"aku mohon kak, kabulkan keinginanku," pinta Devo, Felix segera mendekat dan memeluknya. Sungguh hatinya merasa sangat bahagia saat ini.


"katakan! katakan apa yang kau inginkan!" ucap Felix setelah melepas pelukannya.


"aku-aku ingin menikahi Aleta," lirih Devo.


"apa? kau bilang?" tanya Felix yang benar-benar kaget dengan apa yang Devo ucapkan.


"Aku ingin menikah dengan Aleta, aku ingin membawanya bersamaku."


Plak, satu tamparan mendarat di wajah Devo membuat lelaki itu menundukkan kepalanya sedangkan Felix terlihat sangat emosi dengan apa yang diinginkan Devo.


"kau sengaja mengatakan akan menganggap aku sebagai kakakmu supaya aku mengkhianati Tuan Agra, begitu kan?" tambah Felix lagi, baru kali ini dia menumpahkan seluruh amarahnya pada Devo.


"kau bisa memiliki semua wanita dimuka bumi ini, tapi kenapa Aleta? hah! apa karna dia istri Tuan Agra?" Felix semakin menggila, andai Devo bukan adiknya sudah pasti dia akan melenyapkan lelaki itu.


"karna aku mencintainya, aku mencintainya!" balas Devo dengan tajam, wajahnya sudah memerah akibat tersulut emosi.


"cinta kau bilang? itu bukan cinta Devo, melainkan obsesimu untuk selalu menghancurkan Tuan Agra," bantah Felix, adiknya itu sepertinya punya penyakit mental yang terobsesi dengan Agra.


"tau apa kau tentang aku? hah!" Devo juga tak tinggal diam, dia terus melawan dengan apa yang diucapkan sang kakak.


"aku akan membawa wanita manapun yang kau mau, asal tidak dengan Aleta. Dia adalah istri dari Tuanku!" Felix tidak mau mengkhianati Agra karna dia tau betul bagaimana besarnya cinta yang Agra miliki untuk sang istri.


"aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan, yang pasti aku akan membawa Aleta bersamaku!" Devo berbalik pergi meninggalkan Felix dengan emosi yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya.


"Tidak! kau tidak akan melakukan itu!" Felix mencekal lengan Devo membuat lelaki itu menghentikan langkahnya, dia akan melakukan apapun untuk menghalangi niat busuk sang adik.

__ADS_1


"Kau laki-laki sempurna Devo, kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Aleta."


Devo melepas cekalan tangan Felix dengan kuat membuat tubuh lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang.


"tau apa kau tentang aku? hah!" teriak Devo dengan dada naik turun menahan emosi.


"kau yang sudah merebut seluruh kasih sayang dan kebahagiaan keluargaku, kau merebut cinta Ayah dariku, kau bahkan merenggut nyawa Ibuku. Jadi tau apa kau tentang aku?" Devo meneteskan air matanya membuat Felix tidak mampu berkata apa-apa.


"Apa kau tau bagaimana hidupku setelah kedatanganmu? aku bahkan tidak pernah menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibuku, jangankan menghabiskan waktu, untuk melihat wajah Ayah saja rasanya sangat mustahil untukku." Devo menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Ibuku selalu bertengkar dengan Ayah gara-gara ibumu, aku tidak pernah mendapat perhatian dari mereka. Bahkan para pelayan terlihat enggan untuk berbicara denganku. Kau merenggut perhatian dan kasih sayang yang selama ini diberikan untukku,"


"Bahkan Ayah mengasingkan ku selama satu minggu di Vila bersama pelayan. Apa kau tau bagaimana aku mengahabiskan waktu di tempat itu? aku mengurung diri dalam kamar sepanjang hari, aku selalu mendengar bisik-bisik pelayan yang memujamu. Mereka mengatakan bahwa kaulah yang lebih layak untuk menjadi anak Ayah,"


"apa kau tau rasa sakit yang aku rasakan? bagaimana sakitnya hatiku saat melihat kau bersenang-senang dengan Ayah dan juga ibumu sementara aku terkurung sepi di dalam kamarku? aku melihat ibuku pergi dari rumah sementara kau tertawa bersama ibumu? hancur Felix, hatiku sangat hancur," untuk pertama kalinya Devo mengungkapkan perasaanya selama ini.


"aku bahkan harus kehilangan ibuku yang berusaha untuk menolongmu, sampai disisa hidupnya dia tidak pernah lagi memelukku," Devo menundukkan kepalanya dengan air mata yang coba dia sembunyikan dari Felix.


"sekali saja, hanya sekali saja aku ingin bersama dengan orang yang aku sukai," lanjut Devo yang tetap bersikukuh untuk bersama dengan Aleta.


Felix tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk membantah apa yang Devo ucapkan, karna memang yang dia katakan adalah benar.


"maafkan aku, maafkan aku Devo,"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍

__ADS_1



__ADS_2