
Setelah perjuangan panjang dengan drama yang menguras emosi dan air mata, akhirnya Aleta dan Agra dapat bersatu kembali. Namun, saat ini mereka belum bisa berkumpul dengan kedua putra mereka karna masih harus menjalani perawatan.
"Sayang, apa kau mau makan sesuatu? atau mau minum? atau kau merasa tidak nyaman?" tanya Agra dengan menggebu-gebu, dia saat ini sedang duduk di samping sang istri.
Aleta hanya menggelengkan kepalanya untuk menolak, dia masih merasa lelah dan selalu ingin memejamkan mata.
Agra membiarkan sang istri untuk istirahat, karna memang kondisi kesehatannya masih belum pulih sepenuhnya.
Tiba-tiba, Ricky dan Rezie masuk keruangan itu dengan perlahan karna takut mengganggu kenyamanan Aleta, membuat Agra mengalihkan pandangan matanya.
"Agra, kita harus pergi sekarang!" ajak Rezie sembari melirik ke arah Aleta yang sedang tidur.
Agra menganggukkan kepala untuk menjawab ajakan temannya itu, dia lalu melihat lagi ke arah Aleta yang saat ini tertidur dengan nyaman. Agra mengecup kening sang istri sembari mengelus puncak kepalanya sebelum keluar dari ruangan itu.
Mereka bertiga lalu keluar untuk menemui keluarga mereka yang masih berada di sana, Agra kemudian pamit pada keluarganya untuk pergi ke suatu tempat dan menitipkan Aleta pada mereka.
Dareen yang tau ke mana Agra akan pergi meminta untuk ikut, dia juga ingin memberi pembalasan pada seseorang yang telah menyebabkan nyawa sang adik terbang ke dunia lain.
Kemudian para lelaki itu meninggalkan rumah sakit untuk menuju kesuatu tempat yang telah disiapkan Felix, lelaki itu sudah berada di sana dari kemarin malam.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara dimobil itu. Suasana terasa sepi dan sesak, semua orang tengah sibuk berselancar di alam pikiran masing masing.
Setelah menghabiskan waktu 40 menit, akhirnya mobil mereka sudah sampai di kawasan yang mereka tuju.
Suasana ditengah hutan yang sunyi dan dingin seakan-akan memancarkan perasaan mereka saat ini, suara-suara binatang yang saling bersahutan semakin menambah suasana yang mencekam, padahal hari masih sangat siang.
Agra dan yang lainnya langsung masuk ke dalam sebuah rumah yang ada di dalam kawasan hutan belantara, namun rumah itu terlihat cukup mewah untuk ukuran di tengah hutan.
Felix yang sudah menunggu kedatangan mereka berdiri di ambang pintu, dia menyambut kedatangan Agra dengan menundukkan kepalanya.
Agra berdiri tepat dihadapan Felix, lelaki itu masih enggan untuk berbicara padanya. Namun dihatinya, dia merasa rindu dengan sekretaris pribadinya itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Agra kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke salah satu kamar yang ada dirumah itu.
Brak, suara pintu yang dibuka dengan kuat mengejutkan dua orang yang saat ini sedang duduk dikursi dengan tangan dan kaki terikat. mereka melihat kedatangan Agra dan yang lainnya dengan perasaan yang tidak menentu.
Terutama Mona, yang seluruh tubuhnya bergetar dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh sedangkan Devo hanya menatap Agra dengan khawatir. Dia mengkhawatirkan keadaan Aleta yang tidak tau masih hidup atau tidak.
"bagaimana? apa kalian betah tinggal di sini?" tanya Agra sarkastik, matanya memancarkan aura yang sangat mengintimidasi.
"Agra, aku mohon maafkan aku!" pinta Mona, dia berjanji tidak akan lagi menganggu kehidupan mereka.
"aku tidak mengizinkanmu untuk bicara! jadi diamlah, sebelum aku merobek mulutmu!"
Glek, Mona menelan salive saat mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan. Tubuhnya yang sejak tadi bergetar semakin tidak terkendali dengan perasaan takut yang menjalar dihatinya.
"beraninya, beraninya kalian melakukan sesuatu pada adikku!" geram Dareen saat melihat dua orang manusia durjana yang telah membuat sang adik sengsara, apalagi saat ini kedua ponakannya masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Dia melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah mereka dengan kepalan tangan yang menampakkan urat-uratnya menonjol dengan sempurna.
Buak, satu tinjuan melesat tepat ke wajah Devo membuat kursi yang dia duduki terguling ke samping, beserta tubuhnya sendiri yang langsung mendarat di lantai, Felix yang melihat itu hanya menundukkan kepalanya karna tidak mampu melihat sang adik disiksa.
"aku mohon ampuni aku, aku-aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi! aku janji, aku janji, hiks," Mona berteriak memohon ampunan pada mereka, isak tangisnya terdengar lirih tapi tak satupun dari mereka yang merasa peduli.
"Terlambat, sangat terlambat!" Agra bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Mona yang semakin histeris saat melihat Agra akan mendekatinya.
"Agra, aku mohon! aku mohon ampuni aku Agra, aku mohon," Mona terus memohon tapi Agra tidak memperdulikannya, dia berjalan terus sampai berhadapan dengan wanita itu.
"aku sudah memberimu kesempatan, tapi lagi-lagi kau membuat ulah," ucap Agra sembari mengambil ponselnya dari saku, dia mencari nomor anak buahnya dan menyuruh mereka untuk datang ke tempat itu.
"Agra, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ricky, dia bingung kenapa Agra memerintahkan anak buahnya untuk datang ke tempat itu. Agra hanya meliriknya saja tanpa berniat untuk menjawabnya, dia lalu beralih meminta sesuatu pada Rezie.
Deg, jantung Mona terasa berhenti berdetak saat melihat apa yang Agra lakukan. Lelaki itu sedang memegang sebuah jarum suntik dan memasukkan cairan ke dalamnya.
__ADS_1
Mona semakin memberontak dan berusaha untuk melepaskan tali yang saat ini mengikat tubuhnya, dia meraung-raung minta dilepaskan yang membuat seisi ruangan menjadi berisik.
"pegangi dia!" perintah Agra pada Rezie yang langsung membuat pria itu memegangi tubuh Mona.
Ricky, Dareen, dan juga Devo bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Agra saat ini, terlebih-lebih dengan obat yang dia suntikkan ke dalam tubuh wanita itu.
"lepaskan aku! apa yang kalian lakukan? obat apa itu?" Mona semakin menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Agra tidak bisa menyuntikkan obat itu, tapi sialnya ada tali yang mengikat ditubuhnya serta Rezie yang saat ini memegang erat kedua tangannya.
Jleb, suntikan itu masuk ke dalam tubuh Mona membuat wanita itu memekik sakit saat jarum yang sangat tajam menembus kulitnya.
Agra tersenyum sinis saat obat yang sudah dia siapkan berhasil masuk dalam tubuh Mona, dia pun beranjak ke arah Devo yang saat ini sedang terkapar dilantai.
"bagaimana? apa kau sudah siap menerima balasan dariku?" tanya Agra dengan nada penuh ejekan, senyum tipis tidak lepas dari bibirnya saat melihat pria yang sudah bertahun-tahun dia cari akhirnya berada tepat dihadapannya.
"apa Aleta baik-baik saja? dia tidak apa-apakan?" tanya Devo yang sepertinya tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Beraninya, beraninya kau menyebut nama istriku!" Buak, kaki Agra melayang tepat ke wajah Devo membuat lelaki itu meringis kesakitan, sepatu yang melekat dikaki Agra mendarat sempurna dimulut lelaki itu membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Kemudian Agra menyeret tubuh Devo dan melemparkannya ke arah dinding dengan kuat, membuat tubuh lelaki itu menghantam dinding yang sangat keras dan terjatuh kembali di atas lantai.
Kaki Agra menginjak kepala Devo dengan kuat, dia benar-benar tidak bisa lagi menahan gejolak amarah yang sejak dulu dia tahan.
"kau tunggu saja, aku akan membuatmu menderita sampai napas terakhirmu!"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga ya ke karya terbaru othor, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🥰