
Setelah melepaskan segala hasrat yang selama ini dia tahan, Agra segera keluar dari kamar untuk menyusul Aleta yang sudah lebih dulu bergabung dengan keluarga mereka.
"ngapain aja sih kamu, Agra?" tanya Papa Abi yang saat ini sedang duduk bersama Papa Arsen dan juga Dareen.
"biasalah Pa," jawab Agra sembari duduk di samping Papanya.
Kemudian mereka membahas tentang masalah perusahaan masing-masing sedangkan Aleta dan kumpulan perempuan duduk diruang keluarga.
"di mana Daffa?" tanya Mama Deeva yang tidak melihat keberadaan Daffa.
"lagi tidur Ma, di kamar," jawab Aleta, saat ini dia sedang menggendong Daffi yang juga sudah mulai mengantuk.
"Aleta, ada yang ingin Mama bicarakan," ucap Mama Deeva dengan serius, dia melirik ke arah Dareen yang saat ini sedang sibuk mengobrol dengan para Papa.
"tentang kakak ya?" tebak Aleta dan langsung dibalas oleh anggukan Mama Deeva.
"sebenarnya, ada hubungan apa kakakmu itu sama yang namanya Margaret?" tanya Mama Deeva, sudah hampir seminggu dia melihat Dareen sibuk menelpon dan mendekati wanita yang bernama Margaret.
"kenapa Mama gak tanya langsung sama kakak?" bukannya menjawab, tetapi Aleta malah balik bertanya pada Mamanya.
"kalau kakakmu itu mau jawab, gak mungkin Mama tanya kau lagi!" sembur Mama Deeva sambil mencebikkan bibirnya.
"aku juga enggak tau Ma, tapi nanti deh aku tanya sama kak Margaret," jawab Aleta, kemudian dia beranjak bangun untuk membawa Daffi kekamar.
Agra yang melihat Aleta berjalan ke arah kamar ikut-ikutan berdiri dan hendak menyusul istrinya itu, tetapi langkahnya ditahan oleh Dareen yang melihatnya dengan tajam.
"apa yang tadi belum puas?" tanya Dareen sembari menaikkan sebelah alisnya, sementara Para Papa melihat Agra dengan tatapan bingung.
"ck, sibuk saja sih," cibir Agra sambil menginjak kaki Dareen membuat lelaki itu berteriak tanpa suara.
"dasar kurang ajar! apa dia pikir kakinya itu kecil!" Dareen melirik ke arah Agra yang saat ini sudah kembali duduk sementara Agra juga meliriknya dengan sinis sembari menarik sedikit senyum licik disudut bibirnya.
"oh ya Agra, kapan rencana kalian untuk merayakan hari kelahiran sih kembar?" tanya Papa Arsen dan didukung oleh Papa Abi.
__ADS_1
"belum tau Pa, terserah kalian saja," jawabnya cuek, terkesan tidak peduli.
"cih," Dareen berdecih kesal melihat adik iparnya itu membuat semua orang tertawa karenanya.
Aleta yang saat ini sedang berada dikamar merasa terkejut saat melihat Daffa sudah bangun dari tidurnya, dia kemudian meletakkan Daffi di samping Daffa dan beralih melihat ke arah Daffa yang hanya dial sembari memasukkan jarinya ke dalam mulut.
"Anak Mama sudah bangun ya? pintar sekali sih tidak menangis." Aleta menciumi wajah gembul Daffa membuat sang putra berteriak kegirangan.
"ea, au, au," suara celotehan Daffa memenuhi seisi kamar itu membuat Daffi menggeliatkan tubuhnya akibat suara berisik sang kakak.
Aleta sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padanya, matanya berkaca-kaca saat melihat kedua buah hatinya yang sangat tampan dan sehat tengah berceloteh dihadapannya saat ini.
"Tuhan, aku sangat berterima kasih atas segalanya. Kau telah memberikanku suami yang baik, buah hati yang tumbuh dengan sehat, serta keluarga yang hidup dengan bahagia. Terima kasih Tuhan, terima kasih," tangisan kebahagiaan menetes di mata Aleta saat mengingat segala kebahagiaan yang saat ini dia rasakan.
"ada apa? kenapa kau menangis?" seru Agra yang ternyata sudah ada di dalam kamar itu.
Aleta mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah sang suami, matanya kembali berkaca-kaca kala melihat suami yang sangat dia cintai.
"sayang, terima kasih karna telah memberikan kebahagiaan ini untukku. Terima kasih karna telah menerima dan mencintaiku sampai saat ini, aku mencintaimu suamiku, sangat mencintaimu," lirih bibir Aleta berucap dengan tangis yang tertahan, matanya mengalirkan ribuan kristal kebahagiaan yang sangat berarti dalam hidup.
"Seharusnya aku yang mengucapkan ribuan terima kasih padamu, istriku. Terima kasih karna sudah mengundangku untuk naik ke atas ranjangmu, terima kasih karna sudah berhasil mewarnai seluruh hari-hariku. Terima kasih karna sudah memberi kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan selama ini, terima kasih istriku, wanitaku cintaku."
Aleta menghamburkan diri ke dalam pelukan Agra, dia memeluk tubuh sang suami dengan erat seakan-akan mereka akan segera berpisah.
Agra sendiri juga membalas pelukan hangat sang istri, beberapa kali bibirnya mengucapkan kata cinta pada wanita yang sangat dia cintai sekaligus wanita yang sudah memberikan buah hati dalam hidupnya.
****
Beberapa bulan telah berlalu, saat ini Daffa dan Daffi sudah mulai belajar merangkak. Mereka mulai aktif ke sana ke mari membuat Aleta dan Agra harus ekstra siaga dalam mengawasi mereka.
Apalagi Aleta sudah harus kembali bekerja, dan Agra juga harus mengurus perusahaan. Mereka menyewa dua orang babysitter untuk kedua putra mereka.
"Sayang, Mama berangkat kerja dulu ya." Cup, Aleta mengecup pipi gembul Daffa dan Daffi secara bergantian, dia juga mengecup leher putra-putra nya membuat dua bayi itu tertawa girang.
__ADS_1
"Sayang, aku juga mau!" Agra mengetuk-ngetuk pipinya dihadapan mereka membuat kedua babysitter itu menundukkan kepala mereka dengan malu.
"Hus, dasar kamu!" Aleta menarik tangan Agra untuk keluar dari kamar kedua putranya, dia juga merasa malu dengan apa yang dilakukan sang suami.
"kenapa? kan bukan Daffa dan Daffi aja yang butuh ciuman," gerutu Agra setelah Aleta melepaskan tangannya.
"iya tapikan gak harus bilang gitu juga sih, dihadapan mereka," geram Aleta, dia merasa malu pada kedua babysitter yang menjaga putra-putranya.
"apa salahnya? aku kan minta cium istriku sendiri, bukan istri tetangga!" desis Agra dengan bibir yang sudah maju beberapa senti, dia merasa iri melihat kedua putranya yang berhasil merebut hati sang istri.
"Iya iya! istrimu sendiri." Cup, cup, cup. Aleta memborbardir wajah Agra dengan kecupan-kecupannya, membuat suaminya itu tergelak sampai terbaring di atas ranjang.
"Lagi!" Agra menunjuk lehernya agar Aleta mengecup dibagian itu juga.
Tetapi bukannya mengecup, Aleta malah memberi stempel kepemilikan dileher itu membuat Agra mengerrang nikmat atas perbuatan mendadak dari sang istri.
Aleta yang sudah puas melihat wajah merah Agra segera bangkit dan hendak berlalu dari tempat itu, tapi Agra tentu tidak membiarkannya. Dia menarik tangan Aleta sampai membuat wanita itu terjatuh di atas tubuh Agra.
"kau pikir, kau bisa lari setelah bermain-main dengan tubuhku!" ucap Agra dengan suara parau menahan hasrat yang sudah mulai naik keubun-ubunnya.
Dia segera membalikkan tubuh Aleta hingga berada di bawahnya, dia segera mendekatkan wajah hendak mengecup bibir Aleta yang tampak sangat menggoda.
"uwa, uwa, uwa," tiba-tiba suara celotehan seorang anak menghentikan kegiatan Agra, dia lantas melihat ke arah bawah di mana putranya sudah merangkak masuk ke dalam kamar.
"astaga! anak siapa sih ini?"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🙏