
Dareen dan papa Arsen berjalan gontai menuju keruang kerja mereka. jiwa dan raga terasa remuk redam memikirkan perusahaan yang sedang diambang kebangkrutan.
"apa memang kita harus menyerah ?" ucap papa Arsen sambil merebahkan tubuhnya kesandaran sofa.
Dareen hanya diam tidak menanggapi ucapan papanya. kepalanya sedang pusing memikirkan apa yang diucapkan Agra tadi. tapi dia juga tidak tau harus bagaimana melakukannya. menutup perusahaan juga bukan suatu perkara yang mudah. bukan bukan hanya tiba-tiba buka terus tiba-tiba tutup. masih banyak hal yang harus dipikirkan.
"bagaimana dengan Lesyan ? kita harus menemui mereka." ucap papa Arsen sambil bangkit dari sandarannya.
"Lesyan ?" entah kenapa perasaan Dareen menjadi tidak tenang.
"Kiky..." panggil papa Arsen pada sekretaris pribadi Dareen.
"yah tuan." jawab Kiky sambil mendekat kearah tuannya.
"buat janji temu dengan Lesyan Company. lebih cepat lebih baik." perintah papa Arsen.
"baik tuan." Kiky segera melaksanakan apa yang diperintahkan tuannya.
"kali ini kita harus mendapat dukungan dari mereka." ucap papa Arsen. sedangkan Dareen hanya diam saja. entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"tuan. Lesyan bilang hari ini juga mereka bisa bertemu." ucap Kiky memberitahu.
"benarkah ?" tanya papa Arsen tidak percaya.
"benar tuan. mereka mengatakan untuk datang sekarang juga." jelas Kiky.
"bagus. respon mereka sangat baik. semoga saja mereka mau membantu kita." gumam papa Arsen.
"ayo Dareen. apa yang kau lakukan ?" tanya papa Arsen yang sedari tadi melihat Dareen hanya diam ditempatnya.
"i.iya pa. ayo." ucapnya sambil berjalan keluar dari ruangan itu. mereka segera berangkat menuju Lesyan Company.
__ADS_1
Sesampainya diperusahaan itu, sekretaris dari direktur sudah menunggu kedatangan mereka dan segera membawa mereka keruangan dimana bosnya berada.
Terlihat seorang wanita cantik sedang menunggu dikursi kebesaraannya. begitu dia melihat Dareen dan papa Arsen, dia segera berdiri untuk menyambut mereka.
"selamat siang nona." sapa papa Arsen.
"selamat siang juga tuan Arsen." balas Lesya. Direktur utama di perusahaan itu.
"lama tidak bertemu Dareen." ucapnya kemudian sambil melihat kearah Dareen.
Papa Arsen melihat kearah putranya dengan pandangan bingung. rupanya sang putra sudah kenal dengan anak dari pimpinan perusahaan Lesyan.
"benar. sudah lama kita tidak bertemu." jawab Dareen sambil menatap Lesya dengan tajam.
"kalau gitu silahkan duduk." ucap Lesya mempersilahkan mereka.
"mohon tunggu sebentar, kakakku sedang ada rapat." tambah Lesya sambil memperhatikan Dareen.
Tak berselang lama, masuklah Lexi ke dalam ruangan itu. dia adalah wakil CEO diperusahaan Lesyan sekaligus kakak kandung dari wanita cantik yang sedari tadi tak melepaskan pandangan matanya dari Dareen.
Kemudian papa Arsen menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang ke perusahaan itu. papa Arsen juga memohon agar mereka mau membantu untuk menyelamatkan perusahaan keluarga Winandra. sedangkan Dareen hanya diam membisu ditempat duduknya. dadanya masih terasa nyeri saat melihat wanita yang sedang duduk tepat dihadapannya.
"baiklah. kami akan membantu kalian." ucap Lexi.
Betapa senangnya papa Arsen mendengar apa yang diucapkan Lexi. dia bahkan sampai mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.
"tapi saya akan membantu kalian dengan satu syarat. saya ingin putra anda menikah dengan adik saya. Lesya."
"apa." teriak Dareen sampai berdiri dari duduknya. bak tersambar petir di siang bolong saat mendengar syarat yang diajukan oleh mereka. lalu dia menatap tajam pada wanitu itu. Dareen tau kalau semua itu adalah perbuatan Lesya.
"menikah ?" tanya papa Arsen setelah berhasil menenangkan diri dari keterkejutannya.
__ADS_1
"benar. jika putra anda menikah dengan adik saya, maka saya akan membantu anda. saya juga akan menarik investor lain untuk bergabung bersama saya." jelas Lexi.
Papa Arsen merasa senang saat mendengar ucapan Lexi, tapi menikah ? papa Arsen melihat kearah putranya yang sedang menatap Lesya dengan tajam. papa Arsen yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka.
"tuan. apa tidak ada syarat lain selain itu ?" tanya papa Arsen. dia tidak mau kalau pernikahan putranya menjadi bisnis.
"tidak. hanya itu yang kami inginkan." ucap Lexi tajam seakan-akan mengatakan kalau mereka tidak menginginkan apapun selain pernikahan itu.
Papa Arsen kembali melihat ke arah Dareen yang masih diam membeku. anaknya itu tidak mengeluarkan sepatah katapun pada mereka. dia yakin kalau saat ini Dareen pasti sangat terguncang.
"baiklah. pikirkan tawaranku itu." ucap Lexi sambil keluar dari sana.
"baiklah nona. kami akan memikirkannya. kalau begitu kami permisi." pamit papa Arsen kemudian. Lesya hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap menatap Dareen. dia menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah Dareen yang memerah akibat menahan kemarahannya.
"Dareen. aku akan kembali mendapatkanmu." Lesya sudah bertekad untuk kembali menaklukkan hati Dareen. lelaki yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya selama 2 tahun. Setelah mereka berpisah, Lesya tidak pernah lagi berhubungan dengannya. sampai setahun yang lalu Lesya kembali bertemu dengan lelaki itu. hatinya kembali jatuh cinta dan menginginkan Dareen agar menjadi miliknya.
☆☆☆
Malam hari dirumah keluarga Winandra, Aleta tengah bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya. Dengan menggunakan dress panjang berwarna silver, dia terlihat sangat cantik dan menawan. siapa saja yang melihatnya pasti tidak akan bisa mengedipkan mata.
"duuh. ini dimana sih pakainya." gerutu Aleta bingung sambil memegang sepatu ditangannya. pasalnya sepatu itu memiliki banyak tali, tapi tidak ada satu pun lubang yang bisa dia pakai untuk memasukkan kakinya kedalam sepatu itu.
"apa harus dilubangi sendiri." ucapnya sambil memperhatikan tempat yang pas untuk membuat lubang.
Dengan segala kecerdasan yang bersarang dikepalanya, Aleta membuat lubang sendiri untuk jalur kakinya. kemudian dia memakai sepatu itu dengan penuh kebanggaan.
Setelah selesai mempersiapkan penampilan paripurnanya, dia bergegas untuk pamit pada kedua orangtuanya.
Aleta melihat papa, mama dan kakaknya sedang berada dikamar sang kakak. terlihat dari pintu yang sedikit terbuka.
"ma..." Aleta tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendengar apa yang sedang orangtua dan kakaknya bicarakan. dia bahkan sampai menjatuhkan tas dan hadiah yang telah dia siapkan untuk temannya.
__ADS_1