
POV. Agra Mahesa.
"maaf Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan istri anda,"
Deg, aku mematung saat mendengar apa yang Dokter itu katakan seakan nyawaku terbang meninggalkan raga. Tubuhku terasa kaku, napasku terasa sesak seakan tercekat di tenggorokan.
Aku tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata padahal mulutku sudah terbuka dengan netra yang juga melebar, aku tidak bisa memahami apa yang Dokter itu sampaikan padaku.
"tidak! itu tidak mungkin! anakku masih hidup!"
Suara teriakan yang terdengar nyaring menyadarkan ku yang tengah dilanda kebingungan, aku melihat kembali ke arah beberapa Dokter yang masih menundukkan kepala mereka.
"ka-kau, kau bilang apa?" aku kembali bertanya untuk memastikan apa yang baru saja aku dengar.
"maafkan kami Tuan, maafkan kami,"
di-dia bilang apa? apa katanya?
Tubuhku bergetar hebat dengan deru napas yang terasa sesak saat ku dengar kata maaf dari mulutnya, aku tak mampu untuk menggerakkan tubuhku yang seakan kehilangan nyawa.
"nak, anakku, hiks," tubuhku dipeluk oleh Papa seakan semua yang aku dengar adalah sebuah kebenaran, ku lirik semua orang yang saat ini sedang terisak dengan Mama mertuaku yang tergeletak di atas lantai.
Tidak! ini tidak mungkin!
Aku mendorong tubuh mereka untuk masuk ke dalam ruangan di mana istriku berada. Aku berdiri tepat di samping ranjang yang memperlihatkan sosok wanita yang sangat aku cintai.
Aku mengangkat tangan yang gemetaran untuk menyentuhnya, mengelus wajah istriku yang tampak sangat pucat.
"Sayang, aku datang." Aku mengecup wajah Aleta yang terasa dingin, ku genggam tangannya yang berada di atas perut.
"Sayang, aku suamimu hiks, maafkan aku karna datang terlambat, hiks." Aku mengecup punggung tangannya seraya terus mengucapkan kata maaf, berharap dia akan terbangun dan memaki ku seperti yang biasa dia lakukan.
Tapi tidak! dia bahkan tidak bergerak sedikitpun, membuat hatiku pilu. Aku memeluk tubuhnya dengan erat, aku tidak akan pernah mengizinkannya untuk meninggalkanku.
"sayang, apa kau tidak mau melihat anak-anak kita? mereka sudah lahir, hiks. Buka matamu, biar aku, biar aku yang hiks-"
aku tidak dapat melanjutkan ucapanku yang terasa sangat menyakitkan, semua terasa begitu cepat. Aku berharap kalau semua hanyalah mimpi, dan ingin rasanya aku untuk bangun dari mimpi yang menyakitkan ini.
"nak, bangunlah. Jangan seperti ini!"
aku merasakan tepukan lembut dibahu ku, namun aku tidak peduli siapa dia dan apa maunya.
"sayang, bangunlah aku mohon hiks. Buka matamu, hiks aku mohon,"
hancur, satu kata yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini.
__ADS_1
kenapa? kenapa Kau begitu kejam padaku, Tuhan? kenapa?.
Aku meremmas kepalaku seraya terjatuh ke atas lantai yang dingin, kudengar beberapa orang berteriak dan mencoba mengangkat tubuhku namun aku tidak berdaya.
"kenapa? kenapa semua ini terjadi? hah!"
Teriakanku menggema diruangan neraka ini, yang seakan-akan membakarku dan seluruh hidupku.
"bangun Aleta! aku bilang bangun!" aku beranjak dari lantai dan mengguncang tubuh istriku agar dia bangun, aku tidak suka dengan caranya meninggalkanku seperti ini.
"bangun kau! aku tidak akan pernah memafkanmu kalau kau tidak membuka matamu sekarang juga!" aku semakin kuat mengguncang tubuh Aleta hingga ranjang itu bergeser menabrak meja kecil disebelahnya.
"hentikan Agra, hentikan! jangan seperti ini,"
Beberapa orang berusaha untuk melepaskan tanganku dari tubuh Aleta, namun tidak! mereka tidak berhak melakukan itu karna dia adalah istriku!
"Agra, tenangkan dirimu nak! kasihan Aleta,"
"diam kalian semua!" teriakku pada semua orang yang ada diruangan itu. Mereka menatapku dengan sedih dan berusaha untuk menarik tubuhmu menjauh dari istriku.
"lepaskan aku! aku harus membangunkan wanita ini! dia tidak boleh pergi ke manapun tanpa izinku!"
Aku kembali memeluk tubuh Aleta dengan erat, dan dapat kurasakan kalau saat ini tubuhnya begitu dingin seperti es.
"sayang, bangun! maafkan aku, aku tidak akan marah-marah lagi, hiks. Aku mohon bukalah matamu, sayang ku hiks, bangun, hiks huhuhu,"
*kenapa semua ini terjadi padaku? apa salahku hingga Kau mengambil wanita yang sangat aku cintai, kenapa Tuhan?
Tuhan, aku mohon. Aku mohon kembalikan istriku, kembalikan dia padaku, aku janji kalau aku tidak akan meminta apa-apalagi padaMu. Aku mohon Tuhan, aku mohon*.
Mati, itulah yang sedang kurasakan saat ini. Tidak ada lagi gunanya aku hidup tanpa istriku, air mata keputus-asaan terus mengalir diwajahku. Tidak pernah sedikit pun aku membayangkan akan takdir Tuhan yang begitu menyakitkan dalam hidupku.
"anakku, sudah nak, sudah! ikhlaskan Aleta nak hiks, jangan lagi meratapinya,"
Aku mendongakkan kepala untuk melihat siapakah orang yang berani mengatakan padaku untuk mengikhlaskan istriku.
Tidak akan! aku tidak akan pernah mengikhlaskannya, bahkan sampai aku mati!
"Agra, Papa mohon. Lepaskan Aleta nak!"
Aku melihat ke arah Papa yang sedari tadi mencoba untuk menarikku pergi, begitu juga dengan mereka semua yang mencoba untuk melepaskan pelukanku.
"tidak! dia adalah istriku, aku berhak melakukan apapun padanya!"
"ingat anak-anakmu Agra! mereka masih membutuhkanmu!"
__ADS_1
Benar, aku baru teringat dengan keberadaan mereka. Mereka juga harus tau bagaimana kondisi ibu mereka saat ini. Jika aku tidak bisa membangunkannya, maka anak-anakku harus bisa membangunkan ibu mereka.
Aku melepaskan tubuh Aleta lalu beranjak keluar kamar menuju sebuah ruangan di mana kedua anakku dirawat.
"Agra, mau ke mana kamu?"
"Agra, berhenti! apa yang mau kau lakukan?"
Persetan dengan mereka, aku tidak peduli! aku akan melakukan apapun untuk membuat istriku kembali.
Aku masuk ke dalam ruangan dan mengunci ruangan itu agar tidak ada yang menggangguku untuk berbicara dengan kedua putraku.
Teriakan dari semua orang terus terdengar, namun aku tidak peduli! ku langkahkan kaki untuk mendekati kedua bayi yang sedang berada dalam inkubator.
Deg, jantungku terasa berpacu sangat cepat saat ku lihat bayi mungil yang masih memerah di dalam inkubator itu. Tubuhku terasa bergetar saat melihat buah hati kami yang telah lahir kedunia, dan wajah mereka sangat mirip sekali denganku.
Beginikah, beginikah perasaan seorang ayah?
Aku memegang kaca inkubator itu seakan-akan tengah memegang tangan anak-anakku yang sangat kecil dan merah. Air mata kembali menetes kala teringat dengan takdir menyedihkan yang sedang kami alami.
"nak, Papa sangat bahagia melihat kalian telah lahir kedunia. Tapi Mamamu nak hiks, Mamamu, dia membutuhkan kalian. Papa mohon, tolong bangunkan Mama hiks, bangunkan dia nak hiks,"
Aku kembali bersimpuh dihadapan inkubator yang membungkus kedua anakku, aku kemudian menarik napas dan meyakinkan diri kalau Aleta pasti akan bangun jika melihat kedua putranya.
Dengan nekat, aku mengeluarkan kedua putraku dari inkobator itu. Aku menggendong mereka dilengan kiri dan kanan untuk membawa mereka pada ibunya.
Bertahanlah nak, Papa yakin kalian anak-anak yang kuat. Kalian harus membangunkan Mama.
Brak, tiba-tiba aku terkejut saat melihat mereka mendobrak pintu ruangan yang saat ini aku tempati.
Terlihat jelas raut khawatir dan terkejut dimata mereka saat melihatku menggendong kedua putraku yang masih memerah.
"Agra! apa yang kau lakukan?"
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍
__ADS_1