
Rumah sakit yang awalnya tenang dan damai berubah menjadi riuh dan mencekam, Agra berteriak ke sana ke mari memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi Aleta.
Felix juga tak kalah panik, dia sibuk menelpon di sana sini untuk memberitahu keadaan Aleta pada keluarganya, juga untuk memerintahkan Ricky ke Rumah sakit karna memang lelaki itu sedang tidak bertugas malam ini.
Semua Dokter dan Perawat di buat sibuk oleh Agra, dia berteriak memberi perintah untuk menyelamatkan anak dan juga istrinya seperti orang gila. Aleta segera di bawa ke ruang UGD guna mendapat pertolongan sementara Agra terus menunggu dengan tidak sabar, dia berjalan ke sana ke mari di depan ruangan yang di tempati Aleta.
20 menit telah berlalu, namun Dokter belum keluar juga dari ruangan itu. Agra mengacak rambutnya frustasi, beberapa kali tangannya meninju tembok untuk melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri.
"hentikan tuan, tangan anda bisa terluka." Felix menahan tangan Agra yang terlihat sudah lebam karna benturan dinding.
"tidak! aku tidak pantas untuk diam, aku pantas untuk mati,"
"kenapa? apa yang kau lakukan pada adikku?" teriak Dareen yang ternyata sudah sampai ditempat itu bersama kedua orangtuanya.
"Jawab Agra! apa yang kau lakukan pada adikku?" Dareen mengguncang tubuh Agra untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya, namun Agra tetap bungkam dengan air mata yang sudah menggantung dimatanya.
"Dareen, tenangkan dirimu." Papa Arsen menepuk lengan Dareen untuk menyuruh anaknya itu berhenti, dia tahu kalau saat ini menantunya itu juga pasti sangat sedih dengan keadaan Aleta.
Mama Deeva sedari tadi tidak bersuara, dia sudah terisak dalam pelukan Papa Arsen sejak sampai di rumah sakit. Hatinya sangat sedih melihat sang putri kembali dibawa Ke rumah sakit.
"di mana? di mana menantuku?" teriak Mama Lena yang baru sampai di tempat itu, wajahnya terlihat sangat khawatir dengan mata yang menggantung mendung. Begitu juga dengan Papa Abi yang berusaha untuk menenangkan istrinya.
Tak berselang lama, Dokter Ricky juga bergabung bersama mereka. Dia mencoba untuk menenangkan semua keluarga Aleta, dan berkata kalau semua pasti akan baik-baik saja. Mereka diminta untuk sabar menunggu dan jangan membuat kegaduhan, karna semua itu akan mengganggu kenyamanan pasien lain yang ada di Rumah sakit itu.
1 jam telah berlalu, akhirnya pintu ruangan itu terbuka juga. Beberapa Dokter dan juga perawat keluar dengan raut wajah yang susah untuk di tebak.
"Bagaimana? bagaimana keadaan istriku?" Agra langsung bertanya dengan tidak sabar, dia bahkan sampai mengguncang tubuh seorang Dokter yang ada dihadapannya.
"keadaan Nyonya Aleta baik-baik saja tuan, saat ini beliau sedang istirahat," jawab Dokter itu, mereka bisa bernapas lega saat mendengarnya.
"bayi? bagaimana dengan bayi kami?" Agra kembali membuka suara, kali ini para Dokter terlihat saling pandang-pandangan dan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada mereka.
"detak jantung bayi anda sangat lemah tuan, jika dalam 2 hari ini masih tidak ada perubahan, kami terpaksa harus-"
__ADS_1
"apa? kau mau mengatakan apa?" teriak Agra penuh emosi, tangannya mengepal kuat siap melayang kewajah Dokter tersebut.
"Agra, tenangkan dirimu!" bentak Ricky, dia tau kalau saat ini Agra pasti sangat terpukul. Namun bukan berarti dia bisa menyakiti tenaga medis, karna biar bagaimana pun mereka tetap manusia biasa.
"Nyonya Aleta mengalami syok berat yang berpengaruh besar terhadap kedua janin yang sedang beliau kandung, itu sebabnya detak jantung mereka semakin melemah saat ini."
Bruk, tubuh Agra langsung terjatuh ke lantai saat mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter itu membuat semua yang ada di tempat itu merasa terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"maafkan aku Aleta, maafkan aku," Agra bersimpuh di depan semua orang sembari terus mengucapkan kata maaf, dia benar-benar telah menyakiti istri beserta anak yang bahkan belum terlahir ke dunia.
"Bangunlah nak! jangan seperti ini." Papa Abi mencoba untuk menarik tubuh Agra dibantu dengan Felix dan juga Ricky. Dia begitu sedih melihat keadaan putra semata wayangnya seperti ini, begitu juga dengan Mama Lena dan keluarga Aleta yang merasa terpukul melihat keadaan Aleta dan juga Agra.
Kemudian Aleta dipindahkan keruang ICU, saat ini dia belum boleh dijenguk karna memang keadaan bayi yang sedang dia kandung sangat-sangat lemah. Mereka hanya bisa menunggu dan berdo'a agar Aleta dan juga kedua anaknya bisa kembali sehat seperti biasanya.
Dareen terus menatap tajam pada Agra, tidak sedetikpun dia memalingkan wajahnya karna merasa geram dengan apa yang terjadi pada sang adik. Papa Arsen menepuk bahunya, seakan-akan mengatakan untuk tenang dan jangan terbawa emosi.
"Minumlah nak." Mama Lena memberi sebotol minuman untuk Agra, namun anaknya itu tetap tidak bergerak dengan pandangan kosong menatap lantai.
"aku salah pa, aku salah. aku telah menyakiti istri dan anak-anakku, aku-aku-"
"Sudahlah, semua sudah terjadi." Papa Abi memeluk tubuh Agra dengan erat, baru pertama kali dia melihat begitu rapuh dan hancurnya hati Agra saat ini.
Malam semakin larut, Mama Deeva menyuruh Agra untuk pulang. Namun Agra menolak, dia ingin bersama dengan Aleta dan menyuruh mereka semua untuk pulang.
Akhirnya Agra berada di Rumah sakit bersama dengan Felix dan juga Ricky, awalnya dia menolak dan ingin menunggu Aleta seorang diri. Namun Mama Lena memaksa, dia tidak ingin Agra sendirian di Rumah sakit.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 malam, namun mata Agra tak kunjung mengantuk. Dia bangkit dan melihat Aleta dari kaca pembatas, matanya kembali berembun saat melihat tubuh sang istri yang terbaring dengan infus yang tertancap ditangannya.
Ricky dan Felix hanya diam melihat semua itu, mereka juga tau kalau saat ini Agra pasti tidak ingin diganggu dan membiarkannya melihat keadaan sang istri.
Sudah 1 jam Agra berdiri di sana, namun dia tetap setia melihat ke arah Aleta. Tiba-tiba mata Agra melihat gerakan tangan Aleta, dan dia kembali memfokuskan pandangannya agar bisa lebih jelas melihat gerakan tangan sang istri.
"Dokter, Dokter," suara Agra menggema di lorong Rumah sakit itu membuat Ricky dan Felix terlonjak dari duduk mereka.
__ADS_1
"ada apa?" Ricky terlihat sangat panik, begitu juga dengan Felix yang sudah melihat ke arah di mana Aleta berada.
Kemudian seorang Dokter menghampiri mereka, dan Agra mengatakan kalau dia melihat Aleta menggerakkan tangannya. Dengan cepat Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Aleta untuk memeriksanya.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Dokter itu keluar dan mengatakan kalau Aleta sudah sadar. Dia memerintahkan untuk memindahkan Aleta keruang perawatan, namun tidak diperbolehkan banyak bergerak karna memang kondisinya masih sangat lemah.
Semua orang merasa lega, terutama Agra yang terlihat begitu bahagia dengan mata berkaca-kaca dan bergegas menyusul ke ruangan Aleta.
"Sa-sayang." Agra mendekat ke arah Aleta yang sedang menatap ke arahnya, pandangan matanya sayu dan masih terlihat pucat. Felix dan Ricky memilih untuk keluar dari ruangan itu, mereka ingin memberi waktu untuk suami istri itu.
"Al-"
Aleta membuang pandangannya ke arah samping membuat suara Agra tercekat ditenggorokan, hatinya merasa sakit melihat penolakan dari Aleta.
"jika terjadi sesuatu pada anak-anakku, aku bersumpah kalau aku sendiri yang akan membunuhmu!"
Deg, jantung Agra terasa ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan saat mendengarnya.
•
•
•
TBC.
jangan lupa dukungannya ya readers 🥰
Oh ya, baca juga yuk karya temen othor yang super keren ini, dijamin seru dan bikin kalian betah bacanya 😍
Karya Author Ayi
__ADS_1