
Setelah kepergian mama Lena, Aleta mematung di depan pintu. dia tidak tau harus melakukan apa di tempat itu, tapi rasa penasaran timbul dihatinya untuk melihat sekeliling apartemen Agra.
Aleta memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, dia mulai berjalan ke arah dapur untuk melihat tempat di mana nanti dia akan menyiapkan makanan untuk Agra. eeh ðŸ¤
Perlahan namun pasti Aleta menyusuri semua tempat yang ada di ruangan itu, dengan memegang apel ditangan kanan yang dia ambil dari meja dapur.
Sampailah Aleta di depan sebuah kamar yang dia yakini adalah tempat tidur Agra. lalu Aleta membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut.
"gila, rapi banget kamarnya," ucap Aleta sambil memperhatikan seisi kamar.
"kamarku aja gak serapi ini," gumamnya sambil melangkahkan kaki ke dekat ranjang.
"eeh, siapa ini?" Aleta menemukan selembar foto yang terjatuh di sebelah ranjang.
Namun, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang dia yakini kalau itu adalah Agra. dengan cepat Aleta bersembunyi di balik ranjang dengan menjongkokkan tubuhnya.
"tunggu, kenapa aku sembunyi coba...," ucap Aleta. seharusnya kan dia langsung saja keluar dari kamar, tidak perlu sembunyi seperti itu.
Agra yang baru pulang dari perusahaan mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu bersama dengan Felix.
"bagaimana?" tanya Agra soal penyelidikan yang dia perintahkan.
"saya sudah menemukan semua buktinya tuan." Felix menyerahkan semua bukti tentang penjebakan yang Aleta dan teman-temannya lakukan.
Agra langsung melihat apa yang di beri oleh Felix. mulai dari kedatangan Aleta ke club malam itu dan membayar seorang pelayan untuk mengabari mereka dan memberi obat pada Agra dan teman-temannya. sampai pada mereka membawa Agra ke dalam hotel dan menelanjanginya.
"kurang ajar...," Agra geram melihat perbuatan mereka.
"awas kalian," ucapnya sambil menutup kembali laporan yang dibawa Felix.
"apa saya harus melaporkan hal ini pada polisi tuan?" tanya Felix.
__ADS_1
Agra berpikir sejenak, dia memang berniat untuk membawa penjebakan ini ke ranah hukum. tapi sekarang dia punya pemikiran yang dirasa jauh lebih bagus dari pada itu.
"tidak, biarkan saja semuanya. bukannya gadis kecil itu mau menikah denganku, maka aku akan mengabulkan keinginannya," ucap Agra dengan seringai tipis dibibirnya.
Felix menganggukkan kepalanya sembari menyimpan kembali bukti-bukti itu ke dalam tas kerjanya.
"loh, apa ini?" Agra mengambil sebuah tas berwarna ungu dengan gambar beruang di atasnya.
"Felix, apa ini tasmu?" tanya Agra sambil membolak-balikkan tas itu.
"tidak tuan, saya tidak pernah memakai tas seperti itu," jawab Felix sambil ikut melihat ke arah tas berwarna ungu.
Agra segera membuka tas tersebut dan mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalamnya. terdapat buku-buku tentang medis, juga ada make up dan dompet kecil berwarna merah muda.
Agra mengambil satu buku dan membukanya, dia bisa melihat dengan jelas nama yang tertulis dibuku itu.
"Aleta...." Agra langsung berdiri dan melihat ke sekeliling apartemennya.
Felix pun memeriksa ke arah dapur untuk menangkap pencuri, eh bukan tapi untuk menangkap Aleta sedangkan Agra memeriksa di bagian lantai atas.
Agra memeriksa di ruang kerjanya, tapi tidak ada. lalu memeriksa di bagian kamar tamu, juga tidak ada. terakhir dia memeriksa ke dalam kamarnya sendiri, dan menutup pintunya dengan kasar.
Brak. Aleta sampai terjingkat dibalik ranjang mendengar suara benturan pintu. seketika tubuhnya diselimuti oleh rasa takut.
"ya tuhan. selamatkan aku...." Aleta meremas tangannya dan mencoba untuk mengintip keberadaan Zarga.
"kau mau keluar sendiri, atau aku yang akan menyeretmu dari sana," ucap Agra. dia sudah tau dimana Aleta bersembunyi.
"aku keluar, aku keluar," teriak Aleta sambil keluar dari tempat persembunyiannya.
Agra menatap tajam Aleta yang sedang berjalan mendekat ke arahnya sambil menundukkan kepala. dia benar-benar tak habis pikir dengan gadis itu, bisa-bisanya dia masuk ke dalam apartemen seorang lelaki sendirian.
__ADS_1
Aleta berhenti tepat dihadapan Agra, tapi dia tidak berani mengangkat kepalanya. Agra memajukan tubuhnya untuk lebih dekat pada gadis itu. semakin Agra maju maka Aleta semakin memundurkan tubuhnya. Namun, Aleta tidak bisa lagi mundur karna tubuhnya sudah membentur dinding sehingga tubuh Agra sekarang tepat menempel di tubuhnya.
"i.itu aku tadi dipaksa sama mama untuk datang ke sini," ucap Aleta tanpa ditanya. karna tidak ada jawaban apa pun dari Agra, maka Aleta memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan melihat lelaki itu.
deg. deg. deg jantung Aleta berdebar sangat kencang saat matanya bertatapan langsung dengan mata Agra. dia bisa merasakan hembusan napas Agra karna jarak mereka sangat dekat. kalau sedikit saja dia memajukan kepalanya, sudah pasti bibir Agra menabrak keningnya.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling pandang dengan debaran jantung yang seakan saling bersahutan. Agra menatap lekat-lekat rubah licik yang sedang ada dihadapannya saat ini, tangannya mulai naik ke atas untuk melakukan sesuatu pada rubah betina itu.
"tuan, jadilah lelaki sejati yang tidak memukul perempuan," ucap Aleta sambil meletakkan tangannya di atas kepala.
"awas saja, kalau sampai dia memukulku aku akan memecahkan telur nya itu." Aleta melihat tepat ke arah aset berharga Agra.
"kau berani sekali ya bermain-main denganku," ucap Agra sambil tetap menatap tajam padanya.
"tuan, ampuni saya yang hina ini. saya tidak bermaksud bermain-main dengan tuan, saya hanya meminta pertanggung jawaban dari tuan." Aleta memasang wajah memelasnya untuk mengharap belas kasihan dari Agra.
"wanita ini benar-benar bermulut manis." Agra menangkat tangannya tinggi-tinggi dan itu membuat Aleta juga mengangkat kakinya bersiap untuk memberi tendangan bebas.
•
•
**tbc.
kira-kira apa yang akan dilakukan Agra selanjutnya ya ?
apa dia akan mematahkan leher Aleta ?
duuuh othor jadi merinding**
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1