
Mobil Dareen sudah sampai di halaman rumah Margaret, terlihat seorang lelaki paruh baya sedang menyiram tanaman sembari bersenandung ria menyanyikan sebuah lagu yang berjudul kepedean. Margaret segera turun dari mobil diikuti oleh Dareen yang juga ingin menyapa lelaki paruh baya itu.
"aku kepedean, kepedean sama kamu. Uwouwouwo...," sangking khusyuknya menyanyi, dia tidak sadar kalau sang anak sudah berdiri di belakangnya bersama dengan Dareen.
"Ayah." Margaret menepuk pundak sang ayah yang membuat ayahnya itu terjingkat kaget. Selang air yang sedang dia pegang mengarah tepat ke tubuh Dareen dan Margaret.
"astaga...." teriak ayah Dito dengan heboh, tapi dia tetap mengarahkan selang air itu ke tubuh Dareen dan Margaret membuat tubuh mereka basah kuyup sampai ke dalam-dalam.
"ayah, turunkan selangnya!" ucap Margaret sembari menghalangi air yang mengarah ke tubuhnya. Mendengar ucapan sang anak, ayah Dito segera membuang selang air kesayangannya dan mendekat ke arah Margaret dan juga Dareen.
"kalian lucu loh, kayak film-film india yang lagi main hujan-hujanan," celetuk Ayah Dito tanpa rasa bersalah membuat Margaret mencebikkan bibirnya, sementara Dareen menatapnya dengan mulut terbuka. Dia tidak menyangka kalau ada manusia seperti ayah Margaret di muka bumi ini.
"Dareen, maafin ayahku ya," Margaret merasa tidak enak karna perbuatan sang ayah. Dia melihat seluruh tubuh Dareen yang basah kuyup sama seperti tubuhnya sendiri.
"tidak pa-"
"Sudah, ayo kita masuk!" Ayah Dito menggandeng lengan Dareen untuk masuk ke dalam rumahnya membuat Dareen membulatkan mata melihat tangan yang sedang melingkar di lengan kekarnya, sementara Margaret menggaruk kepalanya melihat tingkah sang ayah yang memang selalu keluar dari jalur kewarasan.
"tunggu di sini ya, biar ayah ambilkan pakaian ganti untukmu,"
"tidak! tidak perlu om!" tolak Dareen, dia ingin segera pulang ke rumahnya saat ini. Dia sudah ingin segera mandi karna merasa risih dengan tubuhnya yang basah kuyup.
"tidak apa-apa loh, ayah gak keberatan," ucap Ayah Dito, dia melihat tubuh Dareen dari atas sampai bawah dan berulang kali seperti itu membuat Dareen salah tingkah karna di tatap seintens itu oleh seseorang. Apalagi yang melakukannya adalah seorang pria, membuatnya merasa aneh dan tidak nyaman.
"Masih sama kok ukurannya." Ayah Dito mengangguk-anggukkan kepalanya saat matanya menatap tepat ke arah celana Dareen membuat Dareen tidak nyaman.
Margaret yang sudah selesai berganti pakaian mendekat ke arah mereka sembari membawa handuk untuk Dareen, dia takut kalau lelaki itu masuk angin karna ulah sang Ayah.
"Ini." Margaret menyerahkan handuk itu pada Dareen, awalnya Dareen tidak ingin menerimanya, namun karna Margaret memaksa jadilah dia menerima handuk itu dengan duka cita.
__ADS_1
"udah yuk, ke kamar!" ajak Ayah Dito pada Dareen yang langsung membuat Dareen menjatuhkan handuknya, sementara Margaret menatap sang Ayah dengan tajam.
"ma-maaf, saya harus segera pergi," ucap Dareen ingin segera keluar dari cengkraman Ayah Dito, sementara Ayah Dito tetap memegang lengan Dareen. Entah kenapa dia merasa sangat nyaman saat memeluk lengan kekar lelaki itu.
"ganti pakaian dulu Dareen, nanti kamu masuk angin," ucap Margaret, dia takut kalau Dareen sakit jika tidak ganti pakaian saat ini juga.
"tidak per-"
"dia takut kalau pakaian ayah tidak cukup untuk tubuhnya," potong Ayah Margaret memfitnah Dareen, membuat Margaret langsung melihat ke arah Dareen. Sementara Dareen merasa kesal, ingin sekali dia mencekik leher lelaki yang sedang ada dihadapannya saat ini.
"Apa lagi itu, memang sih kelihatan lebih besar." Ayah Dito menunjuk tepat ke arah aset Dareen membuat mata Margaret juga melihat ke arah yang ditunjuk oleh sang Ayah, seketika Margaret mengalihkan wajahnya yang sudah merah akibat melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dia lihat.
Dareen sendiri juga langsung menundukkan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus, dia benar-benar merasa sangat malu dan melaknat Ayah Dito atas apa yang sudah dia lakukan.
Margaret yang tidak ingin membuat Ayahnya semakin merajalela segera mendorong tubuh Dareen ke arah kamarnya, tanpa menghiraukan ucapan sang Ayah. Dareen yang terkejut karna dorongan Margaret hanya diam dan mengikuti apa yang wanita itu inginkan.
"ka-kamar mandinya ada di sana." Margaret menunjuk ke arah kamar mandi, mereka sudah berada di dalam kamar Margaret. Setelah menunjukkan arah kamar mandi, Margaret segera keluar untuk mencari pakaian sang Ayah yang akan dipakai oleh Dareen. Sementara Dareen yang masih terbengong mencerna situasi dan kondisi, dia kembali mendapatkan kesadarannya saat mendengar suara pintu yang tertutup.
"Ternyata dia benar-benar mantan Agra ya." Dareen melihat potret Margaret yang sedang memeluk Agra dengan erat sembari tersenyum dengan ceria, wajah cantiknya tampak sangat bahagia di dalam foto itu.
Tiba-tiba Dareen terkejut saat foto yang sedang dia lihat diambil oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Margaret yang langsung menyembunyikan foto itu di balik tubuhnya.
"maaf," ucap Dareen yang merasa sudah lancang menyentuh barang-barang wanita itu.
"I-Ini pakaiannya." Margaret menyerahkan pakaian untuk Dareen dan segera keluar dari kamar itu.
Brak, suara pintu tertutup sedikit kencang membuat Dareen tersenyum tipis. Wajah Margaret terlihat sangat lucu dan menggemaskan saat merasa kesal sekaligus malu karna Dareen melihat fotonya bersama Agra. Lalu Dareen beralih ke kamar mandi untuk segera mengganti pakaiannya sebelum dia jatuh sakit.
Margaret yang masih berdiri di depan pintu kamar memegangi dadanya yang berdebar sangat keras, dia merasa sangat malu karna Dareen melihat fotonya bersama Agra. Apalagi saat ini Agra adalah adik ipar Dareen, apa yang akan dipikirkan lelaki itu tentangnya ?
__ADS_1
"sudahlah, kenapa aku harus peduli," Margaret menenangkan gejolak perasaan yang sedang melanda hatinya saat ini, dia lalu berjalan ke arah ruang tamu untuk menunggu Dareen.
Setengah jam telah berlalu, Dareen sudah siap berganti pakaian dan mendekat ke arah Margaret yang sedang mengobrol dengan sang ayah.
"waah kau sangat tampan! memang pakaianku itu sangat bagus," entah apa maksud dari ucapan Ayah Dito yang seakan-akan memuji Dareen namun juga memuji pakaiannya sendiri.
"terima kasih untuk pakaiannya om, saya harus segera pergi," pamit Dareen tanpa basa basi lagi.
"Minum dulu tehnya, biar enggak masuk angin." Margaret menyerahkan secangkir teh untuknya, dan dia menerima teh itu dengan hati senang.
"dia enggak akan masuk angin kok, yang bisa masuk angin itu kamu Margaret," seru Ayah Dito, ucapannya itu membuat Margaret bingung.
"apa maksud Ayah?"
"Dia kan laki-laki, yang bisa masuk angin itu perempuan. Apalagi kalau kalian udah nganu tadi." tangan Ayah Dito membuat pola lingkaran di perutnya, menunjukkan tentang kehamilan.
Dareen yang sedang minum sontak menyemburkan air yang ada dimulutnya ke lantai saat melihat apa yang dilakukan Ayah Dito sedangkan Margaret merasa sangat malu, dia menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.
"aku ingin menjual Ayahku ini,"
•
•
•
TBC.
Apa ada yang mau membeli ayahnya Margaret ? 🤭🤭
__ADS_1
Yuk Like dan komen yang banyak, VOTE dan Rating 5, jangan lupa kasi Hadiah juga 🥰 biar karya othor semakin berkembang 😍
Terima Kasih buat yang udah baca 😘