
"Devo? namamu Devo?" tanya Aleta dengan tidak percaya, kalau benar namanya Devo berarti laki-laki itulah yang sedang dicari oleh Agra saat ini.
Mona dan Devo mematung ditempat saat ini, mereka saling lirik karna merasa sedang dalam bahaya besar.
"kau adalah laki-laki yang dicari suamiku kan?" tanya Aleta lagi saat Devo tidak menjawab pertanyaannya.
"sebenarnya ada apa ini? kenapa lelaki ini bisa bersama dengan Mona? atau jangan-jangan mereka memang bersekongkol untuk mengganggu suamiku," Aleta sudah merasakan gelagat yang tidak baik dari dua orang yang saat ini sedang berada di hadapannya.
"sial! aku harus menjawab apa?" Devo merasa bingung sendiri, dia tidak boleh bertemu dengan Agra saat rencananya belum terlaksana.
"aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan?" jawab Devo. Mona yang saat ini berada di sampingnya terlihat tersenyum tipis.
"tidak mengerti? atau pura-pura tidak mengerti?" cibir Aleta sembari bersedekap dada.
Devo menatap tajam padanya. "Aku benar-benar tidak mengerti."
Aleta menghembuskan napas kasar, apa benar kalau laki-laki itu tidak tau dengan apa yang dia maksud ?
"Mona, kalau gitu aku permisi," pamit Devo membuat Mona melihatnya dengan tatapan bingung.
"mau ke mana dia? apa dia akan meninggalkanku?" Mona ketar-ketir sendiri jika harus berhadapan dengan Aleta seorang diri.
"tunggu!" seru Aleta saat melihat Devo sudah keluar dari rumah Mona, dia segera bangkit dan mengejar lelaki itu.
"Tunggu!" Aleta mencekal tangan Devo membuat lelaki itu menghentikan langkah kakinya, bibirnya tersenyum tipis saat melihat tangan Aleta yang mencengkram lengannya
Devo berbalik dan melihat ke arah wanita itu, matanya menyusuri garis wajah Aleta yang sangat cantik menurutnya.
"aku masih belum selesai," ucap Aleta tanpa melepaskan cekalannya, sementara teman-temannya sudah memperhatikan mereka dari kejauhan.
"ada apa Nona? saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan," balas Devo, matanya mengeluarkan aura yang mematikan bagi Aleta.
"jangan suka berbohong tuan! sayang ketampanan anda kalau suka bohong," cibir Aleta yang membuat Devo tersenyum lebar.
Dia lalu mendekat ke arah Aleta membuat Aleta siaga, dia mengira kalau lelaki itu akan menghajarnya.
Devo mencengkram kedua bahu Aleta membuat wanita itu menegang, kemudian dia mendekat dan berbisik ditelinga Aleta.
"Nona, jika anda ingin tau lebih banyak tentang saya, silahkan hubungi ke nomor ini." Agra memasukkan selembar kartu nama ke dalam kantung baju yang saat ini digunakan oleh Aleta.
__ADS_1
"saya akan memberitahu anda tentang semuanya, termasuk tentang suami anda. Tapi, cukup kita berdua saja yang tau," lanjutnya lagi membuat Aleta terdiam, hembusan napas Devo terasa menyapu lehernya sedangkan Devo sendiri melihat ke arah leher jenjang Aleta. Dia menelan salivenya saat melihat itu, ingin sekali dia mengecup dan menghisapnya untuk memberikan jejak kepemilikan di sana.
Sangking dekatnya mereka saat ini, Lusi dan semua orang yang melihatnya berpikir jika Devo sedang mencium Aleta membuat mereka segera berlari menghampiri dua manusia itu.
"apa yang kau lakukan?" teriak Egi dengan emosi yang sudah meletup-letup, sementara Devo hanya tersenyum sinis saat melihat teman-teman Aleta.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devo melanjutkan langkah kakinya menuju sebuah mobil sport berwarna merah menyala.
"berhenti kau! dasar brengsek," teriak Bima yang juga tersulut emosi, mereka sudah bersiap untuk mengejar Devo namun Aleta menahannya. Dia menggelengkan kepala untuk mencegah mereka mengejar lelaki itu.
"sebenarnya hubungan seperti apa yang terjadi di antara mereka?" Aleta sangat penasaran dengan kata-kata yang Devo ucapkan tadi, dia meremmas kantung bajunya yang terdapat selembar kartu nama yang diberi oleh lelaki itu.
****
Ditempat lain, Agra tengah bersiap untuk kembali ke apartemen. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sudah saatnya dia mengistirahatkan tubuh yang sudah seharian berkutat dengan pekerjaan.
"apa anda akan pulang, tuan?" tanya Felix sembari merapikan berkas-berkas yang berserakan dimeja, Agra hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Felix.
"terus awasi pergerakan Devo dan juga Mona, aku yakin kalau wanita itu sebenarnya tau di mana bajingan itu berada saat ini," perintah Agra, dia merasa kalau sebenarnya Mona dan Devo sedang bermain-main dengannya.
"Baik tuan." Felix menganggukkan kepalanya untuk mengikuti perintah Agra, sebenarnya tanpa diperintah pun dia sudah mengamati pergerakan Devo. Terlebih-lebih karna lelaki itulah dia bisa sampai ke negara ini, dan menjadi sekretaris Agra.
Tak terasa, mobil Felix sudah sampai diparkiran apartemen. Agra segera turun dengan diikuti oleh Felix untuk masuk ke dalam sana.
"Sayang, kau sudah pulang." Aleta menghamburkan diri kepelukan Agra saat melihat lelaki itu membuka pintu, Agra yang dipeluk merasa sangat senang. Rasa lelah dan khawatir yang sedari tadi dia rasakan menguap begitu saja.
"sayang, apa kau ingin mandi? aku akan menyiapkan air hangat untukmu," ucap Aleta dengan menampilkan deretan giginya yang putih.
"ada apa dengannya? kenapa dia sangat perhatian? apa dia sedang menginginkan sesuatu?" Agra merasa tidak biasa dengan perlakukan sang istri saat ini.
Aleta segera bergegas untuk naik ke kamarnya, dia ingin menyiapkan air hangat untuk mandi Agra. Namun saat baru beberapa langkah menaiki tangga, Aleta berhenti saat sebuah ingatan melintas dikepalanya.
"apa aku harus menceritakan tentang Devo dan Mona?" Aleta kembali ingat tentang kejadian siang tadi, saat melihat Agra tiba-tiba ingatan itu melintas dikepalanya.
"kenapa? kok malah jadi patung?" seru Agra yang saat ini sedang duduk disofa bersama dengan Felix.
Aleta berbalik dan melihat Agra, pikirannya sedang galau untuk mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"tidak ada apa-apa," jawab nya kemudian, sepertinya dia tidak akan menceritakan perihal sesuatu yang dia ketahui.
__ADS_1
Kemudian Aleta kembali melanjutkan langkahnya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan perasaan bersalah karna tidak jujur pada sang suami.
Agra hanya mengedikkan bahunya dengan apa yang Aleta lakukan. Dia kembali bersantai sembari meluruskan kaki dan pinggang yang terasa kaku.
Felix sendiri sedang sibuk dengan ponselnya, terlihat dia sedang mengirim pesan pada seseorang.
"ayah, aku sudah menemukan tempat tinggal Devo," itulah isi dari pesan yang dia kirim. Kemudian Felix berlanjut untuk memeriksa laporan dari anak buahnya yang dia perintahkan untuk mengawasi Devo dan juga Mona.
Setelah tidak ada kepentingan lagi, Felix memutuskan untuk pulang sementara Agra beranjak ke kamar untuk membersihkan tubuh.
Aleta yang saat ini sedang mengambil pakaian ganti untuk Agra terkejut saat sebuah tangan melingkar diperutnya, hampir saja dia berteriak kalau tidak melihat bahwa suaminya lah yang saat ini sedang memeluknya.
"sayang, aku lelah," keluh Agra sembari meletakkan kepalanya dibahu Aleta.
"mandi dulu, nanti aku akan memijatmu," ucap Aleta dengan membalikkan tubuh, tangannya memijat kapala sang suami yang saat ini masih bersandar dibahunya.
"mandiin," ucap Agra dengan manja, dia bahkan sudah menarik tali pita yang ada didada Aleta membuat dada wanita itu terekspos dengan sempurna.
Aleta menuruti apa yang Agra mau, dia masuk ke dalam bathub yang berisi air hangat bersama dengan sang suami.
"aku mencintaimu," ucap Agra saat Aleta tengah memijat kepalanya, tangannya sendiri sedang sibuk meremmas-remmas gundukan sintal Aleta yang menantang dimatanya. Apalagi ukurannya yang kian hari kian membesar, sungguh sangat menggoda hasratnya saat ini.
"sayang, aku sangat mencintaimu," entah kenapa saat ini Agra ingin sekali mengucapkan 1000 kata cinta untuk Aleta membuat istrinya itu menegang dengan rasa bersalah.
"kenapa aku jadi merasa bersalah?"
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya teman othor, dijamin keren dan seru 😍
__ADS_1