Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 57. Ruqyah


__ADS_3

Seluruh keluarga Mahesa telah selesai menikmati waktu makan mereka, setelah itu semua berkumpul di taman samping rumah sembari bersenda gurau mempererat tali kekeluargaan.


Agra terus menempel di samping Aleta membuat semua mata yang menatapnya menjadi aneh, seumur hidup mereka tidak pernah melihat tingkah manja lelaki itu. Apalagi pada seorang wanita, dia pasti akan bersikap dingin dan acuh.


"ehem, gak gerah apa dari tadi nempel terus," sindir mama Lena yang sangat heran melihat tingkah putra semata wayangnya.


"dia ini ma, selalu saja gitu," Aleta mengadu pada mama Deeva tentang sikap manja Agra, sementara Agra sendiri tidak peduli. Dia malah meletakkan kepalanya di pangkuan Aleta.


Sontak semua orang menjadi kaget, bahkan papa Abi sampai menjatuhkan ponsel yang sejak tadi dia pegang. Begitu juga dengan mama Lena yang membulatkan matanya dengan mulut ternganga.


"Aleta, cepat kau siap-siap!" perintah papa Abi sembari berdiri dari duduknya.


"loh, mau kemana pa?" tanya Aleta sambil mendorong tubuh suaminya.


"kita harus membawa Agra ke pak ustadz yang ada di ujung jalan sana,"


"hah?" semua orang merasa tidak mengerti dengan ucapan papa Abi.


"dia ini harus di Ruqyah, dia lagi ketempelan setan manja ini," jelas papa Abi yang dibalas oleh tatapan mata elang Agra.


Aleta tak kuasa menahan tawa, begitu juga dengan Sisi yang terkikik geli mendengar ucapan pamannya itu.


"helo semuanya...," teriak seorang pria yang berlari menuju ke arah mereka.


"loh kak, katanya gak bisa jemput?" tanya Sisi saat Rival sudah duduk di sampingnya.


"tadi memang gak bisa, tapi sekarang udah bisa," jawabnya sembari meminum segelas jus yang ada di hadapannya.


"Itu punya istriku!" Agra membangunkan tubuhnya yang tadi sedang tiduran di samping Aleta.


"eh, aku kira punya Sisi," jawab Rival, namun dia tetap menghabiskan minuman di gelas itu.

__ADS_1


"Ck." Agra terlihat kesal dengan tingkah sepupunya membuat bibirnya maju beberapa senti.


"Aleta, bagaimana kabarmu?" tanya Rival tanpa memperdulikan kekesalan Agra.


"aku baik, bagaimana denganmu?"


"gak usah di tanyakan udah kelihatan kalau dia baik," Agra menyambar pertanyaan Aleta dengan sewot. Dia merasa tidak suka dengan kehadiran Rival.


Aleta berdecak kesal, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada suaminya itu? kenapa manusia yang satu itu selalu membuatnya pusing? dia ingin sekali menenggelamkan suaminya itu ke rawa-rawa.


"Aleta, ku dengar kau akan bekerja di Rumah sakit kak Ricky ya?" Rival kembali melontarkan pertanyaannya tanpa memperdulikan kakak sepupunya itu.


"kenapa pertanyaanmu banyak sekali, sudah pulang sana!" usir Agra, dia memeluk lengan Aleta dengan kuat membuat Aleta langsung mencubit pinggangnya sampai suaminya itu mengerang kesakitan.


Orang tua Agra benar-benar tak habis pikir melihat tingkah gilanya, mereka sudah memutuskan untuk segera membawa Agra ke rumah ustadz untuk di Ruqyah.


Rival yang melihat reaksi Agra malah tersenyum senang, kakak sepupu yang biasa berwajah datar itu sekarang sudah banyak berubah. Apalagi menyangkut istrinya, dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


"haha tidak papa, aku maklum kok," Rival tertawa manis membuat Aleta terpana melihat senyumannya itu dan beralih mengalihkan pandangan pada suaminya.


"ada apa dengan suamiku? apa dia mendadak jadi gila karna tadi tidak jadi bercinta?" Aleta menebak-nebak sebab dari sikap Agra.


Kemudian mama Lena dan papa Arsen memaksa Agra untuk ikut dengan mereka ke rumah seorang Ustadz. Agra menolak dan terus memberontak tidak mau ikut, dia masih sadar dengan apa yang dia lakukan.


"mama papa, aku tidak gila. kenapa kalian membawa ku ke Ustadz," Agra menolak dengan keras ajakan orangtuanya.


"ke Ustadz itu bukan berarti kamu gila, kamu hanya sedang di ganggu oleh makhluk yang kegatelan," paksa mama Lena sambil menarik tangan Agra agar ikut dengannya.


Aleta hanya memperhatikan dari tempat duduknya, dia berpikir mungkin suaminya memang harus di Ruqyah agar kembali normal. Walau Agra akan kembali membuatnya kesal, namun itu lebih baik daripada sikap tak masuk akalnya saat ini.


Dengan paksaan kedua orangtuanya, akhirnya Agra berhasil diseret oleh mama Lena dan papa Abi. Mereka membawanya untuk di Ruqyah. Aleta juga tak mau ketinggalan, dia ikut bersama dengan Rival dan juga Sisi.

__ADS_1


Sesampainya di tempat tujuan, mama Lena segera menceritakan semua yang terjadi pada anaknya tanpa ada kurang sedikitpun. Agra yang ingin memberontak di tahan oleh papa Arsen dan juga Rival, dia sudah seperti seorang pendosa besar yang akan di sucikan.


Seorang Ustadz yang mendengar cerita mama Lena sedikit bingung, dia berpikir mana mungkin orang yang mencintai istrinya seperti itu sedang ke tempelan oleh makhluk halus. Namun dia memilih untuk langsung meruqyah Agra, dia tidak mau membuat tamunya kecewa.


Dua jam telah berlalu, proses Ruqyah itu telah selesai. Orangtua Agra mengucapkan terima kasih karna telah mensucikan anak mereka, tak lupa Ustadz itu juga mendo'akan agar Agra selalu berada dalam lindungan yang Maha Kuasa.


Agra berjalan dengan gontai, harga dirinya terasa tercabik-cabik. Bagaimana mungkin orangtuanya menganggap dia gila dan ke masukan setan?


Sebenarnya dia sendiri juga merasa bingung, dia tidak tau kenapa sikapnya bisa seperti itu. Namun dia masih tetap sadar, dan tidak dalam kondisi di masuki oleh makhluk lain.


Setelah semua urusan selesai, Agra segera pulang sembari menyeret istri kecilnya itu. Dia tidak mau lagi berlama-lama di rumah orangtuanya, bisa jadi orangtuanya akan beranggapan yang tidak-tidak lagi padanya. Tadi mereka membawa dia ke rumah seorang ustadz, tapi bisa jadi nanti mereka akan membawanya ke Rumah sakit Jiwa. Agra tidak mau itu terjadi, dia segera angkat kaki meninggalkan mereka sebelum terjadi hal buruk padanya.


"Agra, apa tadi kau kecewa karna kita tidak jadi bercinta?" tanya Aleta ketika mereka sedang di dalam mobil.


"tentu saja, kau tidak tau rasa sakit yang aku rasakan," jawaban yang sungguh epic sekali.


Aleta mengangguk-anggukkan kepalanya, dia jadi yakin kalau sebenarnya Agra menjadi gila karna tidak mendapat jatah darinya.


"Nanti malam bersiaplah! aku akan memberi kepuasan padamu sehingga kau tidak jadi gila seperti tadi." Aleta mengedipkan sebelah matanya menggoda Agra.


"hah!"





TBC.


**Yuk mohon dukungannya kak. Like, Komen yg banyak, VOTE dan rating 5. Kasi hadiah juga agar karya ini bisa berkembang 🥰

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘**


__ADS_2