Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 130. Kebahagiaan


__ADS_3

Aleta dan Agra menjalani hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan bersama kedua putra mereka, walaupun terkadang terjadi baku hantam antara Agra dan Daffi yang tidak pernah bisa akur setiap hari.


Sifat Daffi yang benar-benar mirip dengan Aleta membuatnya menjadi pribadi yang jahil dan suka membuat kegaduhan, sementara sifat Daffa yang sama seperti Ayahnya lebih banyak diam tetapi terkadang juga menjengkelkan.


Hari ini, Agra dan Aleta mengundang seluruh keluarga besar mereka beserta teman-teman untuk acara penyambutan rumah baru.


Terlihat keluarga besar Mahesa dan Winandra sudah hadir ditempat itu, begitu juga dengan teman-teman Aleta dan Agra yang sudah duduk diruangan yang telah disediakan.


"Lusi, sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Rezie sembari mencekal pergelangan tangan wanita itu, sementara Lusi marasa tidak peduli dan tetap berusaha melepaskan tangannya.


Egi dan Bima yang memperhatikan dua orang itu merasa bingung, mereka seperti sedang menonton film India dengan adegan saling tarik-menarik.


"apa yang mereka lakukan?" tiba-tiba Ricky datang dan mengejutkan dua orang yang sedang mengintip Rezie dan juga Lusi.


Mereka sampai terjingkat kaget saat mendengar suara Ricky, sementara Ricky hanya terkekeh pelan melihat raut wajah mereka yang tampak sangat lucu.


"Rezie! kau tidak berhak ikut campur dengan urusanku!" bentak Lusi, dia merasa kalau lelaki itu sudah terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan pribadinya.


"Kender itu lelaki yang berbahay Lusi, untuk apa kau menemuinya!" geram Rezie, dia merasa emosu saat mendengar kalau Lusi bertemu dengan pria bernama Kender.


"memangnya apa masalahmu? kalaupun dia berbahaya, yang berada dalam bahaya itu kan aku. bukan kau!" ketus Lusi, dia tidak mengerti kenapa lelaki itu sangat marah dengan apa yang dia lakukan.


"tentu aja itu menjadi masalah, karna aku khawatir padamu!" ucap Rezie dengan cepat, dia sampai kaget dengan perkataan yang baru saja dia ucapkan.


Sementara Lusi juga terdiam saat mendengar ucapan lelaki itu, dia mulai menduga-duga kalau Rezie punya alasan khusus kenapa merasa khawatir padanya.


"apa jangan-jangan kau-"


"tidak! itu tidak benar! aku hanya khawatir kalau kau membuat orang lain repot, ya ya itu alasannya kenapa aku khawatir," potong Rezie dengan cepat, dadanya bergemuruh karna takut kalau Lusi berpikiran yang tidak-tidak terjadapnya.


Aleta yang saat ini sedang mencari keberadaan teman-temannya tidak sengaja melihat ke arah jendela, tampaklah Bima yang sedang menyanggah dagunya di atas bahu Egi dan di samping mereka ada Ricky yang juga ikut bersandar di bahu Egi.


"Ngapain sih, mereka di sana?" Aleta melajukan kakinya untuk mendekati teman-teman yang sejak tadi dia cari.


Langkah Aleta terhenti saat melihat Lusi dan Rezie sedang bersitegang yang ditonton oleh teman-temannya. Dia lalu berjalan terus sampai melewati Bima dan juga yang lainnya untuk mendekat ke arah Lusi dan Rezie.


"udah-udah, kalau mau ribut itu dirumah! selesaikan masalah rumah tangga kalian dirumah," seru Aleta tiba-tiba membuat dua insan yang sedang baku hantam melihat ke arahnya.

__ADS_1


Rezie segera melepaskan tangan Lusi dan pergi meninggalkan wanita itu, sementara Lusi hanya mencebikkan bibirnya sembari melirik ke arah lelaki itu.


"awas bolong tuh punggung! liatnya serius amat," cibir Aleta saat mata Lusi melihat tajam ke arah Rezie.


"ck," Lusi hanya berdecak kesal dengan apa yang terjadi hari ini.


"sebenarnya apa yang terjadi Lusi, apa kau pacaran dengannya?"


"apa? jangan sembarangan memfitnah dong! mana mungkin aku pacaran sama laki-laki jadi-jadian kayak dia itu," gerutu Lusi sembari mengerucutkan bibirnya, dia merasa tidak terima karna selalu dianggap pacaran dengan Rezie.


"tapi kayaknya dia suka deh samamu, lagian kalian juga cocok kok," balas Aleta, dia merasa kalau Lusi dan Rezie memiliki karakter yang sama.


"aku sih gak heran ya kalau dia suka sama aku, tapi sayangnnya aku gak suka!" ucap Lusi dengan bangga sembari membusungkan dada.


Aleta yang mendengar ucapan Lusi merasa mual, dia ingin memuntahkan isi perutnya karna ucapan yang dilontarkan temannya itu.


Dari kejauhan, Agra memperhatikan sang istri yang malah bergosip ria tanpa mengingat acara mereka hari ini. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah dua wanita yang malah asyik sendiri dengan dunia mereka.


"loh, sayang? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aleta, Lusi langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar ucapan wanita itu.


"udah siap, gosipnya?" tanya Agra dengan sarkastik, dia mengangkat kedua tangannya dan bersedekap dada.


"ayo, semua orang sudah menunggu kita!" seru Agra kemudian, lalu Aleta dan Lusi mengikuti langkah Agra untuk masuk ke dalam rumah.


"selamat ulang tahun ya Dek, semoga kau selalu- aaww!" Dareen tidak bisa melanjutkan ucapannya saat kakinya diinjak dengan kuat oleh Agra, dia lalu melirik ke arah laki-laki itu dan mencubit lengannya agar memindahkan kakinya.


Sementara Aleta melihat Dareen dengan bingung, otaknya sedang bekerja sangat keras mengingat tanggal berapa hari ini.


"apa kau tidak bisa menutup mulutmu, sialan!" bisik Agra ke telinga Dareen, dia sudah susah payah untuk menyiapkan kejutan ulang tahun Aleta tetapi lelaki itu malah menghancurkannya.


"kau sih, enggak bilang. Aku kan jadi gak tau!" desis Dareen, dia mengira kalau mereka semua sudah memberi ucapan selamat untuk Aleta.


"His." Kalau saja lelaki yang ada di sampingnya ini bukan kakak iparnya, sudah pasti dia akan menjadikannya rempeyek.


"oh iya, aku baru ingat!" ucap Aleta tiba-tiba dengan senyum sejuta watt yang mampu mengalahkan sinar matahari.


"sayang, ayo kita bawa Daffa dan Daffi ke sini!" ucap Agra untuk mengalihkan perhatian istrinya, dia menarik tangan Aleta untuk memanggil Daffa dan Daffi yang masih berada di dalam kamar.

__ADS_1


Begitu Aleta pergi, Mama Deeva langsung menjewer telinga Dareen membuat putranya itu mengaduh kesakitan.


"sakit, Ma!" ucap Dareen sembari melepaskan tangan Mamanya yang masih menarik telinganya.


"makanya, mulut itu dijaga! udah mau menikah juga tapi mulut enggak dijaga," gerutu Mama Deeva sembari mengerucutkan bibirnya.


"apa hubungannya sih Ma, menikah sama mulut!" cibir Dareen, sementara Margaret yang ada di sampingnya terkekeh geli melihat perdebatan Ibu dan anak itu.


"lihat! kau lihat calon suamimu ini Margaret, bisa-bisanya kau setuju menikah dengannya," balas Mama Deeva seraya melangkahkan kakinya ke tempat di mana suaminya berada.


"cih, anak itukan cerminan Ibunya," gerutu Dareen yang mendapat cubitan dari Margaret.


Setelah semua perdebatan yang terjadi, akhirnya suasana menjadi tenang. Para keluarga dan teman-teman ikut bahagia saat melihat keluarga kecil Agra dan Aleta yang hidup dengan bahagia bersama anak-anak mereka.


"terima kasih untuk semua orang yang telah banyak membantu keluarga kecilku dalam mengatasi masalah yang terjadi. Aku juga mengucapkan banyak terima kasih pada teman-teman istriku yang telah membantunya untuk menjebakku, hingga aku bisa menikah dengan wanita yang sangat aku cintai saat ini," ucap Agra, membuat teman-teman Aleta merasa tersindir dengan perkataannya.


"Selamat ulang tahun aku ucapkan untuk istriku, cintaku, napasku, Ibu dari anak-anakku, dan juga belahan jiwaku yang telah memberi kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kau berhasil mengubah dunia ku yang terasa hampa menjadi penuh warna, dan menghiasi hari-hariku dengan cinta hingga membuatku tak bisa lepas dari sisimu. Aku harap cinta kita ini akan selalu abadi, hingga Tuhan memisahkan kita dan kembali mempertemukan kita dalam pangkuanNya. Terima kasih istriku, terima kasih untuk semua cinta yang telah kau beri. Aku mencintaiku, aku mencintaiku dengan seluruh kehidupanku."


Suara tepuk tangan menggelegar dirumah itu saat Agra sudah selesai menyampaikan seluruh isi hatinya dihadapan semua orang, Aleta yang tidak menyangka akan mendengar seluruh curahan hati suaminya merasa sangat terharu. Hingga tidak sadar kalau buliran air mata sudah jatuh membasahi wajahnya.


"cemangat Apa, cemangat!" teriak Daffi memberikan semangat untuk Papanya membuat semua orang tertawa karna tingkah imutnya itu.


"semangat-semangat, kamu pikir Papamu lagi bermain tinju," seru Dareen, dia mencubit gemas pipi keponakannya yang di balas dengan gigitan oleh bocah itu.


Aleta mendekat ke arah sang suami dan melihat suaminya dengan haru, dia merasa sangat bahagia dengan apa yang diucapkan oleh suaminya hari ini.


"Terima kasih untuk semuanya suamiku, cintaku, pujaan hatiku, hidupku dan matiku. Aku merasa sangat bahagia karna telah memilihmu untuk menjadi pendampingku, aku tidak pernah menyesal dengan segala keputusanku yang menjebakmu agar mau menikahiku saat itu. Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung, bisa menikah dengan lelaki sepertimu. Terima kasih karna sudah menerima kehadiranku dalam hidupmu, dan terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. I love you, i love you so much my husband."


Aleta memeluk Agra dengan erat yang dibalas dengan pelukan dari suaminya, Daffa dan Daffi juga tidak mau ketinggalan. Mereka berlari ke arah kedua orangtuanya dan memeluk mereka dengan erat membuat siapapun yang melihatnya merasa ikut bahagia.





Terima kasih aku ucapkan untuk semua pembaca, yang sudah mengikuti dan mendukung Aleta dan Agra hingga kisah mereka selesai 🥰🥰 Aku tidak bisa berada sampai tahap ini kalau bukan karna dukungan dari kalian semua 🤗🤗 I love yuu 😘😘 salam sayang dari Dedek Author 🥰

__ADS_1


Oh ya, Othor mau buat extra part. Menurut kalian, cerita siapa yang mau di lanjutkan? Yuk berikan komentar kalian, Aku tunggu ya 🤗


__ADS_2