
Sebulan telah berlalu, kini kandungan Aleta sudah memasuki minggu ke 18. Agra sudah tidak lagi bersikap aneh, dia sudah kembali normal walau terkadang sikap manjanya masih terlihat.
Saat ini, giliran Aleta yang membuat Agra kalang kabut dengan permintaan-permintaan aneh yang dia inginkan. Seperti hari ini, Aleta menelpon Agra yang sedang berada di kantor untuk membelikan rujak kesukaannya. Dia sedang ngidam makan rujak yang biasa dia beli di pengkolan.
Mendengar keinginan Aleta, Agra segera keluar dari kantor untuk menuju tempat di mana rujak itu berada. Namun saat sudah sampai di sana, Agra malah tidak menemukan rujak yang diinginkan oleh Aleta. Ternyata Bapak penjual rujak hari ini sedang tidak berjualan, terpaksa Agra membeli rujak lain untuk memenuhi keinginan sang istri.
Setelah berhasil mendapat rujak pesanan Aleta, Agra kembali melajukan mobilnya menuju apartemen.
"Aleta," panggil Agra saat sudah sampai di apartemen. Aleta melihat kearahnya dengan berbinar-binar, dia sudah tidak sabar untuk menyantap rujak kesukaannya.
Dengan semangat 45 Aleta membuka bungkus rujak itu, dan menusuk satu buah rujak yang sudah sangat menggugah seleranya. Lama Aleta merasai rujak yang sudah masuk ke mulutnya, dan tiba-tiba...,
"apa ini? ini bukan rujak yang biasa ku beli!" bentak Aleta sembari meletakkan rujak itu ke atas meja. Agra yang sedang bermain dengan ponselnya mendongak ke arah Aleta yang sudah memasang wajah kesal.
"rujak itu gak jualan, jadi beli di tempat lain," Agra berkata dengan jujur.
"aku enggak mau!" teriak Aleta sembari matanya berkaca-kaca. Dia berlari ke arah kamar membuat jantung Agra seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya saat melihat Aleta berlarian di tangga.
"Aleta, hati-hati!" teriak Agra sambil ikut berlari menyusul sang istri. Dia sudah sangat khawatir dengan keadaan anak-anaknya.
Aleta menhempaskan tubuhnya dan menangis di atas ranjang, dia tidak terima dengan apa yang dilakukan suaminya. Agra yang baru masuk ke dalam kamar mendekat ke arah Aleta, dia mengelus puncak kepala istrinya yang sedang menangis histeris.
"kan sama-sama rujak sih, di mana salahnya?" Agra merasa bingung dengan reaksi Aleta.
"ya salah lah, aku itu maunya rujak pengkolan. Bukan rujak yang kau beli itu!" bantahnya cepat, dia merasa kesal karna dibohongi oleh suaminya.
"itu belinya juga di pengkolan kok, memangnya orang yang jualan rujak di pengkolan itu cuma satu!" Agra jadi tersulut emosi karna ucapan Aleta, dia merasa tidak ada yang salah selagi masih sama-sama rujak.
"jadi, kemaren itu kenapa kau memilihku daripada Margaret?" tanya Aleta tiba-tiba.
Agra mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa Aleta sampai mengungkit masa lalu.
__ADS_1
"kenapa kau bawa-bawa Margaret?" balas Agra dengan bingung.
"ya aku sama Margaret kan sama-sama perempuan, tapi kau lebih milih aku kan daripada dia!" bentak Aleta dengan dada naik turun menahan emosi. Dia tidak suka kalau Agra menyama ratakan rujak kesukaannya dengan rujak yang lain.
Agra melongo mendengar ucapan Aleta, bagaimana mungkin manusia bisa disamakan dengan rujak ? dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Aleta.
Lalu Agra memilih untuk mengalah, dia tidak ingin emosi Aleta semakin meledak-ledak dan akan mempengaruhi kandungannya.
"baiklah, maafkan aku," ucap Agra dengan lembut. Dia mengecup mata Aleta yang masih saja mengeluarkan air dengan deras. Aleta sendiri masih merasa kesal, dia hanya diam sembari membuang muka ke arah samping.
"untuk menebus kesalahanku, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tawar Agra, dia ingin mengembalikan mood Aleta yang sudah kacau balau karna rujak.
Aleta memikirkan perkataan Agra, lalu tiba-tiba dia tersenyum lebar membuat Agra mulai merasa tidak tenang. Dia sudah harap-harap cemas saat rubah liciknya itu menyeringai seperti itu, pertanda bahwa akan ada badai besar yang akan menghantamnya.
"aku ingin ke taman bermain," ucap Aleta bersemangat. Agra menghembuskan napas kasar sembari menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Aleta.
Kemudian mereka segera bersiap-siap untuk menuju tempat yang Aleta inginkan.
"Aleta, kau tidak boleh sampai kelelahan!" tegur Agra saat mendengar ocehan Aleta yang ingin menaiki semua jenis permain di taman bermain nanti. Namun bukan Aleta namanya kalau sampai dia mendengarkan teguran Agra, wanita itu malah tidak peduli dan lanjut merencakanan apa yang ingin di naiki.
Setelah sampai di tempat tujuan, Aleta langsung menyeret Agra menuju wahana air yang ingin dia naiki. Awalnya Agra menolak dengan tegas, dia takut kalau sampai Aleta masuk angin karna terkena cipratan air yang ada di wahana itu. Namun Aleta bersikeras untuk naik, jadilah Agra harus mengalah dan ikut bersama rubah licik itu.
Agra sudah merasa sangat lelah karna terus mengikuti apa yang Aleta inginkan, sementara Aleta masih terlihat bersemangat untuk menaiki wahana yang lainnya. Sepertinya wanita itu lupa kalau saat ini dia sedang mengandung buah hatinya.
"aku haus," ucap Aleta sembari mendudukkan tubuhnya di bangku. Agra segera pergi untuk membelikan minuman untuk Aleta, namun dia meminta Aleta untuk menunggunya di tempat itu dan tidak mengizinkan Aleta untuk ke mana-mana.
Setelah Agra pergi, Aleta merasa perutnya sangat sakit. Dia memegang perutnya sembari meringis menahan sakit yang sedang dia rasakan. Seorang wanita yang sedang melintas di hadapannya mendekat ke arah Aleta yang sudah terlihat pucat dengan keringat yang sudah mengalir di wajahnya.
"nona, nona tidak apa-apa?" tanya wanita itu sembari mengelus perut Aleta. Dia mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang sedang Aleta rasakan.
Perlahan-lahan rasa sakit di perut Aleta berkurang, membuatnya bisa merasa tenang saat ini. Padahal dia adalah calon Dokter, namun masih saja ceroboh hingga membuat perutnya sakit seperti itu.
__ADS_1
"nona sudah baik-baik sajakan?" tanya wanita yang sedari tadi membantu Aleta untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dia rasakan.
"iya, terima kasih karna sudah menolongku," ucap Aleta sembari memegang tangan wanita itu.
Wanita itu membalasnya dengan senyuman, "tidak masalah, oh ya nama ku Mona," ucapnya memperkenalkan diri.
"senang berkenalan denganmu Mona, aku-"
"Aleta, apa yang terjadi?" Aleta tidak bisa melanjutkan ucapannya karna di potong oleh Agra. Dia yang tadi sedang membeli minuman mendengar kalau ada seorang wanita yang kesakitan, dan langsung berlari ke arah sang istri.
"tidak terjadi apa-apa," bohong Aleta, dia tidak mau terkena omelan Agra.
Karna terlalu fokus pada Aleta, Agra tidak melihat kalau ada seorang wanita yang sedari tadi menatap tajam padanya dengan mata berkaca-kaca.
"A-Agra," lirih wanita itu membuat mata Agra beralih padanya.
Jantung Agra serasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya saat mengenali siapa wanita yang sedang duduk di samping Aleta.
•
•
•
TBC.
aduuh kira-kira siapa ya wanita itu ? 🤔
Yuk Like dan Komen yang banyak, VOTE dan Rating 5 juga ya, jangan lupa Kasi Hadiah 🥰 supaya karya othor bisa berkembang 😍
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1