
"Aku sudah merekam semua perkataanmu." Aleta menunjuk ke arah ponsel yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
"apa?" Agra begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Aleta, lalu wanita itu beralih mengambil ponsel yang sejak tadi merekam apa yang mereka lakukan.
"Aku sudah mengirim video ini ke akun pribadiku, jadi kalaupun kau menghapusnya maka video itu akan tetap ada." Aleta menyimpan ponselnya ke dalam meja laci yang ada di samping tempat tidur.
Agra lalu mendekat ke arah Aleta, dia kembali mengeluarkan ponsel Aleta dan melihat hasil rekaman mereka berdua.
"kau tidak percaya padaku?" tanya Agra dengan nada sedikit tinggi, dia sedikit kesal karna Aleta tidak mempercayai ucapannya.
"aku percaya padamu kok, tapi tidak pada hatimu." ucap Aleta, lalu dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"dengar, aku sudah banyak melihat perselingkuhan di dunia ini. Baik yang masih menjadi sepasang kekasih, ataupun yang sudah berumah tangga. Apalagi zaman sekarang, pelakor semakin di depan," lanjut Aleta sambil mendudukkan pantatnya ke atas ranjang, dia merasa lelah karna sedari tadi berdiri.
"aku hanya menjamin hati dan masa depanku. Kalau suatu saat nanti kau berubah, maka aku akan menunjukkan video itu pada anak kita, supaya dia tau kalau papa nya adalah seorang pendusta," ancam Aleta yang sukses membuat Agra kaget di tempatnya.
Tiba-tiba suara dering ponsel Agra mengagetkan mereka yang sedang bersitegang, Agra segera mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang sedang menelpon.
"angkat saja, aku tau kalau itu adalah Mona," seru Aleta sembari berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil gaun malam.
Agra terlihat sangat enggan untuk mengangkatnya, namun ponselnya terus saja berdering membuat dia memencet tombol hijau.
"A-Agra," ucap Mona di sebrang telpon dengan suara lemah.
"apa?" Agra membalas ucapan gadis itu dengan ketus.
"Agra hiks, aku mohon tolong aku," Mona menangis dengan tersedu-sedu membuat Agra mengernyitkan keningnya.
"Minta tolong di kantor polisi." Agra sudah akan mematikan panggilan telpon itu, namun dia mendengar satu nama membuatnya mengurungkan niatnya.
"Devo, dia-dia mengancamku,"
Darah Agra serasa mendidih saat mendengar nama yang disebut oleh Mona, sudah lama dia mencari keberadaan pria brengsek itu, namun dia tidak berhasil menemukannya.
"di mana bajingan itu?" teriak Agra mengagetkan Aleta yang sedang bersandar di depan lemari.
"Datanglah ke rumahku, maka aku akan memberitahumu." Tut, Mona langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
Lalu Agra segera menelpon Felix untuk datang ke apartemennya saat ini juga.
"ada apa? apa dia benar-benar mau mati?" tanya Aleta dengan santai. Agra bingung harus bagaimana mengatakannya, dia takut Aleta marah dan berpikir macam-macam padanya.
Namun dia tidak punya pilihan lain, dia harus menemukan bajingan yang telah membuat perusahaannya rugi besar di masa lalu.
"eem Aleta, aku-aku harus pergi," pamit Agra dengan ragu-ragu, dia memegang tangan Aleta dengan erat dan menatap wajahnya dengan sayu.
"pergilah, tapi ingat! kau harus selalu bersama dengan Felix," perintah Aleta yang tidak ingin kalau Agra hanya berdua saja dengan Mona.
Agra menganggukkan kepalanya sembari mengecup seluruh wajah Aleta, dan berhenti tepat di bibir wanita itu. Dia memagut bibir istrinya itu dengan gairah yang mulai naik, namun Agra segera menghentikannya sebelum dia kelepasan dan melupakan apa yang akan dia lakukan saat ini.
"istirahatlah," ucap Agra, dan berlalu keluar dari kamar mereka. Aleta terus melihat ke arah Agra dengan perasaan was-was, apalagi tadi dia sempat mendengar tentang pria bajingan.
"sebenarnya siapa pria bajingan itu? dan apa hubungannya dengan Mona?" Aleta merasa harus segera mencari tahu tentang apa yang terjadi pada suaminya.
Agra yang sudah berada di depan apartemen melihat ke sana kemari, dia sedang menunggu kedatangan Felix yang sudah hampir sampai ke apartemennya.
Tak lama, sebuah mobil berwarna hitam mendekat ke arah Agra dan keluarlah Felix dari dalam mobil tersebut.
Felix menundukkan kepalanya dan segera membuka pintu untuk Agra, lalu mereka segera menuju tempat di mana Mona berada.
"aku sudah tahu di mana Devo berada," jawab Agra. Felix langsung melihat ke arah Agra dengan kaget, pasalnya sudah 2 tahun mereka mencari keberadaan Devo namun tidak juga menemukan jejaknya.
Felix semakin menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai ke tempat tujuan, dia sudah sangat penasaran dengan sosok sekretaris kepercayaan bosnya di masa lalu.
1 jam kemudian, mobil mereka telah sampai di halaman sebuah rumah bercet biru. Agra dan Felix segera turun dan berjalan cepat ke arah rumah itu.
Felix menekan bel, dan tak lama keluarlah seorang gadis cantik dengan memakai gaun malam berwarna hitam tersenyum cerah pada mereka. Namun saat melihat Agra tidak datang sendiri, senyum wanita itu perlahan menghilang.
"katakan! di mana keparat itu," teriak Agra penuh emosi, Felix sampai terjingkat kaget saat mendengar teriakan Agra.
"masuklah, aku akan memberitahumu," ucap Mona mempersilahkan mereka untuk masuk, namun Agra tidak bergeming dari tempatnya saat ini.
"kau jangan bermain-main denganku, Mona," tekan Agra, dia tidak ingin lagi berbasa-basi pada wanita itu.
"aku janji akan mengatakannya, tapi aku mohon masuklah," rayu Mona dengan mata berkaca-kaca, Agra menghela napas kasar dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Mona diikuti oleh Felix.
__ADS_1
Mona memberi makanan dan minuman untuk mereka, namun Agra dan Felix terlihat enggan untuk menikmatinya.
"bagaimana kabarmu?" tanya Mona dengan lembut, terlihat jelas tatapan matanya sangat mendamba pada Agra.
Felix memperhatikan gerak-gerik wanita yang sedang ada di hadapannya, dia seperti punya firasat lain saat melihat apa yang dilakukan wanita itu.
"aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu," bentak Agra, dia sudah sangat geram melihat Mona.
"Huh, baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin memberi ini padamu." Aleta menyerahkan usb pada Agra, dan Felix lah yang menerima usb itu membuat Mona merasa kesal.
"Devo ada di kota ini, kemarin dia datang ke sini dan mengancamku," ucap Mona sembari mulai terisak, tampak buliran air mata membasahi wajahnya.
"kenapa dia mengancammu? bukannya dia adalah kekasihmu?" balas Agra dengan tajam, sementara Felix hanya menjadi penonton dan pendengar budiman.
"Agra, kau salah paham padaku. Aku tidak-"
"cukup! aku tidak ingin membahas tentang masa lalu," potong Agra dengan cepat, dia tidak ingin mengingat tentang masa lalu yang sangat menyakitkan untuknya.
"baiklah, aku tidak akan memaksa. Saat ini Devo tinggal di kawasan Seina, aku mengetahuinya saat tidak sengaja melihatnya berada di sana," jelas Mona, beberapa kali dia menyeka air matanya saat berbicara pada Agra.
Agra segera bangkit dari duduknya saat sudah mendengar jawaban atas pertanyaannya, kemudian dia berjalan ke arah luar untuk segera pergi dari tempat itu.
"tunggu Agra! aku tidak pernah mengkhianatimu, lihatlah kebenaran yang ada di usb itu," seru Mona. Agra dan Felix tidak menghentikan langkah kaki mereka dan terus menuju di mana mobil mereka berada.
"aku sendiri yang akan menangkap bajingan itu," getutu Agra saat sudah sampai di dalam mobil.
•
•
•
TBC.
Yuk Like dan Komen yang banyak, VOTE dan Rating 5, jangan lupa Hadiah 🥰 biar karya othor semakin berkembang 😍
Tonton juga ya iklannya untuk terus mendukung othor 😘
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘