Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 90. Mencari Devo


__ADS_3

Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, akhirnya mobil Agra dan Felix sudah sampai dihalaman depan rumah Mona. Dengan langkah lebar Agra dan Felix segera turun dan berjalan ke rumah bercet putih itu.


"Mona, keluar kau!" Felix yang ingin memencet bel kalah cepat dengan suara teriakan Agra, lelaki itu sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang mantan.


Mona yang sedang berbicara dengan seseorang langsung kalang kabut saat mendengar suara teriakan Agra, dia segera beranjak dari duduknya dan menyuruh lawan bicaranya untuk bersembunyi.


"keluar kau!" lagi-lagi suara teriakan Agra terdengar, untung saja rumah itu agak jauh dari jalan raya sehingga tidak menjadi bahan tontonan bagi orang lain.


"A-Agra kau-" Mona tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Agra langsung masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh Felix.


"katakan! di mana bajingan itu?" teriak Agra lagi sembari menatap tajam Mona membuat seluruh tubuh Mona bergetar karna takut.


"A-aku-aku belum bertemu dengan-" Agra segera mendekat ke arah Mona dan mencekik leher wanita itu sampai Mona terbatuk-batuk karna ulahnya. Felix yang melihatnya merasa terkejut, terlebih-lebih seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari dalam lemari.


"A-Agra uhuk." Air mata menetes diwajah Mona kala cekikikan Agra semakin kuat mencengkram lehernya. Agra segera melepaskan tangannya saat melihat Mona sudah 1 meter lagi menuju alam akhirat.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Mona terus terbatuk-batuk karna ulah Agra, sementara Agra masih menatapnya dengan tajam.


"bawa aku ke hadapannya sekarang juga!" perintah Agra dengan penuh penekanan.


"hebat, hebat sekali. Kau sudah banyak berubah Agra," Devo terus memperhatikan mereka, dan matanya menatap pada satu makhluk yang saat ini berdiri tak jauh dari Agra.


"dia-dia bukannya-" Devo benar-benar terkejut saat melihat seorang pria yang saat ini berada di sisi Agra.


Brak, suara guci yang terjatuh diruangan itu terdengar sangat nyaring. Mona yang masih terdampar dilantai sangat terkejut saat Agra memecahkan guci kesayangannya, guci pemberian dari Agra.


"Sebenarnya apa maumu Mona? kalau kau tidak bisa membuat aku bertemu dengan bajingan itu, maka jangan lagi muncul dihadapanku! atau kau mau kalau aku benar-benar menghabisimu?" Agra melangkahkan kakinya membuat Mona beringsut ke belakang untuk menjauh dari lelaki itu.


"kenapa Agra? kenapa kau berubah jadi sekejam ini padaku?" Mona sudah tidak bisa menahan air mata yang terus membasahi wajah cantiknya.


"Felix!" Agra mengulurkan tangannya untuk meminta sesuatu pada sekretarisnya itu, Felix segera memberikan sebuah pistol yang langsung membuat Mona membulatkan matanya. Begitu juga dengan Devo yang saat ini masih setia menjadi penonton dalam lemari.


"dia sudah mainan pistol sekarang," gumam Devo sembari melihat Agra memainkan pistol berwarna hitam itu di tangannya.


Tubuh Mona bergetar hebat saat melihat itu, betapa seramnya Agra saat ini. Lelaki itu sudah seperti seorang mafia yang siap menghabisi lawannya.

__ADS_1


"A-Agra aku-aku bisa membawamu padanya."


Mata Devo melotot dengan sempurna saat mendengar ucapan Mona, dia sudah ketar-ketir sendiri kalau sampai Mona memberitahu tempat persembunyiannya saat ini.


Felix masih menjadi penonton dan pendengar budiman, sesekali matanya melirik ke arah lemari goyang yang tadi sempat tertangkap matanya.


"teruslah bersembunyi seperti tikus, karna belum saatnya kau muncul dihadapan Agra," Felix tersenyum sinis karna mengetahui kalau saat ini Devo sedang bersembunyi di dalam lemari.


"bangun! dan bawa aku padanya saat ini juga!" perintah Agra pada Mona yang langsung membuat wanita itu bangkit dari duduknya.


Mona segera berjalan keluar diikuti oleh Agra dan Felix, wanita itu ingin membawa Agra ke tempat tinggal Devo saat ini. Namun sebelum kaki Felix mencapai pintu, dia berhenti dan menoleh ke arah lemari goyang tadi. Dia menerbitkan senyum tipis dan kembali melangkahkan kakinya ke arah mobil.


Devo yang sudah melihat mereka pergi bernapas lega, dengan perlahan dia keluar dari tempat persembunyiannya.


"kenapa aku merasa, kalau dia sebenarnya tau aku ada dalam lemari," gumam Devo saat tadi melihat Felix menoleh ke arah lemari.


Dia segera melangkahkan kakinya ke lantai dua untuk mengambil sesuatu, sementara Agra dan yang lainnya sudah bergerak menuju kawasan Seina.


Mona terus meremas tangannya sepanjang perjalanan, dia melirik Agra yang saat ini sedang duduk disampingnya. Otaknya terus berpikir keras bagaimana caranya supaya Agra kembali mencintainya, namun saat ini dia harus membuat lelaki itu percaya kalau dia benar-benar bisa membawanya pada Devo.


Mona melangkahkan kakinya menuju apartemen yang selama ini ditempati oleh Devo sembari memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini, dia harus melakukan sesuatu agar Agra percaya padanya.


Setelah sampai di depan unit apartemen yang ditempati Devo, Mona segera mengetuk pintunya dan sampai beberapa kali mengetuk namun tidak juga ada yang membuka pintu.


"mana? mana yang kau bilang?" seru Agra sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding, dia sudah mulai jengah saat melihat semua itu.


"mungkin dia sedang pergi," ucap Mona.


Agra berdecak kesal saat mendengarnya, apa mungkin ucapan wanita itu dapat dipercaya?


Tiba-tiba seorang pria keluar dari unit apartemen yang ada di depan apartemen Devo, Felix segera bertanya pada pria tersebut sembari menunjukkan foto Devo padanya.


"oh dia, mungkin sedang keluar," jawab pria tersebut.


"jadi lelaki ini memang tinggal di sini?" tanya Felix lagi dan dijawab dengan anggukan kepala pria itu.

__ADS_1


Kemudian pria tersebut pamit dan meninggalkan mereka bertiga yang masih berdiri di depan unit apartemen Devo. Mona bernapas lega saat melihat apa yang terjadi, sudah jelas bahwa Agra akan percaya padanya karna memang sudah terbukti kalau Devo tinggal diapartemen ini.


"bagaimana kau bisa tau kalau dia tinggal di sini?" tanya Agra dengan tajam.


"Aku tidak sengaja melihatnya dikawasan ini, lalu aku mengikutinya dan melihat dia masuk ke dalam." tunjuk Mona pada apartemen Devo.


Agra hanya diam mendengar penjelasan wanita itu, dia sedang berpikir bagaimana mencari pria itu saat ini juga.


"tapi terkadang dia datang kerumahku, dan mengancamku agar tidak memberitahu ke beradaannya padamu," lanjutnya lagi. Agra mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Mona.


"kenapa dia bisa mengancammu? bukannya selama ini kalian masih berhubungan?" sindir Agra sembari tersenyum sinis.


"aku tidak pernah berhubungan dengannya Agra! aku diperkosa, dan diancam supaya mau membantunya saat itu," bantah Mona sambil terisak, dia mencoba untuk menarik simpati dari lelaki itu.


Agra hanya menghembuskan napas kasar, persetan dengan yang terjadi di masa lalu. Saat ini dia hanya ingin bertemu dan menghajar bajingan itu sampai mati. Dia tidak lagi emosi perihal masa lalu, namun bajingan itu kembali mengganggu istrinya yang membuat darahnya seketika mendidih.


"Felix, segera caritau di mana bajingan itu saat ini. Perintahkan semua orang untuk mencarinya!" Agra melangkahkan kakinya untuk keluar dari kawasan itu diikuti oleh Felix dan juga Mona.


Mona yang akan masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya saat mendapat tatapan tajam dari Agra, dia kembali menutup pintu mobil itu dan melihat mobil Agra melaju meninggalkannya.


"aku harus bergerak cepat," gumam Mona sembari menelpon Devo untuk menjalankan rencana mereka.





TBC.


Terima Kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍


__ADS_1


__ADS_2