
Hari ini, Aleta dan kedua putranya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Suasana bahagia terus menyelimuti keluarga kecil mereka, begitu juga dengan keluarga besar Mahesa dan juga Winandra yang menyambut kepulangan mereka dengan penuh suka cita.
"welcome baby twins," teriak semua orang saat Aleta dan Agra sampai ke apartemen mereka.
Ruangan tamu yang biasanya diisi dengan sofa, rak dan lemari, kini sudah berganti dengan balon-balon serta bunga yang berwarna warni menghiasi seluruh apartemen.
Semua keluarga berebut ingin menggendong baby twins yang sejak tadi tidur di dalam gendongan sang Ibu.
"waah, wajahnya mirip sekali dengan kak Agra," seru Sisi yang saat ini sedang mengganggu Daffa yang berada dalam gendongan Mama Lena.
"ya iya lah, orang Agra Papanya. Masa iya mirip sama felix!" ucap Mama Lena sembari mengecup gemas pipi Daffa.
Disisi lain, Mama Deeva sedang menggendong Daffi. Bayi mungil itu terlihat menggeliatkan tubuhnya karna merasa terganggu dengan keusilan orang-orang yang sedang melihatnya.
"aku jadi pengen juga punya anak," seru Rezie yang saat ini sedang duduk disofa bersama dengan Ricky dan juga Felix.
"ya sudah, buat sana!" ucap Ricky sembari menyeruput jus yang sudah terhidang dihadapan mereka.
"buat nya sih udah, tapi belum pas," balas Rezie sembari tertawa kecil, sementara yang lain hanya mencebikkan bibir mereka mendengar ucapan lelaki itu.
"oh ya Felix, bagaimana keadaan Devo?" tanya Ricky pada Felix yang sejak tadi tidak bersuara, di mana pun dan kapan pun lelaki itu pasti hanya akan menjadi penonton setia.
"dia baik, saya sangat berterima kasih pada Tuan Agra dan anda berdua karna sudah mengampuninya," ucap Felix, dia merasa sangat bersyukur karna saat ini sang adik baik-baik saja.
"yah, memang semua patut kita syukuri. Tapi, dia juga harus segera diobati. Mentalnya benar-benar sangat bermasalah," balas Ricky, dari awal memang dia sudah tau kalau Devo punya penyakit mental yang harus ditangani oleh ahlinya.
Felix hanya menganggukkan kepala untuk menjawab apa yang Ricky ucapkan, dia sudah mengkonsultasikan semua itu pada Dokter.
Oek, oek, oek. Suara tangisan Daffa menggelegar diseluruh penjuru apartemen. Mama Lena terlihat kebingungan untuk menenangkannya, dia sudah menyayunkan tangannya ke kanan dan kiri tetapi Daffa malah semakin mengeraskan suaranya.
"Cup, cup, cup. Kenapa anak Mama?" Aleta segera mengambil alih gendongan Daffa untuk menenangkan putranya yang semakin terisak, sementara Daffi masih tertawa dengan riang gembira bersama dengan Mama Deeva dan yang lainnya.
"mungkin Daffa haus, sayang," ucap Agra yang sedang melihat ke arah sang putra.
Aleta beranjak membawa Daffa ke dalam kamar dengan diikuti oleh Agra, tetapi tangisan Daffa masih saja keluar membuat mereka kebingungan.
__ADS_1
"ada apa sayang, hem?" Aleta menimang-nimang Daffa agar tangisannya berhenti.
Setelah setengah jam berada di dalam kamar, akhirnya Daffa terlihat lebih tenang. Aleta segera menyusuinya agar sang putra bisa kembali tidur sedangkan Agra membaringkan tubuhnya di samping Daffa.
"Kok bisa ya, keluar susu dari sini?" Agra menoel-noel puncak benda kenyal itu membuat Daffa kesusahan untuk menyedot susunya.
"jangan gangguin Daffa! nanti dia nangis lagi loh," ucap Aleta sembari menyingkirkan tangan Agra yang sejak tadi menyentuh aset kembarnya.
"kenapa ya, Daffa sering sekali menangis?" tanya Aleta yang merasa kalau putra sulungnya ini sering sekali menangis.
"namanya juga masih bayi, ya wajarlah nangis," ucap Agra, dia memainkan tangan sang putra untuk menggenggam jemarinya.
"tapi Daffi kan enggak, sayang," ucap Aleta lagi, dia merasa sedikit khawatir melihat anak pertamanya.
"kembar bukan berarti sama, kan? mereka berdua itu berbeda, yang sama hanya waktu lahir dan wajah mereka saja," jelas Agra, dia tidak mau kalau Aleta menganggap kedua anaknya sama.
Kemudian Aleta mengecup kening Daffa sembari mengelus puncak kepalanya, dan Daffa sendiri sudah terlihat memejamkan mata.
Aleta kemudian beranjak untuk kembali menemui semua orang, tetapi pada saat Aleta menurunkan kakinya, Agra dengan cepat menarik tangan wanita itu hingga terjatuh di atas tubuh Agra.
"sayang, di bawah semua orang sedang menunggu kita. Kita tidak mungkin melakukan itu!" tolak Aleta, dia menahan tangan Agra yang akan masuk ke dalam segitiga bermudanya.
"Tapi aku mau, sayang!" Agra segera melancarkan aksinya dengan mencium bibir Aleta dengan bringas, dia memaksa Aleta untuk menerima segala yang dia lakukan.
Aleta yang awalnya menolak pun mulai membalas ciuman Agra, lelaki itu mengecupi seluruh tubuh Aleta tanpa tertinggal satu senti pun.
Agra mulai melepaskan pakaian Aleta satu persatu dan hanya meninggalkan segitiga berwarna hitam dengan bra yang juga berwarna hitam.
Agra memuaskan segala hasrat yang sudah lama dia tahan, sejak Aleta masuk rumah sakit sampai hari ini dia belum mendapat jatah sama sekali.
Errangan dan dessahan yang keluar dari mulut Aleta semakin membuat Agra bersemangat, dia mengangkat tubuhnya untuk memasuki lembah Aleta yang sudah lembab dan basah.
"eeemmhh," Aleta memekik sakit saat Agra mulai memasukinya dengan kuat, rasa sakit itu hampir sama seperti saat mereka pertama kali melakukan hal tersebut.
"oough, kau sempit sekali Aleta," lirih Agra sembari memaju-mundurkan senjatanya yang terasa sedang dihimpit di dalam kenikmatan Aleta.
__ADS_1
Keringat mengalir deras ditubuh mereka saat ini, hentakan demi hentakan terus Agra lakukan untuk mencapai kepuasan bersama-sama.
"sayang, aaarrgh," teriak Aleta dan Agra bersamaan saat mencapai puncak, Agra ambruk di atas tubuh Aleta tanpa melepaskan senjatanya.
Dada mereka saling berbenturan untuk berebut oksigen yang terasa menyesakkan dada mereka. Kemudian Aleta mendorong tubuh Agra agar lelaki itu melepaskannya, dia beranjak bangun untuk pergi ke kamar mandi.
"Aleta! Agra! apa yang kalian lakukan di dalam?" teriak seorang wanita sembari mengetuk pintu kamar mereka.
"Se-sebentar Ma." Aleta berlari ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru sementara Agra malah terlelap di atas ranjang.
Mama Lena yang saat ini sedang menunggu di depan pintu merasa kesal, sudah hampir satu jam tetapi putra dan menantunya malah tidak menampakkan batang hidung mereka.
"Aleta, Agra!" panggil Mama Lena kembali dengan gedoran yang semakin kuat membuat Agra terlonjak kaget di atas ranjang.
Ceklek, Agra membukakan pintu itu untuk Melihat siapa orang yang sudah membuatnya terlonjak kaget.
"kalian ngapain aja, sih?" tanya Mama Lena dengan kesal, bisa-bisanya mereka malah menghabiskan waktu di dalam kamar.
"kami tadi ketiduran Ma, makanya lama," bohong Agra, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi di dalam kamar itu.
"Cepat turun! semuanya sedang menunggu kalian." Mama Lena segera pergi dari kamar itu dengan mulut yang terus menggerutu.
"cih, apa enaknya ngumpul seperti itu. Enakan juga di dalam kamar,"
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🙏
__ADS_1