
Setelah panggilan telpon Aleta terputus, Agra kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. dia tersenyum saat mengingat ucapan yang dia katakan pada Aleta tadi.
"haha, kau lihat aja rubah licik. aku akan membalasmu." sepertinya Agra sudah menemukan cara untuk membalas apa yang sudah di lakukan Aleta padanya.
☆☆☆
Keesokan harinya, Aleta yang masih terlelap di kamarnya mendengar suara mamanya berteriak-teriak memanggilnya untuk bangun. namun karna Aleta masih sangat ngantuk, dia menarik bantal dan menutup kedua telinganya dengan bantal itu.
Lama kelamaan, suara mama Deeva semakin menggelegar, membuat Aleta tidak tahan dan langsung melompat dari ranjangnya.
"duuh, apa sih...," Aleta belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah kena cubit oleh mama Deeva.
"cepat mandi, ada tuan Felix dibawah," ucap mama Deeva sambil mendorong tubuh Aleta kembali ke dalam kamar.
"mau ngapain sih ma, hari ini kan libur," ucap Aleta sambil berjalan malas ke arah kamar mandi.
"udah cepat, banyak kali sih pertanyaannya," omel mama Deeva. dia langsung sigap menyiapkan pakaian untuk Aleta.
15 menit kemudian, Aleta keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk saja dan dia terkejut karna melihat mama Deeva masih ada di kamarnya.
"ngapain mama masih ada disini?" tanya Aleta yang merasa bingung.
"pakai ini, udah sana cepat," bukannya menjawab pertanyaan Aleta, mama Deeva malah langsung memberikan pakaian untuk dipakai olehnya.
Aleta hanya diam menuruti semua ucapan mamanya, karna kalau tidak sudah habis dia diomeli dan dipukuli.
Setelah selesai, Aleta dan mama Deeva turun ke lantai bawah untuk menemui Felix. Aleta heran karna masih pagi-pagi begini lelaki itu sudah bertamu ke rumahnya.
"udah sana, hati-hati dijalan ya," ucap mama Deeva. Aleta yang tidak mengerti maksud dari ucapan mamanya memasang wajah bingung.
"tuan Agra sakit, jadi kau di minta untuk merawatnya," jelas mama Deeva.
"apa, aku kan belum jadi dokter ma. kenapa harus aku yang merawatnya," tolak Aleta. lebih baik dia tidur dirumah daripada harus merawat pria itu.
"nona, apa nona lupa kalau nona telah menendang..., eemmpp" Aleta segera menutup mulut Felix dengan tangannya saat lelaki itu ingin membongkar aibnya.
__ADS_1
"menendang apa?" tanya mama Deeva penasaran .
"i.itu ma menendang bola," ucap Aleta sambil menarik tangan Felix dan segera keluar dari rumahnya.
"tuan, apa yang anda lakukan. apa anda mau membunuh saya," ucap Aleta saat mereka sudah berada di luar rumah. bisa habis dia dirajam oleh mamanya kalau sampai mamanya itu tau dia sudah menendang aset berharga Agra.
"tuan Agra menyuruh saya untuk menjemput nona," ucap Felix.
"iya, tapi buat apa sih?" tanya Aleta sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"buat merawat tuan Agra," jawab Felix.
"panggil aja dokter, aku belum bisa merawat orang sakit," tolak Aleta.
"tapikan nona yang sudah...,"
"duuuh iya iya," potong Aleta. dia sudah bosan mendengar Felix selalu membicarakan tentang tendangannya itu.
Aleta langsung masuk ke dalam mobil Felix dan duduk di sana dengan tenang sementara Felix hanya tersenyum tipis dan ikut masuk ke dalam mobilnya.
"aku belum sarapan," ucap Aleta tiba-tiba. walau marah sekalipun Aleta tidak pernah lupa untuk makan, karna kesehatan adalah hal yang paling penting baginya. tapi biar begitu pun dia malah dengan teganya menendang aset Agra, sungguh wanita yang entahlah.
Tidak terasa mobil mereka sudah sampai di apartemen milik Agra, Felix segera memarkirkan mobilnya dan turun diikuti oleh Aleta.
Felix memasukkan password apartemen dan segera masuk ke dalamnya dengan masih tetap diikuti oleh Aleta.
"di mana dia?" tanya Aleta sambil mencari keberadaan Agra.
"tuan sedang ada di dalam kamar, lebih baik nona segera ke sana," ucap Felix sambil berlalu meninggalkan gadis itu ke arah dapur.
Aleta segera berjalan ke arah kamar Agra, dia terlihat ragu untuk masuk ke dalam kamar itu. apalagi mengingat apa yang sudah Agra lakukan di sana.
Ceklek. pelan-pelan Aleta membuka pintu kamar Agra dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu.
"kau sudah datang ?" suara Agra mengagetkan Aleta yang masih berada di depan pintu. kemudian dia mendekat ke arah Agra yang ternyata sedang duduk di dekat jendela.
__ADS_1
"kenapa aku disuruh ke sini?" tanya Aleta.
"untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu," ucap Agra dengan seringai tipis dibibirnya.
"tanggung jawab apa sih, buktinya tuan sehat-sehat aja tuh." tunjuk Aleta tepat ke arah aset Agra.
"apa kau mau melihat luka yang ada pada adik kecilku," ucap Agra sambil membuka kancing celananya.
"hah, ti.tidak." Aleta mengibas-ngibaskan tangannya menolak tawaran lelaki itu.
"tapi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Aleta.
"aku lapar, buatkan aku makanan," perintah Agra sambil kembali melihat ke arah jendela.
"tuan kan bisa pesan online, kenapa harus menyuruhku sih," ucap Aleta tidak terima.
"baiklah, aku akan mengatakan pada keluargamu tentang apa yang sudah kau lakukan padaku," ancam Agra sambil mengambil ponselnya di atas meja.
"hah, iya-iya. is..." Aleta menggerutu sambil keluar dari kamar itu. brak. suara pintu yang ditutup kasar oleh Aleta tersengar sangat nyaring.
"hahah, kau lihat gadis kecil. aku akan membuat kau kesal setengah mati karna ulahku," gumam Agra sambil menikmati pemandangan pagi yang sangat menyejukkan mata.
•
•
•
**tbc.
hehe rasain kamu Aleta, terima semua pembalasan dari babang Agra 🤣
Aleta : diam thor 🔪**
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1