Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 43. Margaret Lagi


__ADS_3

Setelah pekerjaan Aleta dan Lusi selesai, Ricky memberitahu kalau mereka sudah boleh pulang. Karna memang untuk anak magang jam kerja mereka hanya sampai pukul 5 sore, dan setelah itu mereka sudah bisa pulang ke rumah masing-masing.


Aleta berjalan ke arah mobilnya beriringan dengan Ricky yang juga akan pulang ke rumahnya sementara Lusi masih ada urusan di Rumah sakit itu.


"Apa yang mereka lakukan?" Agra menatap tajam pada Aleta dan juga Ricky yang sedang sama-sama tertawa. Entah apa yang sedang mereka obrolkan membuat dada Agra menjadi panas.


Ternyata Agra sudah menunggu Aleta di parkiran, dia yang tadinya berniat untuk menelpon Aleta mengurungkan niatnya saat melihat Aleta berjalan bersama Ricky.


"loh, Agra. sedang apa di sini?" tanya Ricky begitu dekat dengan Agra sedangkan Aleta hanya membuang muka masam.


"menjemput calon istriku," Agra menekankan suaranya pada saat menyebutkan kata calon istriku. Dia beralih melihat ke arah Aleta yang sedang bersandar di mobil sembari menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Ricky juga melihat ke arah Aleta, dia tertawa kecil karna Aleta kini tampak sangat menggemaskan dimatanya.


Melihat itu Agra semakin panas, dia mendekat ke arah Aleta dan melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu dengan posesif membuat Aleta terjingkat kaget.


"Apa yang kau lakukan?" Aleta melotot dengan sempurna sambil meremas tangan Agra sedangkan lelaki itu hanya menatapnya dengan tajam.


"ehem, kalau gitu aku duluan ya," pamit Ricky sambil menahan tawa yang akan pecah dari mulutnya.


Begitu Ricky berada di dalam mobil, dia langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat kobaran api cemburu yang berasal dari Agra. Temannya itu terlihat sangat lucu saat cemburu seperti tadi, apalagi Aleta yang sepertinya tidak tau kalau Agra sedang cemburu. Sungguh pasangan yang lucu, pikirnya.


"Kau mau meremukkan pinggangku!" Aleta melepaskan pegangan tangan Agra dari pinggangnya. Lelaki itu sangat kuat mencengkram pinggangnya sampai terasa sedikit nyeri.


"ngapain kau tadi ketawa-ketawa bareng dia?" tanyanya tajam. Saat ini dia terlihat sangat menyeramkan.


"apa salahnya sih ketawa bareng dia, yang pentingkan gak tidur bareng dia," cibir Aleta sambil bersedekap dada.


"Apa ! tidur kau bilang." Agra menarik telinga Aleta sampai gadis itu menjerit kesakitan.

__ADS_1


Aleta mengelus-elus terlinganya yang memerah akibat tarikan tangan Agra, untung saja tidak lepas, pikirnya.


"kenapa sih kau, jangan-jangan kau cemburu ya ? huh, itu sudah pasti," dia yang bertanya dia juga yang menjawab dengan wajah yang sudah berlagak sombong. Aleta membusungkan dadanya bangga karna kecantikan paripurna yang dia miliki.


"Mimpi lah kau." Agra meninggalkan gadis itu dan langsung masuk ke dalam mobil Aleta membuat gadis itu juga masuk mengikutinya.


Agra sengaja menyuruh Felix untuk mengantarnya supaya dia bisa satu mobil dengan Aleta. Pasti akan sangat terlihat lucu pikirnya kalau dia menjemput Aleta, kemudian pulang dengan membawa mobil masing-masing.


"aku mau ke perusahaan dulu, habis itu kita baru pulang," Agra membuka suaranya setelah beberapa menit mereka saling berdiam diri.


"hem," Aleta hanya berdehem saja menjawab ucapan Agra, dia malas kalau harus berdebat lagi dengan lelaki itu.


Sesampainya di perusahaan, Agra segera memarkirkan mobil Aleta dan berlalu turun dari sana diikuti oleh Aleta.


"Agra," panggil seorang wanita dari kejauhan sembari mendekat ke arah mereka.


Agra dan Aleta berbalik untuk melihat siapa yang memanggil, begitu melihat orang itu mereka langsung berwajah masam. Apalagi Aleta yang langsung meletakkan tangannya di pinggang seolah menantang wanita itu.


"cih, ketemu deh siluman Medusa dengan siluman ubur-ubur," gerutu Aleta. Ternyata gerutuannya itu terdengar oleh Agra dan juga Margaret yang langsung melihatnya dengan tajam


"Diam kau bocah perusak, aku gak ada urusan ya sama kamu." tunjuk Margaret. Dadanya sudah naik turun menahan emosi saat melihat Aleta, apalagi saat mulut bocah itu terbuka. Tidak ada kata baik yang keluar diri mulutnya itu.


"kau mau apalagi Margaret, bukannya aku sudah bilang jangan lagi muncul di hadapanku," tekan Agra. Dia tidak mau lagi emosi dan semakin menyakiti gadis itu.


"apa kurangnya aku sampai kau lebih memilih dia!" teriak Margaret. Dia benar-benar cinta mati pada Agra, dan tidak bisa kehilangan lelaki itu.


"banyak lah kurangnya, anda itu kurang cantik dan menarik, uups," Aleta menutup mulutnya saat kelepasan bicara. Sepertinya seseorang harus menutup mulutnya itu agar tidak mengelurkan suara.


Margaret mendekat ke arah Aleta dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya, dia harus merobek mulut bocah itu yang sudah mengatainya tidak cantik dan tidak menarik. Padahal banyak lelaki diluaran sana yang suka pada kecantikan wajahnya.

__ADS_1


"mau apa kau!" Agra menahan tangan Margaret yang sudah selangkah lagi merapat ke tubuh Aleta. Dia takut kalau wanita itu memukul atau bahkan melukai rubah liciknya.


"kau lihat ! bocah seperti itu yang akan kau nikahi, bocah kurang ajar dan tidak punya etika," bentak Margaret sambil menunjuk tepat ke wajah Aleta.


Aleta tidak terima saat mendengar apa yang wanita itu ucapkan, seenaknya saja dia mengatai Aleta tidak punya etika. Walau Aleta sering mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, namun dia juga tidak akan berbuat seperti itu pada seseorang yang baik dan menghargainya. Dia hanya akan mengatai seseorang yang telah mengganggu kedamaian hidupnya.


"kau--"


"cukup!" Agra memotong ucapan Aleta. Dia tidak mau kalau dua wanita yang ada dihadapannya ini baku hantam. Lebih baik dia memisahkan mereka dan mengusir sumber keributan saat ini.


"sudah cukup Margaret, lebih baik kau pergi ! sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu dari sini," usir Agra padanya.


Butiran-butiran kristal turun membasahi wajah Margaret, dia benar-benar sudah tidak tau lagi harus melakukan apa untuk mendapatkan Agra kembali. Dia menyalahkan Aleta untuk semua yang terjadi padanya, andai bocah itu tidak merusak dan merebut Agra dari hidupnya sudah pasti dia akan sangat bahagia hari ini.


Aleta yang tadi sangat emosi mendadak jadi merasa iba pada Margaret, dia merasa kalau cinta yang wanita itu miliki sangat dalam dan tulus untuk Agra. Seketika hatinya diselimuti rasa bersalah, karna memang dialah yang sudah merebut Agra dari wanita itu.


"kau lihat saja, sampai kapanpun kau tidak akan pernah bahagia karna merebut seorang pria dari wanita lain," ucap Margaret dan berlalu meninggalkan mereka di tempat itu.


Deg. Bagai ada batu besar yang menghantam dada Aleta, membuatnya sesak seakan napasnya tercekat ditenggorokan.





TBC.


Hiks 🥺 othor juga sedih jadinya

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2