Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 95. Saudara Kandung


__ADS_3

Pagi ini, seorang pria dengan stelan kaos hitam yang dipadukan dengan jaket hitam juga celana dan sepatu hitam tampak keluar dari unit apartemennya. Dia melangkahkan kaki menuju di mana mobilnya berada, dengan menggunakan topi hitam dan kaca mata hitam membuat penampilannya tampak seperti The black man.


Dia segera menjalankan mobilnya menuju bandara untuk menjemput seseorang. Setelah berkendara kurang lebih 40 menit, mobil itu telah sampai di tempat tujuan. Dia bergegas turun dan masuk ke dalam bandara dengan tetap berpenampilan serba hitam.


"selamat datang, ayah," sambutnya pada seorang lelaki paruh baya yang mendekat ke arahnya, lelaki paruh baya itu segera memeluk tubuhnya membuat dia membalas pelukan itu.


"bagaimana kabarmu, Felix?" tanya pria paruh baya itu.


Felix tersenyum dan melepas kaca mata yang sejak tadi bertengger diwajahnya. "Aku baik, Ayah."


Ayah Dion menganggukkan kepala, dia merasa senang karna sudah lama tidak bertemu dengan putra sulungnya.


"bagaimana kabar adikmu?" tanya Ayah Dion sembari melangkah keluar dari Bandara.


Felix mengikuti langkah kaki sang ayah. "Dia baik, Ayah."


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, Felix segera melajukan mobil itu ke tempat tujuan selanjutnya.


"kenapa ayah datang sendiri?" tanya Felix yang merasa khawatir saat Ayahnya itu datang seorang diri, biasanya lelaki paruh baya itu akan pergi ke manapun bersama asisten pribadinya.


"Ayah cuma ingin melihat putra-putra Ayah, tidak perlu mengajak orang lain," jawabnya sembari memperhatikan jalanan sementara Felix tetap fokus menatap lurus ke depan.


Sepanjang perjalanan, mereka habiskan dengan obrolan tentang kabar adik Felix. Sesekali Ayah Dion akan tertawa namun lebih banyak merasa sedih saat mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya.


Mobil yang Felix kendarai sudah sampai di Rumah bercet putih yang tampak sepi, sepertinya penghuni rumah sedang pergi atau memang masih bergelut di bawah selimut.


"Ayah tunggu dimobil saja," ucap Felix, dia takut kalau sang adik akan menghindarinya saat melihat keberadaan sang Ayah.


Ayah Dion menganggukkan kepala, dia mengikuti apa yang Felix ucapkan. Felix segera meninggalkan Ayahnya dan berlalu untuk bertamu ke rumah tersebut.


Ting tong, suara bel terdengar nyaring dirumah itu namun tidak ada siapa pun yang membukanya. Beberapa kali Felix menekan bel, namun hasilnya tetap sama.


Setelah menunggu beberapa menit tak juga ada yang membuka pintu, Felix segera berbalik dan akan kembali ke tempat di mana Ayahnya berada. Namun belum sempat Felix melangkahkan kakinya, terlihat seseorang sedang membuka pintu untuknya.


"siapa ya?" tanya Mona sambil memperhatikan seorang pria yang berpakaian serba hitam di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Felix kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar suara Mona, dia lalu menatap wanita itu dengan tajam.


"apa Devo ada di sini?" tanya Felix, matanya melihat ke dalam rumah Mona mencari keberadaan Devo.


"ka-kau." Mona tersentak kaget saat mengenali siapa pria yang sedang bertamu ke Rumahnya.


"diakan sekretarisnya Agra? untuk apa dia datang ke sini?" Mona merasa takut, dia melihat ke sekelilingnya untuk memastikan bahwa Agra tidak ada di tempat itu.


"apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mona dengan tajam, beberapa dugaan terlintas dikepalanya.


"saya ingin bertemu dengan Devo," jawab Felix dengan cepat, dia melangkah masuk ke dalam Rumah membuat Mona membulatkan matanya.


"apa yang kau lakukan? keluar dari rumahku!" teriak Mona sembari menghalangi Felix yang akan berjalan ke arah kamar.


"panggil Devo kemari!" perintah Felix, dia sudah tidak sabar ingin berbicara dengan lelaki itu.


"ap-apa maksudmu?" Mona merasa kaget sekaligus gugup, dia tidak menyangka kalau lelaki itu tau keberadaan Devo.


"panggil dia kemari, atau aku sendiri yang akan memanggilnya!" ancam Felix, dia sudah malas berlama-lama saat ini.


"aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan! Devo tidak ada-"


"tidak perlu," tiba-tiba suara Devo menghentikan perdebatan mereka, Felix langsung melihat ke arah sumber suara sementara Mona merasa kaget melihat Devo.


"untuk apa dia keluar? sial!" Mona merasa kesal dengan tingkah Devo.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Felix, dia tidak ingin berbasa-basi lagi dengannya.


"Mona, masuklah ke kamarmu! aku ingin bicara dengan bajingan ini," perintah Devo, dia mengepalkan tangannya karna emosi melihat manusia yang selalu mengganggunya itu.


"Devo, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" Mona merasa khawatir kalau rencana mereka akan gagal, apalagi saat ini orang yang ada dihadapan mereka adalah Felix, orang kepercayaan Agra.


"pergilah! semua ini tidak ada urusannya dengan Agra," ucap Devo lagi, Mona yang merasa bingung memilih untuk angkat kaki dari tempat itu. Apalagi saat melihat tatapan tajam dari Devo dan Felix.


"tunggu, kalau dilihat dari samping seperti ini, kenapa mereka terlihat mirip," Mona memperhatikan wajah dua pria itu sembari menaiki anak tangga menuju kamar.

__ADS_1


Buak, satu pukulan mendarat sempurna diwajah Felix membuat lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang, dari sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat dari pukulan Devo.


"mau apalagi kau bajingan?" teriak Devo, dia mencengkram kerah jaket Felix dan mendorong tubuh Felix sampai menabrak dinding.


Mona yang belum masuk ke dalam kamar merasa kaget saat mendengar teriakan Devo, dia merasa penasaran sekaligus takut. Ingin sekali dia mengintip apa yang mereka bicarakan, namun hatinya merasa takut dengan dua pria menyeramkan itu.


Felix yang didorong oleh Devo tidak melakukan perlawanan, andai saja saat ini bukan lelaki itu yang memukulnya, sudah pasti dia membalas pukulan itu berlipat ganda.


"Devo! lepaskan tanganmu!" teriak Ayah Dion dari pintu, dia yang sudah menunggu lama memilih untuk masuk ke dalam rumah.


Devo melepaskan cengkraman tangannya dengan kuat membuat tubuh Felix menabrak dinding, dia sedikit meringis saat hantaman itu terdengar nyaring dipunggungnya.


"dasar bajingan! mau apa kalian datang ke sini? hah!" teriak Devo dengan membabi buta, dia benar-benar dibuat murka saat melihat dua manusia yang sangat dia benci ada dihadapannya.


"Devo, jaga ucapanmu!" bentak Felix, dia merasa tidak suka saat Devo menaikkan suaranya di depan Ayah Dion.


"tidak usah sok mengajariku, kau tidak pantas. Dasar anak haram!" cibirnya dengan seringai tipis disudut bibirnya.


"Devo!" bentak Ayah Dion, dia mengepalkan tangannya menahan emosi mendengar panggilan yang dilayangkan Devo untuk Felix.


"*W*ell well, kalian benar-benar cocok sekali." Prok prok prok prok prok, Devo bertepuk tangan melihat kekompakan dua orang itu.


Felix menggertakkan giginya untuk menahan amarah yang sudah mencapai batasannya, sementara Ayah Dion berulang kali menghembuskan napas kasar menghadapi keras kepala Devo.


"luar biasa, kalian memang sungguh luar biasa," ejek Devo lagi, dia berkacak pinggang sembari tertawa melihat dua manusia itu.


"Kalian memang sangat cocok, seorang anak haram dengan seorang peselingkuh."


Buak, satu tinjuan melesat tepat ke wajah Devo membuat tubuhnya terpelanting menabrak guci yang ada disudut ruangan.




__ADS_1


TBC.


Terima Kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2