
Setelah Drama penyiksaan, pengampunan, kesedihan dan sebagainya telah selesai, akhirnya Agra kembali berkumpul dengan keluarganya. Saat ini dia sedang menemani Aleta melihat kedua putra mereka yang masih berada di dalam inkubator.
"mereka sangat tampan," puji Aleta dengan mata berkaca-kaca saat melihat wajah kedua buah hatinya yang sana persis seperti Agra.
"jelas dong, siapa dulu Papanya," seru Agra dengan bangga, Aleta hanya memutar bola matanya malas melihat ke narsisan suaminya.
"kapan mereka akan keluar dari sana?" tanya Aleta sembari melihat ke arah Agra.
"kata Dokter tunggu beberapa hari lagi, mereka harus memastikan kesehatan anak-anak kita," jawab Agra, dia memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"tapi aku ingin menggendongnya, sayang," lirih Aleta, dia sangat ingin menyentuh putra-putranya.
"sabarlah, biar mereka sehat dulu," ucap Agra, sepertinya dia tidak ingat dengan apa yang telah dia lakukan pada kedua bayinya.
Kemudian mereka keluar dari ruangan itu dan kembali keruangan Aleta, dengan Agra yang mendorong kursi rodanya. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat seorang pria dan wanita yang sangat mereka kenal sedang bertengkar di bawah pohon mangga.
Aleta bergegas untuk menyuruh Agra mendekat ke arah mereka, Agra yang juga penasaran langsung mendorong kursi roda Aleta menuju ke tampat dua orang tersebut.
"sudahlah, lupakan semuanya!" ucap Margaret sembari memalingkan wajahnya ke arah samping.
"apa maksudmu? bagaimana mungkin aku melupakan malam itu, Margaret?" geram Dareen saat melihat Margaret yang keras kepala.
"tapi kita sama-sama tidak sadar! lagipula, karna obat perangsang itu aku meminta mu untuk tidur denganku!"
"hah?" Aleta dan Agra sangat terkejut saat mendengar pertangkaran dua manusia itu, mereka saling pandang dengan pikiran yang sudah menjalar ke mana-mana.
"tapi aku sadar Margaret! sangat sadar!" ucap Dareen dengan penuh penekanan, dia melakukan apa yang Margaret inginkan dengan penuh kesadaran dan kemauan.
"sudahlah, aku tidak-" Margaret tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Aleta dan Agra berada tepat di sampingnya, dia yang akan pergi memghadap ke arah kanan dan langsung berhadapan dengan suami istri itu.
Dareen yang juga memalingkan wajahnya sangat terkejut saat melihat keberadaan Agra dan juga Aleta, dia melihat ke arah Margaret yang juga sedang melihatnya saat ini.
"ada apa kak? apa terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Aleta sarkastik, dia menaikkan sebelah alisnya saat bersitatap mata dengan Dareen.
"tidak!"
"iya!"
__ADS_1
jawab Margaret dan Dareen bersamaan, mereka kembali saling melihat dengan tajam seakan sedang mengibarkan bendera perang.
"kau!" Margaret merasa geram melihat Dareen yang terus memaksanya untuk menikah.
Dareen hanya membuang wajah sebal, dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu.
Sementara Agra dan Aleta juga saling lirik, mereka sudah merasakan kalau ada sesuatu yang terjadi di antara dua manusia itu.
"ehem, apa kalian cuma akan saling lirik-lirikan?" goda Aleta sembari mengedipkan sebelah matanya membuat dua orang itu merasa kesal. Terutama Dareen yang ingin sekali mencekik leher sang adik saat ini.
"A-Aleta, bagaimana kabarmu?" tanya Margaret mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka
"aku sehat kak, ayo masuk!" ajak Aleta sembari meminta Margaret untuk mendorong kursi rodanya. Mereka beranjak pergi dan meninggalkan dua orang pria yang saat ini sedang melihat punggung wanita yang mereka sayangi.
"ada apa Dareen? apa terjadi sesuatu antara kau dan Margaret?"
Suara Agra mengagetkan Dareen yang sedang sibuk melihat ke arah Margaret, "ap-apa?" dia tidak dengar dengan apa yang Agra ucapkan.
"kalau suka, langsung jadikan aja. Gerak cepat dong!" cibir Agra dengan nada mengejek.
"ck!" Dareen hanya berdecak kesal dengan apa yang Agra ucapkan, dia lalu mengajak lelaki itu untuk duduk dikursi yang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
"apa kau pernah melakukan hubungan anu sama seorang wanita?" tanya Dareen yang sepertinya tidak sadar kalau saat ini dia sedang berbicara dengan seorang pria yang sudah berstatus sebagai suami dan Ayah.
Agra mengerutkan keningnya, "tentu saja! lalu apa yang aku lakukan dengan adikmu tiap malam kalau tidak membuat adonan anak?"
"ah, bukan! bukan seperti itu maksudku!" ucap Dareen dengan panik, dia benar-benar lupa kalau Agra adalah adik iparnya yang tidak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Margaret meminum obat perangsang, dan aku terpaksa melakukan itu padanya," jelas Dareen, Agra yang masih setia mendengarkan sedikit terkejut saat mendengar cerita darinya.
"kau tinggal menikahinya saja! kenapa harus repot?" cibir Agra sembari beranjak bangun untuk menemui sang istri. Dia meninggalkan Dareen yang masih terpaku ditempat dudduknya.
"tinggal menikahinya sih gampang, tapi masalahnya wanita keras kepala itu tidak mau menikah dennganku!" gerutu Dareen sembari mengikuti langkah Agra yang sudah tidak terlihat.
Sementara itu, Aleta dan Margaret sedang bergosip ria diruangan nya. Mulai dari masalah besar sampai yang terkecil tak lepas jadi bahan gosipan mereka, hingga mereka tidak menyadari kalau saat ini Agra sudah bergabung dengan mereka.
"gosip terus!" sindir Agra sembari berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya dengan kaki yang dia letakkan di atas meja.
__ADS_1
Aleta dan Margaret tidak memperdulikan sindiran Agra, mereka tetap lanjut gosip ronde kedua.
Tak lama, masuklah Dareen yang langsung disambut dengan tatapan tajam dari Margaret, mereka berdua sudah tampak seperti kucing dan tikus saat ini.
Aleta dan Agra yang melihat reaksi mereka hanya tersenyum simpul, terutama Aleta yang tidak menyangka kalau sang kakak bisa bersikap seperti itu.
"oh ya Sayang, kamu belum ngasi nama buat anak-anak kita loh," seru Aleta yang baru sadar kalau putra-putranya belum punya nama.
Agra tersenyum saat mendengar apa yang Aleta ucapkan, dia sudah lama mempersiapka nama untuk kedua bayinya.
"Daffa Mahesa, dan Daffi Mahesa," ucap Agra dengan penuh kebanggaan, sementara yang lainnya ikut merasa senang dengan nama yang Agra pilih.
"nama yang bagus," ucap Aleta sembari memeluk tubuh suaminya membuat Agra membalas pelukan itu dengan sayang.
Tidak berselang lama, datanglah pasukan keluarga Mahesa dan Winandra membuat ruangan itu semakin ramai. Apalagi Mama Deeva dan Mama Lena yang sangat bersemangat untuk melihat cucu-cucu kesayangan mereka.
"Aleta, aku pulang dulu ya," pamit Margaret yang ingin segera pergi dari tempat itu.
"kok cepat sekali kak, baru juga sampai," tahan Aleta, dia tau kalau sebenarnya Margaret malu untuk bertemu dengan keluarga besarnya.
"aku masih ada urusan Aleta, besok aku pasti datang lagi," ucap Margaret kemudian.
"aku antar!" tiba-tiba Dareen bangkit dan berdiri tepat di samping Margaret membuat wanita itu menatapnya dengan tajam.
"tidak perlu, aku bisa-"
"kau memilih untuk ku antar pulang, atau menceritakan kejadian malam itu," ancam Dareen yang berhasil membuat Margaret diam.
"awas saja kau!"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang uda baca