
Pov. Author.
Mereka mematung di tempat dengan tatapan tajam seakan bertanya-tanya apa yang akan Agra lakukan dengan kedua anaknya itu.
Beberapa Dokter juga masuk dan mendekat ke arahnya, dan Agra semakin mengeratkan tangannya ditubuh kedua bayi merahnya.
"tuan, kami mohon tolong kembalikan mereka ke dalam inkubator. Kondisi anak-anak Tuan masih sangat lemah, mereka sangat membutuhkan-"
"tutup mulutmu! jangan coba-coba untuk menghalangiku, atau aku akan membunuhmu!" Agra memberikan ancaman untuk mereka semua, dan kalau mereka melanggarnya maka dia akan benar-benar membunuh mereka.
"nak, Papa mohon. Kasihanilah anak-anakmu nak, mereka butuh perawatan,"
Agra melihat ke arah Papa dengan sedih, wajahnya terlihat jelas sangat mengkhawatirkan keadaan cucu-cucunya.
"Sejujurnya aku juga sangat khawatir dengan keadaan anak-anakku. Tapi bagaimana dengan istriku? aku juga tidak bisa kehilangan dia!"
Agra melangkahkan kaki untuk menuju ruangan Aleta, namun lagi-lagi mereka semua menghentikannya. Tapi Agra tidak gentar, apapun akan dia lakukan demi sang istri, walau hal sekecil apapun yang dapat membuat suatu keajaiban.
Setelah perdebatan yang cukup panjang, Agra berhasil membawa mereka untuk bertemu dengan Aleta.
"Sayang, coba lihat! aku membawa putra-putra kita ke sini." Agra membaringkan kedua putranya ke atas tubuh Aleta agar dia dapat merasakan keberadaan putra-putranya.
"sayang, apa kau tidak mau memeluk mereka? apa kau tidak mau mencium mereka?"
Agra bertanya walau tau kalau istrinya itu tidak akan menjawab, sungguh dia ingin ikut mati bersamanya saat ini juga.
"kenapa? kenapa Aleta? kenapa kau kejam sekali padaku!"
Agra kembali menjatuhkan tubuh ke atas lantai dengan kuat, kakinya terasa lemas untuk menahan berat tubuhnya.
"kenapa kau meninggalkanku seperti ini? apa kau tidak punya hati nurani sama sekali!" Agra terus mengeluarkan semua rasa sakit yang tersimpan dalam dada.
"apa kau tidak kasihan pada putra-putra kita? mereka sangat membutuhkanmu sayang, mereka sangat membutuhkanmu, hiks,"
__ADS_1
"mereka bahkan belum sempat melihat wajahmu, kenapa kau malah meninggalkan mereka?"
"Aleta, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa mengurus putra-putra kita seorang diri, aku tidak sanggup Aleta, aku tidak sanggup, hiks huhuhu,"
"aku mohon hiduplah, aku mohon tolonglah aku. Hiks, hiks. Ayo kita besarkan kedua anak kita sayang, aku mohon,"
Suasana diruangan itu terlihat sangat menyakitkan, semua orang yang melihatnya ikut merasakan kesedihan Agra. Terutama keluarga Aleta yang sudah lemas meratapi putri kesayangan mereka.
Mama Deeva berkali-kali tidak sadarkan diri sampai harus mendapatkan perawatan, sementara Papa Arsen dan juga Dareen hanya bisa pasrah pada sang Kuasa atas takdir yang diterima oleh putri mereka.
Begitu juga dengan keluarga Agra dan juga teman-teman yang merasa sangat terpukul dengan apa yang sedang terjadi, mereka menangis histeris karna tidak menyangka kalau Aleta akan meninggalkan mereka secepat ini.
Ternyata memang sudah tidak ada lagi harapan, orang yang sangat Agra cintai sekarang sudah tidak lagi berada di sampingnya.
"Tuhan, andai aku bisa menukar nyawaku, maka aku akan menukarnya untuk kehidupan istriku. Ambillah nyawaku, bunuhlah aku, tapi aku mohon hidupkanlah istriku Tuhan, aku mohon. Jika Engkau memang benar-benar ada, maka kabulkan lah permintaanku ini,"
Agra hanya bisa berdo'a agar istrinya bisa kembali hidup dan bersama dengannya, dia benar-benar sudah menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Tanpa mereka semua sadari, sesuatu yang ada di atas ranjang tampak bergerak. Dan tiba-tiba, kedua bayi yang masih berada di atas tubuh Aleta menangis dengan kencang membuat semua orang langsung panik dan mendekat ke arah ranjang.
Para Dokter bergegas untuk melihat apa yang Agra ucapkan, beberapa dokter mengangkat kedua bayi yang sedang menangis dan membawanya ke ruangan inkubator.
Dokter memerintahkan semua orang untuk keluar dari ruangan itu agar dia bisa memeriksa keadaan Aleta, namun Agra menolak. Dia ingin tetap berada di sana membuat para Dokter tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Beberapa Dokter langsung melakukan pemeriksaan sedangkan Agra tetap berada di samping Aleta dan berdo'a agar istrinya itu segera membuka mata.
Dua jam telah berlalu, semua pemeriksaan sudah selesai dilaksanakan. Agra mengembangkan senyumnya saat melihat Aleta kembali membuka matanya, dan menarik sedikit senyuman diwajahnya yang masih sangat pucat.
"Terima kasih, terima kasih telah kembali padaku." Agra mengecup seluruh wajah Aleta membuat beberapa Dokter yang masih berada diruangan itu merasa terharu, baru kali ini mereka melihat seorang suami yang sangat mencintai istrinya.
"bagaimana keadaan istriku? dia-dia baik-baik sajakan?" tanya Agra, dia masih merasa trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami.
"keadaan Nyonya Aleta cukup baik Tuan, hanya saja Nyonya masih harus dirawat dirumah sakit sampai bekas jahitan yang ada diperut Nyonya mengering. Kami juga masih harus memperhatikan kondisi kesehatan Nyonya, agar nantinya Nyonya bisa kembali sehat seperti biasanya," jelas Dokter itu, kemudian mereka memutuskan untuk keluar ruangan, meninggalkan suami istri itu yang tadi sempat terpisah alam.
__ADS_1
"bagaimana Dok? bagaimana keadaan anakku? dia baik-baik sajakan? dia kembali hidupkan?" Papa Arsen bertanya dengan menggebu-gebu, membuat Dokter yang ada dihadapannya bingung untuk menjawab pertanyaannya.
"keadaan Nyonya Aleta baik Tuan, namun beliau masih harus banyak istirahat. Nyonya Aleta juga masih harus dirawat," jawab Dokter tersebut, semua orang langsung bernapas lega saat mendengarnya.
"sungguh Tuan, saya baru pertama kali melihat sebuah keajaiban terjadi di depan mata saya. Saya percaya bahwa Tuhan itu memang benar-benar ada," sambung Dokter itu kembali yang memang benar-benar terkejut saat melihat pasiennya hidup kembali.
"benar Dokter, saya sangat berterima kasih pada Tuhan atas keajaiban yang telah Dia berikan pada hidup putri saya," ucap Papa Arsen, semua orang juga menyetujui apa yang dia ucapkan.
Kemudian para Dokter itu melanjutkan langkah mereka untuk pergi dari sana sedangkan yang lainnya langsung masuk untuk melihat keadaan Aleta.
"Aleta, putriku." Papa Arsen langsung memeluk Aleta dengan erat, dia menahan tangisnya saat tubuh sang putri membalas pelukannya.
Semua orang bergantian memaluk Aleta dengan rasa haru dan bahagia, mereka benar-benar bersyukur atas kembalinya Aleta di tengah-tenagh mereka.
"laki-laki tidak boleh! enak saja mau memeluk istriku," Agra menghalangi Ricky, Rezie, Egi, Bima dan juga Dareen yang sudah sangat antusias untuk memeluk Aleta, membuat suasana yang tadinya haru berubah menjadi penuh kekesalan.
"aku kakaknya Agra, aku ingin memeluk adikku!" ucap Dareen tidak terima, dia kesal dengan sifat posesif Agra yang tidak pada tempatnya.
"itu bukan uru-"
"ka-kak, kemarilah," ucap Aleta terbata-bata, membuat Dareen langsung memeluk tubuh Aleta dengan erat, dia juga mendaratkan kecupan dikening sang adik membuat Agra semakin murka.
"aku akan mengusir mereka setelah ini,"
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Mampir juga ke karya terbaru Othor ya, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 mohon dukungannya 🙏