
Acara resepsi pernikahan Agra dan Aleta berjalan dengan lancar dan meriah, apalagi pembawa acaranya adalah seorang artis papan atas yang sengaja di undang oleh Agra. Bukan hanya itu saja, banyak dari kalangan artis, pejabat, konglomerat sampai kolega bisnis Agra semua hadir memeriahkan acara mereka.
Agra dan Aleta menyambut mereka semua dengan hangat, sembari sesekali berfoto dan berbincang-bincang dengan para tamu. Begitu juga dengan keluarga besar mereka yang terlihat sangat menikmati acara tersebut.
Aleta duduk di kursi singgahsana nya, dia sudah sangat lelah melayani para tamu yang hadir di acara itu. Kakinya sudah pegal karna terlalu banyak berdiri, padahal biasanya dia mampu menelusuri seluruh pusat perbelanjaan seharian penuh. Agra juga terlihat sama lelahnya dengan Aleta, apalagi dia juga harus mengobrol dengan para kolega bisnisnya yang terasa banyak membuang energi.
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita memandang mereka dengan sayu. Air mata terus berjatuhan di wajah cantiknya saat melihat lelaki yang sangat dia cintai telah menikah dengan wanita lain. Margaret sudah benar-benar tidak punya harapan lagi, satu-satunya jalan ialah mengikhlaskan lelaki itu bersama dengan wanita yang menjadi pendamping hidupnya.
Margaret awalnya tidak ingin datang ke acara pernikahan Agra, namun Ricky mengatakan padanya untuk datang.
"Setidaknya lihatlah dia untuk yang terakhir kalinya sebagai orang yang kau cintai, karna esok harinya kau tidak berhak lagi untuk mencintai lelaki itu." Itulah perkataan Ricky yang begitu membekas dihatinya.
Margaret berusaha untuk menenangkan perasannya, walau rasa sakit itu jelas menyiksa di setiap dia menghembuskan napas. Rasa sesak beriringan dengan derai air mata yang tidak mau berhenti walau sudah coba dia tahan.
"Selamat untukmu Agra, aku do'akan semoga pernikahanmu berjalan dengan baik dan bahagia. Maaf karna aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Do'a tulus dia hadiahkan untuk pernikahan Agra dan juga Aleta.
Karna merasa sudah cukup lama berada di sana, Margaret memutuskan untuk pulang sebelum rasa sakitnya semakin besar. Dia segera berbalik menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Namun secara tidak sengaja, Margaret menabrak seorang pria yang langsung menariknya masuk ke dalam pelukan pria tersebut.
"apa anda baik-baik saja nona?" tanya Dareen. Ternyata dia adalah lelaki yang tidak sengaja di tabrak oleh Margaret.
"ti-tidak," Margaret berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh Dareen.
Dareen melihat ke wajah Margaret yang tampak sedih, bahkan lelehan air mata masih membekas di pipi wanita itu. Namun dia juga tidak berani bertanya, karna akan sangat lancang bertanya hal pribadi pada orang yang tidak dia kenal.
"maaf tuan, saya tidak sengaja," ujar Margaret dengan pelan. Dia melihat ke arah pria yang sepertinya mirip dengan seseorang namun dia tidak tau siapa orang itu.
"tidak papa nona," balas Dareen. Kemudian Margaret melanjutkan langkah kakinya ke tempat tujuan dengan diiringi tatapan mata Dareen.
"kenapa dia menangis," gumam Dareen sambil melihat ke arah Margaret pergi. Karna tak mau ambil pusing, Dareen kembali berjalan ke arah tujuannya.
****
Acara demi acara sudah selesai di laksanakan, para tamu undangan juga sudah mulai meninggalkan tempat acara itu. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berada di sana bersama dengan keluarga besar Agra dan Aleta.
__ADS_1
"Ale, kau pucat sekali," ucap Lusi yang memperhatikan wajah pengantin baru.
"iya Ale, kau sangat pucat," sambung Egi yang membenarkan ucapan temannya.
"aku lelah sekali, gak sangka kalau menikah bisa sampai selelah ini. aku gak mau lagi lah," seru Aleta yang membuat teman-temannya menghembuskan napas kasar.
"belum lagi apa-apa masa udah lelah sih, nanti malam kan kamu mau MP," ucap Lusi sambil mengedipkan sebelah matanya sedangkan Aleta hanya membuang muka sebal. Temannya itu selalu saja berpikir tentang malam pertama, kenapa tidak dia saja yang menikah, pikirnya.
"kalian masih di sini?" tiba-tiba Ricky dan Rezie menghampiri mereka yang tengah duduk di sebelah singgahsana pengantin.
"pak dokter juga masih di sini," ujar Lusi sambil tersenyum dengan sangat manis.
"kami sebentar lagi pulang kok, cuma lagi nunggu Agra," ucap Ricky yang ikut duduk bersama mereka.
"memang ke mana dia?" tanya Aleta yang memang tidak melihat keberadaan suaminya itu.
Ricky hanya menunjuk ke arah kamar Aleta memberitahukan kalau Agra pergi ke sana, kemudian Aleta memutuskan untuk ke kamar juga. Dia ingin mengganti gaun yang sedari tadi menempel di tubuhnya.
"pak dokter, besok saya izin tidak masuk ya," ucap Lusi tiba-tiba. Dia juga merasa sangat lelah karna harus membantu acara pernikahan sahabatnya.
Cih, Lusi mendengus sebal. Selalu saja lelaki itu ikut campur dalam urusannya.
"bukan urusanmu!" tegas Lusi, dia juga tak kalah sangar dari pria itu.
"kalau memang kamu lelah, gak papa kok izin gak masuk. Tapi satu hari aja ya," ucap Ricky menengahi mereka sebelum terjadi pertumpahan darah.
"duuh udah ganteng, baik lagi," puji Lusi pada Ricky yang di balas dengan gelengan kepala lelaki itu.
Pada saat yang sama, Agra yang baru selesai mandi terkejut saat keluar dari kamar mandi. Dia melihat Aleta sedang tengkurap di tengah ranjang hanya memakai celana pendek dan kaos dalam sedangkan gaunnya sudah berserakan di lantai kamar itu.
Agra segera mendekatinya untuk menyuruhnya mandi agar tubuhnya kembali segar.
"Aleta, bangun kamu!" Agra menggoyang-goyang tubuh Aleta agar gadis itu terbangun.
__ADS_1
"eenggh" Aleta hanya mengerang saja merespon panggilan Agra, lalu dia memutuskan untuk memakai pakaian nya dulu.
Setelah selesai, Agra kembali membangunkannya. Kali ini dia menepuk pantat Aleta dengan sedikit kuat dan berhasil membangunkan Aleta yang langsung terduduk di atas ranjang.
"apa sih kau!" bentak Aleta yang marah karna tidurnya di ganggu.
"mandi sana! bau tau udah seharian berkeringat," ledek Agra sembari menutup hidungnya sedikit menjauh dari Aleta.
Aleta mengendus tubuhnya sendiri untuk memastikan apa yang diucapkan Agra, lalu dia mencium bau asam yang langsung membuatnya berlari ke dalam kamar mandi. Agra tertawa saat melihat reaksi Aleta, kemudian berlalu ke luar untuk menemui teman-temannya.
Aleta menghabiskan waktu yang lumayan lama di dalam kamar mandi, dia menggosok seluruh tubuhnya agar tidak lagi dikatai bau oleh Agra. Setelah selesai, dia segera keluar untuk memakai pakaiannya.
Aleta melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, pantas saja matanya sudah sangat ngantuk. Apalagi di tambah dengan lelah yang dia rasakan, Aleta langsung ambruk di atas ranjang dan langsung masuk ke dalam alam mimpinya.
Agra yang sudah selesai mengantar kedua temannya pulang kembali berjalan ke arah kamar, dia juga sudah lelah dan ingin segera istirahat. Namun saat membuka pintu, ternyata kamarnya dikunci oleh Aleta dari dalam. Beberapa kali dia mencoba untuk mengetuk sembari meneriaki gadis itu, namun tidak ada jawaban dari dalam.
"dasar kurang ajar, berani sekali dia mengunci pintunya," gerutu Agra sambil kembali menggedor kamar Aleta.
Tak berselang lama, datanglah Dareen yang mendengar keributan di depan kamar sang adik.
"loh Agra, ada apa?" tanya Dareen dengan raut khawatir, dia takut pasangan pengantin itu bertengkar di hari pertama mereka sah menjadi suami istri.
"dasar adikmu itu, dia mengunci pintunya," Agra mengadu pada kakak iparnya membuat Dareen terkekeh geli. Lalu dia memberitahukan kalau Aleta memang biasa mengunci kamar sebelum tidur.
Agra sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia mendesah pasrah lalu melangkahkan kaki ke kamar tamu. Rencananya gagal total untuk membalas perbuatan Aleta tadi siang.
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Yuk dukung othor sebanyak-banyaknya, dukungan kalian sangat berharga untuk othor 🥰
Terima kasih buat yang udah baca 😘