Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 32. Ketiban Sial


__ADS_3

Suara gedoran dipintu apartemen Agra terdengar semakin keras, membuat Aleta memeluk lengan Agra dengan sangat kuat sampai pria itu meringis karna cengkraman tangan Aleta.


"lepaskan aku," ucap Agra sambil menggoyang-goyangkan tangannya agar cengkraman Aleta terlepas.


"tidak, aku takut." Aleta tetap memegang lengan kekar itu.


Huh. Agra menghembuskan napas kasar, lalu dia beranjak untuk segera membuka pintu dengan Aleta yang masih setia mendekap lengannya.


"tuan, hati-hati." Agra tidak menghiraukan ucapan Aleta dan dia langsung membuka pintu apartemen itu.


Namun nasib sungguh sangat sial. baru sedikit saja pintu itu terbuka, seseorang dari luar sana mendorong pintu itu dengan sangat kuat membuat Aleta dan Agra terjungkal kebelakang.


Gubrak. tubuh Agra yang langsung mendarat tepat di atas lantai menimbulkan suara yang cukup keras sedangkan Aleta sendiri mendarat tepat di atas karpet.


"Aleta...," teriak seorang wanita sembari berlari mendekat ke arah Aleta.


"kau tidak apa-apa ? apa bagian tubuhmu masih lengkap ?" tanya Lusi sambil mengecek seluruh tubuh Aleta.


"Lusi, apa kau gila," bentak Aleta sambil meringis menahan sakit dibagian bokongnya.


"dek, apa kau tidak apa-apa ?" tanya Dareen yang ternyata ada di tempat itu juga.


"duuh pantatku sakit," ucap Aleta sambil menggosok-gosokkan tangannya diarea itu.


Pikiran Dareen langsung berkeliaran ke mana-mana, jangan-jangan Agra benar-benar menyiksa adiknya. dengan cepat Dareen mencengkram kerah kemeja Agra yang sedang terkapar di atas lantai.


"dasar bajingan, kau apakan adikku?" teriak Dareen sambil mencengkram kerah kemeja Agra.


Agra yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya tidak memberi reaksi apa-apa, dia merasa selalu saja ketiban sial sejak bertemu dengan rubah licik itu.


"kak, apa yang kau lakukan?" teriak Aleta menghentikan apa yang di lakukan kakaknya.


"duuh bisa mati dia kalau sampai dihajar sama kak Dareen," Aleta merasa sedikit kasihan dengan Agra.


"lepaskan tanganmu !" ucap Agra sambil mencoba untuk mendudukkan tubuhnya.


"tidak, kau telah menyakiti adikku. aku tidak akan mengampunimu," ucap Dareen sambil menatap Agra dengan tajam.


"kak, lepaskan dia. dia tidak melakukan apapun." Aleta langsung menarik tangan Dareen dari kerah kemeja Agra.

__ADS_1


Agra terduduk dilantai itu sambil memegangi pinggangnya yang serasa sudah remuk redam. wajahnya memerah dan memancarkan aura yang sangat mengerikan.


"tuan, apa tuan tidak apa-apa?" tanya Aleta sambil mendekat ke arahnya.


"apa kalian semua sudah gila...," teriak Agra marah sambil melihat kearah mereka.


"kau." tunjuk Agra pada Dareen.


"apa yang kau lakukan di apartemenku?" tanyanya tanpa menurunkan tangannya.


"aku ingin menolong adikku, teganya kau menyiksa gadis kecil sepertinya," ucap Dareen sambil mengepalkan kedua tangannya.


"menyiksa kau bilang..., bukan aku yang menyiksa adikmu, tapi adikmu itu yang sudah menghancurkan keperkasaanku," ucap Agra sambil menurunkan tangannya.


"apa !" teriak Dareen dan lusi bersamaan. lalu mereka berdua langsung melihat ke arah Aleta.


"i.itu bukan itu maksudnya, aku gak sengaja," jawab Aleta.


"sudah adikmu menghancurkan masa depanku, dan sekarang kau bahkan juga mau membunuhku. dasar kalian keluarga gila," ucap Agra sambil mencoba untuk berdiri.


"Aleta, apa yang kau lakukan?" tanya Lusi sedangkan Aleta hanya diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan temannya itu.


"tuan, saya minta maaf atas sikap saya tadi," ucap Dareen yang sudah tau kejadian yang sebenarnya dari mulut sang adik.


Agra hanya diam mendengarkan, dia betul-betul merasa kesal pada mereka semua. tubuhnya masih terasa sangat sakit.


"tuan, lebih baik anda istirahat," ucap Aleta yang merasa bersalah karna kakak dan temannya sudah membuat dia terjungkal dengan sempurna.


"kau harus bertanggungjawab merawatku sampai semua sakit yang ada ditubuh sempurnaku ini hilang," seru Agra.


"tunggu, kenapa selalu aku sih yang harus bertanggungjawab?" Aleta merasa tidak terima.


"dan katakan pada orangtuamu, dua hari lagi kita akan melangsungkan pertunangan," lanjutnya kemudian.


"apa, pertunangan?" Dareen dan Lusi tampak sangat terkejut. lalu mereka melihat ke arah Aleta yang hanya menganggukkan kepala saja pertanda untuk jangan banyak bertanya.


"sekarang pergi kalian semua dari rumahku, kecuali kau, rubah licik." tunjuk Agra. lalu dia beranjak naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"dasar pria kurang ajar, enak sekali sih dia ngatur-ngatur aku," gerutu Aleta sambil terus melirik ke arah Agra.

__ADS_1


"tapi dek, apa kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Dareen yang masih diselimuti kekhawatiran.


"aku tidak apa-apa kak, lebih baik kalian semua pergi," ucap Aleta. lalu Dareen dan Lusi pun memutuskan untuk pergi dari apartemen itu.


Agra yang baru sampai di kamar langsung mengambil ponselnya dan segera mencari nomor Felix untuk melakukan panggilan telpon.


"halo tuan," ucap Felix dari sebrang telpon.


"Felix, segera utus orang untuk keperusahaan Winandra, dan selesaikan permasalahan yang terjadi diperusahaan itu," perintah Agra pada sekretarisnya.


"baik tuan." Agra segera mematikan panggilan telpon mereka.


"huh, benar-benar deh," ucap Agra sambil merebahkan diri di atas ranjang.


Dia terlihat sedang memikirkan Aleta, entah alasan apa yang membuat dia mengikat gadis kecil itu dalam sebuah kesepakatan. Melihat jiwa Aleta yang suka menantang orang lain membuat Agra tertarik dan ingin sekali melihat gadis kecil itu tunduk padanya. tapi entahlah, dia sendiri juga tidak tau apa yang dia rasakan saat ini.


Pada saat yang sama, Aleta masih duduk di sofa ruang tamu Agra. dia bingung harus melakukan apa di tempat itu. namun tiba-tiba, Aleta mendengar seseorang tengah memencet bel apartemen Agra.


Dia lalu beranjak untuk segera memberitahukannya pada Agra.


"tuan, ada yang datang," ucap Aleta yang hanya memasukkan kepalanya saja ke dalam kamar Agra.


"ya suruh masuklah," ketus Agra sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Aleta.


"aku kan gak tau password nya," ucap Aleta lagi. dengan cepat Agra menyebutkan password apartemennya supaya gadis itu cepat keluar dari kamarnya.


"duuh siapa sih yang datang, gak sabar kali," gerutu Aleta sambil membuka pintu.


"kau," ucap seorang wanita saat melihat Aleta membukakan pintu untuknya. Aleta sedkit terkejut saat melihat wanita itu.





**Tbc.


jangan lupa dukungan yang banyak ya buat othor 😘**

__ADS_1


__ADS_2