
Tidak terasa, usia Daffa dan Daffi sudah hampir genap 1 tahun. Hari ini, mereka sedang bersiap untuk pergi ke kebun binatang. Aleta sedang menyiapkan kedua putranya dengan dibantu Agra yang sedang sibuk memakaikan pakaian untuk Daffi.
"tangannya diangkat dong, biar Papa bisa masukkan bajunya," ucap Agra pada Daffi.
"ndak isa, ndak isa," celoteh Daffi sembari menggelengkan kepalanya, dia meletakkan kedua tangan di belakang tubuhnya.
"cepat angkat! kau mau ikut Mama sama Papa tidak?" geram Agra, dia menarik kedua tangan Daffi dan mengangkat tangan itu agar bajunya bisa masuk.
"dari tadi kok gk siap-siap?" seru Aleta, dia menggendong Daffa yang sudah rapi menggunakan pakaian bergambar jerapa.
"Mama, Apa ndak isa," Daffi mengadu pada Mamanya sembari bergelayut manja dikaki Aleta, dia menunjuk tepat ke arah Agra yang sedang duduk dikarpet sebelah ranjang.
"gitu aja kok gak bisa sih Pa!" ucap Aleta, dia menurunkan Daffa untuk memakaikan pakaian pada putra bungsunya.
"gak bisa apa! orang dianya aja yang bandel!" gerutu Agra sembari melemparkan pakaian Daffi ke karpet yang ada dihadapannya, dia lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi itu membuat Istri dan anaknya terlonjak kaget.
"kenapa sih dia? apa kurang sajen?" Aleta melihat suaminya dengan bingung, dia lalu memakaikan pakaian pada Daffi dan membenahi pakaian putranya itu agar terlihat tampan seperti Daffa.
Setelah semuanya selesai, mereka berempat segera meluncur ke tempat tujuan hari ini. Mereka pergi ke kebun binatang untuk melihat berbagai macam binatang kesukaan Daffa dan juga Daffi.
Kedua anak kembar itu terlihat begitu bersemangat, dan berlarian ke sana ke mari mengganggu para pengunjung lainnya.
"Mama, ada tewek antik." Daffi menunjuk ke arah seorang gadis kecil yang sedang memakan es krim dikursi taman, dia lalu mengajak Mamanya untuk mendekati gadis itu.
"ajak Kak Daffa saja sana, tapi jangan jauh-jauh ya," ucap Aleta yang sedang duduk didekat kolam air bersama Agra yang sibuk dengan ponselnya.
"Kak, ayo cana!" ajak Daffi sambil menarik tangan Daffa untuk mendekati gadis kecil berkucir dua, sementara Daffa tidak mau membuat Daffi menarik paksa Kakaknya itu.
"ehem, Dapi mau kenalan," ucap Daffi sambil duduk di sebelah gadis kecil itu, dia menarik sang Kakak untuk duduk juga di sampingnya.
Gadis kecil yang sedang sibuk menjilati es krimnya tidak memperdulikan kehadiran dua bocah kembar itu, dia tetap fokus pada es krimnya yang tinggal sedikit lagi.
"Kak, dia ndak dengel. Kata Mama kalau ndak dengel namanya tule," Daffi mengadu pada Daffa yang duduk di sampingnya, padahal tanpa dia mengadu pun Daffa juga tau kalau gadis itu tidak mendengar ocehan adiknya.
__ADS_1
"bukan tule, tapi tuli," ucap Daffa, dia lalu bangun dan mendekat ke arah gadis itu.
Daffa mengambil es krim yang sedang dinikmati oleh gadis kecil itu membuat gadis itu memandangnya dengan berkaca-kaca, tidak berselang lama terdengarlah suara tangisan darinya membuat seorang wanita yang saat itu baru keluar dari toilet berlari ke arah sang putri.
"sayang, ada apa?"
Mendengar suara Ibunya membuat gadis kecil itu melompat ke tubuh sang Ibu, dia menunjuk ke arah Daffa yang saat ini sedang memegang es krimnya.
"dia mengambil es klim ku," ucap gadis kecil itu.
Wanita yang bernama Lily melihat ke arah Daffa dan Daffi yang juga sedang melihatnya, dia kini menurunkan putrinya dan menjongkokkan tubuhnya dihadapan bocah kembar itu.
"apa kalian berdua mau es krim?" tanyanya dengan lembut, dia merasa gemas melihat mereka berdua.
Daffa dan Daffi menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan wanita itu, lalu Daffi mundur ke belakang tubuh Daffa untuk melindungi diri.
Aleta dan Agra yang sedang memperhatikan kedua anak mereka memilih untuk mendekat, saat melihat seorang wanita bergabung bersama putra mereka.
"Dapi enggak kau es klim, tapi mau dia." Daffa menunjuk ke arah gadis kecil itu membuat Lily mengerutkan keningnya.
"Mama, Kak Dapa ambil es klim dia," Daffi mengadu pada Mamanya kalau sang Kakak mengambil es krim gadis kecil itu, sementara Daffa langsung membuang es krim yang ada ditangannya saat mendengar Daffi mengadu pada Mamanya.
"maafkan kedua putra saya, Mbak," ucap Aleta, dia merasa tidak enak hati karna sudah menganggu putri dari wanita itu.
"tidak apa-apa Mbak, biasa itu anak-anak," seru Lily, dia tersenyum dengan ramah pada Aleta.
"kalau begitu kami permisi dulu ya Mbak," pamit Aleta, dia lalu menggandeng kedua anaknya untuk menjauj dari wanita itu, sementara Lily hanya menganggukkan kepalanya untuk menbiarkan mereka pergi.
"kalian ini ya, kalau mau main itu jangan nakal," sembur Aleta, dia memarahi kedua putranya yang sudah membuat anak orang lain menangis, sementara Agra hanya diam sambil melirik mereka yang saat ini sedang bersitegang.
"bukan aku Ma, tapi Kakak," bantah Daffi, dia melihat ke arah samping untuk memberitahu sang Ibu bahwa bukan dia yang membuat gadis kecil itu menangis.
"bukan aku juga! kata Dapi tadi dia tuli Ma," bantah Daffa, mereka berdua saling tuduh untuk keributan yang baru saja mereka lakukan.
__ADS_1
"gak anak gak Mama sama saja! dulu Mamanya mengatai orang lain bisu, sekarang anaknya mengatai orang lain tuli," gerutu Agra sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"ck," Aleta hanya berdecak kesal saat mendengar gerutuan Agra, dia jadi mengingat masa lalu tentang pertemuan pertamanya dengan Agra.
"ya sudah, lain kali tidak boleh membuat orang lain menangis ya!" seru Aleta, dia menunjuk tepat ke arah Daffa dan Daffi bergantian.
Setelah membuat keributan dikebun binatang, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun, Agra memberitahu Aleta kalau mereka harus pergi kesuatu tempat dulu.
Aleta hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Agra, dia melirik ke kursi belakang untuk melihat kedua putranya yang sudah tertidur.
Tidak berselang lama, sampailah mobil mereka ke tempat tujuan. Mata Aleta terbuka lebar saat melihat bangunan ruma mewah yang saat ini ada dihadapannya.
"ayo!" ajak Agra sembari turun dari mobil, dia membuka pintu belakang untuk menggendong Daffa dan Aleta menggending Daffi.
"rumah siapa ini, sayang?" tanya Aleta, matanya bergerak ke sana ke mari mengamati kesekeliling rumah itu.
"nanti kau akan tau sendiri, sayang," jawab Agra, dia lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu.
Aleta berdecak kagum dengan seluruh isi rumah mewah itu, dia berkeliling tempat untuk melihat seluruh ruangan yang benar-benar mewah dan elegan.
"gimana? apa rumahnya bagus?" tanya Agra setelah Aleta kembali berdiri di sampingnya.
"bagus sekali, benar-benar terlihat sangat indah," seru Aleta, dia benar-benar kagum dengan bangunan rumah itu.
"ini rumah kita sayang, rumah kita bersama putra-putra kita,"
Aleta memalingkan wajahnya ke arah Agra saat mendengar ucapan suaminya itu, dia lalu memeluk tubuh sang suami karna merasa bahagia dengan rumah baru mereka.
•
•
•
__ADS_1
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘