
Agra menekan gas mobilnya dan melaju dengan sangat kencang membelah keramaian jalanan, dia harus segera sampai ke perusahaan sebelum wanita itu membuat keributan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarainya sudah sampai di area parkir perusahaan. Dengan cepat Agra berlalu turun dan bergegas untuk menuju ruangannya.
Brak, pintu ruangan Agra dibuka dengan sangat keras membuat dua manusia yang sedang duduk di atas sofa terlonjak kaget saat mendengarnya, mereka langsung berdiri begitu melihat kalau Agra lah yang membuka ruangan itu.
Felix menyambut kedatangan Agra sementara Mona memasang wajah cantiknya dengan senyum merekah, mencoba untuk memenangkan hati sang mantan.
"mau apa kau ke sini?" tanya Agra setelah berdiri tepat dihadapan Mona. Gadis itu melirik ke arah Felix yang sedang berdiri di samping Agra, namun pria itu merasa tidak peduli dan tetap tidak bergerak dari tempatnya.
"emm..., bisakah kita bicara berdua?"
"tidak!" tolak Agra dengan cepat, dia tidak ingin berdua dengan wanita itu. Bisa habis dia kalau Aleta sampai tau dia berduaan dengan mantannya.
"tapi Agra, aku-"
"kalau kau tetap tidak mau bicara, lebih baik pergi! jangan terus menguji kesabaranku!" potong Agra dengan tajam, dadanya sudah naik turun menahan emosi.
Mona merasa sedikit kesal, bagaimana mungkin dia bisa menggoda Agra kalau ada sekretarisnya yang menempel di sebelah lelaki itu?
"Felix, seret wanita ini-"
"ba-baiklah, aku ingin membicarakan sesuatu padamu," potong Mona, lebih baik seperti ini daripada dia harus diusir dari perusahaan itu.
Agra hanya diam sembari bersedekap dada, dia memperhatikan Mona dengan tajam dan itu berhasil membuat Mona merinding dengan aura menakutkan darinya.
Glek. "*D*ia mengerikan sekali." Mona menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan ketakutan dalam hatinya.
"A-Agra, aku-aku ingin minta maaf untuk kesalahan yang telah aku lakukan. Aku menyesal, aku sungguh sangat menyesal. Tolong, maafkanlah aku." Mona menundukkan kepalanya dengan tangis yang sudah membasahi wajah.
Felix masih setia menjadi penonton, dia mengamati setiap yang terjadi di ruangan itu. Tanpa Agra dan Mona sadari, sedari tadi ponsel Felix sedang merekam percakapan mereka berdua.
"kau sudah selesai?" tanya Agra datar tanpa ekspresi apapun.
Mona mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Agra, betapa sakitnya melihat tidak ada reaksi apapun diwajah lelaki itu.
"apa-apa kau sudah melihat video itu?" tanyanya dengan terbata-bata, dia mencoba untuk menenangkan gejolak perasaannya.
__ADS_1
"aku sudah melihatnya, betapa bergairahnya percintaan kalian," cibir Agra dengan senyum sinisnya.
"Agra, dia memperkosaku! aku tidak-"
"lalu, apa maumu?" potong Agra dengan cepat, dia tidak mau lagi berbasa-basi dengannya.
"aku, aku-" Mona tidak berani untuk mengatakan kemauannya saat ini, dia takut kalau Agra pasti akan langsung menyeretnya dari perusahaan lelaki itu.
"aku akan membantumu untuk menangkap Devo,"
"apa? kau bilang apa?" teriak Agra membuat Felix dan Mona terjingkat kaget ditempat mereka.
"Hahahaha." Tawa Agra pecah di ruangan itu membuat Felix dan Mona menegang, tawanya itu sungguh membuat keadaan semakin mencekam.
"hebat, hebat sekali," seru Agra sembari menggelengkan kepalanya.
Tubuh Mona menjadi kaku, dia tidak menyangka dengan reaksi yang Agra berikan untuknya. Namun dia harus tetap berani, jika dia menyerah maka dia harus kehilangan lelaki itu untuk selamanya.
"Agra, aku-aku serius," ucap Mona dengan lantang membuat Agra kembali melihat kearahnya.
Jarak mereka berdua sangat dekat, bahkan Mona dapat merasakan hembusan napas Agra yang menerpa wajahnya. Matanya menatap lekat pada bibir lelaki itu, bibir yang sudah lama tidak dia rasakan.
"jika kau bermain-main denganku, maka aku tidak akan lagi menahan diri seperti dulu," ucap Agra tepat ditelinga Mona membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Namun Mona tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada di depan matanya saat ini.
Dengan cepat, wanita itu menarik wajah Agra dan menabrakkan bibirnya tepat dibibir lelaki itu membuatnya kaget karna tidak menyangka akan serangan yang dilakukan oleh Mona.
Mona menjinjitkan kakinya agar bisa menahan tengkuk Agra untuk memperdalam ciuman mereka, lidahnya menari-nari di atas bibir Agra sementara Agra sendiri masih mematung dengan jantung yang berdebar keras.
Felix membulatkan matanya saat melihat itu, tangannya sudah terkepal kuat ingin meninju wajah Mona. Namun belum sempat dia menarik wanita itu, Agra lebih dulu mendorong Mona untuk menjauh dari tubuhnya.
Plak, sebuah tamparan mendarat tepat diwajah Mona membuat gadis itu mematung di tempatnya dengan pipi yang memerah.
"A-Agra-" Air mata menetes diwajah Mona karna benar-benar syok dengan apa yang Agra lakukan, tubuhnya bergetar hebat karna merasakan tamparan Agra yang nyaris mematahkan tulang pipinya.
"dasar wanita tidak tau diri," bentak Agra sembari mengusap bibirnya yang tadi dicium oleh Mona.
Awalnya Agra merasa sangat terkejut dengan apa yang wanita itu lakukan, tubuhnya menegang dengan debaran jantung yang seolah akan melompat keluar dari rongga dadanya. Namun pada saat lidah Mona mencoba untuk masuk ke dalam mulut, tiba-tiba wajah Aleta melintas dalam pikirannya membuat Agra langsung mendorong tubuh wanita itu.
__ADS_1
Mona masih tetap mematung dengan tangis yang semakin pecah diwajahnya, bahkan Felix saja semakin melebarkan matanya saat melihat begitu murkanya Agra dengan apa yang wanita itu lakukan.
"Felix, seret wanita ini keluar dari perusahaanku! dan hancurkan perusahaan ayahnya" perintah Agra sembari melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya.
Deg, mendengar apa yang dikatakan Agra, Mona langsung memegang kaki lelaki itu dan bersimpuh meminta maaf padanya.
"Aku mohon maafkan aku, aku salah Agra. Aku-aku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku, aku mohon maafkan aku." Mona memeluk kaki Agra dengan erat sambil terus mengucapkan kata maaf, dia benar-benar takut kalau sampai lelaki itu menghancurkan perusahaan sang ayah.
Agra menundukkan tubuhnya dan mencekik leher Mona sampai membuat wanita itu merasa sesak dengan air mata yang terus mengalir dari wajahnya.
"A-Agra-" Mona merasa semakin tidak bisa bernapas saat cekikan Agra semakin kuat dilehernya.
"Kalau sekali lagi kau berani melakukan itu, maka aku akan menghancurkan seluruh keluargamu." Agra menghempaskan tubuh Mona dengan kuat membuat wanita itu terkapar di atas lantai.
Agra kembali melanjutkan langkahnya dan beralih melihat ke arah Felix sembari memberi kode untuk membawa wanita itu keluar dari ruangannya.
Felix manarik tangan Mona sampai wanita itu bangkit, dan membawanya keluar dari perusahaan.
"pergilah, dan jangan datang lagi ke perusahaan sebelum tuan Agra benar-benar menghancurkanmu," tekan Felix sambil membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke perusahaan.
Mona hanya diam sembari mengepalkan tangannya, perasaannya dipenuhi dengan amarah saat ini.
"kau lihat saja Agra, aku akan kembali membuatmu berlutut dikakiku,"
•
•
•
TBC.
Terima Kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya teman Othor yang super keren ini, dijamin seru dan betah baca 😍
__ADS_1