
"apa itu, yang ingin anda tanyakan setelah bertahun-tahun meninggalkanku dan Ibu?"
Tiba-tiba, suasana yang tadinya riuh berubah menjadi hening, semua orang terdiam dan hanya hembusan napas mereka saja yang terdengar ditempat itu.
"ba-bagimana kabarmu, Lily?" tanya Niko dengan tergagap, dia mendekat ke arah sang putri secara perlahan.
"baik, seperti saat terakhir kali kau meninggalkanku di dalam sungai"
Rezie dan Ricky terlonjak kaget saat mendengar apa yang Lusi ucapkan, sementara Niko memandang sayu pada putri semata wayangnya itu.
"Ly, Papa tidak bermaksud untuk meninggalkan kalian, tapi-"
"sudahlah! aku tidak ingin mengingat masa lalu," potong Lusi dengan tajam, dia berbalik dan duduk di atas sofa dengan santai.
"oh ya, tadi ada seorang pria yang mencarimu," ucap Lusi, dia melirik ke arah Rezie dan Ricky yang masih berada ditempat itu.
"sialan! itu pasti anak buahnya Kender," gerutu Niko, dia tidak percaya bahwa mereka berhasil mengorek informasi pribadinya.
"bukan anak buahnya, melainkan asisten pribadinya," ucap Rezie tiba-tiba.
Ricky yang berada di samping Rezie melirik ke arah pria itu dengan bingung, begitu juga dengan Lusi yang tidak menyangka kalau Rezie akan ikut campur urusan pribadinya.
"sial! beraninya dia mendatangi putriku," geram Niko, dia lalu duduk di samping Lusi yang masih menatap ke arah Rezie.
"sayang, kau harus ikut pergi bersama Papa!" ajak Niko, dia menggenggam tangan Lusi untuk mengajaknya pergi ke tempat yang aman.
"Jangan mimpi, kau bisa membawaku pergi." Lusi berdiri, dan menghempas tangan Niko dengan kasar.
Dia lalu melihat ke arah sang Ayah dengan tajam. "Aku tidak ada hubungan apapun denganmu, jadi aku juga tidak ada hubungan dengan orang-orang yang mencarimu."
Tepat menancap diulu hati Niko saat Lusi mengucapkan kata-kata tajam padanya, sementara yang lain hanya diam menjadi penonton setia.
"Lily, Papa tidak peduli tanggapanmu tentang Papa. Tapi sekarang kau harus ikut Papa pergi!" tegas Niko, dia tetap harus membawa pergi sang putri.
"kenapa? kau takut kalau terjadi sesuatu padaku? atau kau takut kalau semua orang tau bahwa aku adalah anakmu?" cibir Lusi, dia berdecak kesal melihat sang Ayah.
__ADS_1
"bukan begitu! Papa tidak mau terjadi sesuatu padamu, sayang," lirih Niko, dia ingin sekali meraih tubuh sang putri dan memeluknya erat.
"aku bisa menjaga diriku sendiri," desis Lusi, selama ini dia selalu hidup sendiri dan bisa menjaga dirinya sendiri.
"Kender adalah manusia berbahaya Lusi, kau tidak-"
"manusia yang paling berbahaya itu adalah kau! bukan yang lain," potong Lusi, tangannya menunjuk tepat ke arah Niko.
Niko mengusap kasar wajahnya, sudut matanya yang mulai keriput tampak mengeluarkan air mata saat mendengar perkataan-perkataan yang diucapkan Lusi untuknya.
"sekarang lebih baik kau pergi dari sini! aku tidak ingin berurusan dengan mu!" usir Lusi, dia menunjuk ke arah pintu untuk mempersilahkan sang Ayah pergi dari apartemennya.
Lelaki paruh baya itu memandang putrinya dengan sedih, dia lalu berjalan gontai meninggalkan apartemen itu.
"sudah banyak tahun berlalu, tapi tidak ada sedikitpun perubahan dalam hidupnya," gumam Lusi saat melihat kepergian sang Ayah.
Rezie dan Ricky saling lirik, mereka tidak tau harus bagaimana saat ini. Sementara Lusi kembali duduk disofa, wanita itu terlihat membereskan meja yang berantakan.
"eem Lusi-"
"Dokter sudah mau pulang? kalau begitu hati-hati ya," seru Lusi, dia tersenyum penuh arti pada dua pria tersebut.
Namun, langkah mereka kembali terhenti saat melihat seorang lelaki sedang bersandar didinding. Sepertinya lelaki itu sengaja menunggu mereka berdua, karna begitu mereka datang, dia segera bangun dan berdiri tepat dihadapan mereka.
"siapa kalian? aku yakin kalau kalian bukan teman-teman putriku," tanya Niko, ternyata dia tidak langsung pergi dari tempat itu.
"kami adalah temannya," jawab Ricky, sementara Rezie hanya diam sembari memperhatikan lelaki paruh baya itu.
"teman? dia hanya punya 2 teman pria dan 1 teman wanita," bantah Niko, selama ini dia selalu mengawasi pergaulan putrinya.
"ternyata alAnda mengawasi putri anda ya," seru Rezie dengan smirik khas diwajahnya membuat Niko menjadi tidak suka.
"kalau begitu, anda banyak ketinggalan sesuatu tentang putri Anda," tambah Rezie sendiri, entah kenapa sepertinya dia sedang mengibarkan bendera perang pada lelaki paruh baya itu.
"jaga bicaramu! atau akan kurobek mulutmu itu," bentak Niko, dia sudah mencengkram kuat kerah kemeja lelaki itu.
__ADS_1
"maaf Tuan, dia salah bicara," ucap Ricky, dia melotot tajam ke arah Rezie agar manusia itu tidak berkata yang tidak-tidak lagi pada lelaki paruh baya itu.
Kemudian Niko melepaskan cengkraman tangannya, dia lalu menyuruh kedua anak buah nya untuk kembali ke mobil mereka.
"aku tidak peduli kalian siapa, dan ada hubungan apa dengan putriku. Tapi aku cuma minta satu hal, tolong jaga dan lindungi dia," pinta Niko, dia takut kalau Kender akan melakukan sesuatu pada putrinya saat dia tidak ada.
"kau adalah Ayahnya, kenapa bukan kau saja yang menjaga putrimu?" ketus Rezie, entah kenapa dia merasa kesal dengan pria paruh baya itu.
"jika aku bisa, maka aku akan membawanya untuk ikut denganku!" desis Niko, dia juga ingin membawa Lusi. Namun, keadaannya sendiri juga sedang tidak baik-baik saja.
"aku berharap banyak pada kalian berdua," ucap Niko kemudian, dia lalu berbalik dan pergi dari tempat itu.
"kurang ajar sekali dia! persis seperti anaknya," gerutu Rezie, dia tidak suka dengan tingkah seenaknya dari lelaki paruh baya itu.
"ternyata Lusi sama persis seperti Ayahnya ya," tambah Ricky, dia merasa tidak percaya karna sifat Lusi sama dengan sifat Ayahnya.
"cih," Rezie hanya mendengus sebal mendengar ucapa Ricky.
Mereka lalu kembali berjalan ke arah mobil mereka dan pergi meninggalkan kawasan itu.
Sementara Lusi yang masih duduk termenung di atas sofa tampak meneteskan air mata, sudah sepuluh tahun berlalu dan kini dia kembali lagi bertemu dengan sang Ayah.
"kenapa? kenapa kau muncul lagi dihadapanku setelah pergi meninggalkanku dan Ibu?" gumam Lusi, dia tidak menyangka kalau Ayahnya akan datang menemuinya.
"dan kenapa kau tidak bertanya perihal Ibu? apa kau sudah tau kalau Ibu sudah meninggal?" gumam Lusi lagi dengan deru napas yang terasa semakin sesak, dia terisak dengan lirih dan menangkupkan kedua tangannya tepat kewajahnya.
"Ibu, aku sangat merindukanmu. Apa kau tau kalau saat ini aku bertemu dengan nya? dengan orang yang telah pergi meninggalkan kita?"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga ke karya terbaru Othor ya, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Menjadi Madu Sahabatku 😍 mohon dukungannya 🙏