Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 6. Meminta Bantuan


__ADS_3

Pagi berganti siang. dan siang berganti dengan malam. jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Dareen dan papanya belum juga meninggalkan kantor. Mereka harus memutar otak untuk mencari cara menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.


"papa..." panggil Dareen sambil melangkah masuk keruangan papa nya.


Papa Arsen hanya melihat ke arah Dareen tanpa menjawab panggilannya.


"lebih baik papa pulang dan istirahat." ucapnya pada sang papa.


"huh. ya tuhan. apa yang harus kami lakukan." gumam papa Arsen.


Dareen juga tidak tau harus berkata apa untuk menenangkan papanya. juga bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah yang membelit saat ini. ada ratusan pekerja yang akan kehilangan pekerjaan mereka kalau sampai perusahaan bangkrut. belum lagi hutang yang menumpuk pasti akan membuat orangtua dan juga adiknya menjadi sedih.


Dareen sudah berusaha menghubungi semua pihak investor tapi semua tida ada yang mau bergabung dengannya. bahkan orang-orang yang dulu selalu dia bantu seakan-akan tidak tau dan tidak mau tau. begitulah sifat manusia. bagaikan kacang yang lupa pada kulitnya.


"pa... bagaimana kalau kita minta bantuan pada Mahes Company ?" tanya Dareen. Mahes Company termasuk perusahaan besar dinegara itu.


"baiklah. kita akan mencobanya." ucap sang papa. kemudian mereka memutuskan untuk segera pulang.


Sementara itu, mama Deeva terlihat mondar mandir didepan pintu rumahnya. jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi suami dan juga anaknya belum pulang kerumah. sudah berkali-kali dia menelpon namun tak juga ada jawaban. bahkan ponsel Dareen tidak aktif.

__ADS_1


"ya tuhan. kemana mereka." ucap mama Deeva dipenuhi ke khawatiran. tak lama tampak mobil Dareen memasuki gerbang rumah mereka.


Mama Deeva segera mendekat kearah mobil. dia yang biasa menunggu didalam menjadi tidak sabar.


"pa... darimana aja kok jam segini baru pulang ?" tanya mama Deeva sambil mengambil tas kerja suaminya.


"kita bicarakan nanti ma. papa sangat lelah." ucap papa Arsen sambil masuk kedalam rumah diikuti oleh mama dan juga Dareen.


Setelah membersihkan diri, papa Arsen kini terlihat lebih segar. mama Deeva berjalan masuk kekamar sambil membawa teh hangat untuk sang suami setelah lebih dulu mengantarnya untuk Dareen.


"ada apa pa ? apa ada sesuatu yang terjadi ?" tanya mama Deeva.


"ma... sebenarnya sedang ada masalah diperusahaan." jawabnya. kemudian papa Arsen pun menceritakan semuanya pada mama Deeva.


"sayang. tenanglah. aku dan Dareen akan bekerja keras untuk menyelesaikannya." ucap papa Arsen menenangkannya.


"pa... hiks hiks huhuhuhu..."


"ssttt... sudah jangan menangis." papa Arsen memeluk erat sang istri agar dia tenang.

__ADS_1


Dia akan berjuang keras untuk menyelamatkan perusahaannya walau harus melakukan apapun. karna perusahaan itu adalah hasil kerja kerasnya bersama almarhum ayah tercintanya.


Sementara itu, Dareen terlihat termenung dijendela kamarnya. dia sedang memikirkan cara yang sama seperti apa yang dipikirkan oleh papanya saat ini. jika Mahes Company tidak ingin membantunya, maka pilihan terakhir jatuh pada Lesyan Company. hanya itulah jalan yang bisa membantu mereka. dia akan berjuang keras untuk meyakinkan mereka untuk bekerja sama dengannya.


Dareen sudah memgumpulkan segala informasi tentang perusahaan-perusahaan itu. dia akan membuat janji temu dengan para pimpinan nya. kemudian Dareen mengirim pesan pada Kiky. sekretaris pribadinya untuk mengatur pertemuannya dengan pimpinan dari perusahaan-perusahaan itu.


Dareen akan melakukan segala cara agar mereka mau membentunya. bila perlu dia akan bersujud dikaki mereka. asal perusahaannya bisa bertahan dia rela untuk melakukan segalanya.


Karna hari sudah semakin larut, Dareen pun segera mengistirahatkan tubuhnya. dia harus tetap semangat untuk menyongsong hari esok yang akan datang.


Sementara Aleta yang memang belum tidur karna sedang mengerjakan tugas, samar-samar mendengar suara sang mama menangis. dia kembali menajamkan pendengarannya untuk memastikan apa benar itu suara mamanya. atau suara sesuatu yang sedang bergelantungan di samping rumahnya. uuuh seketika dia menjadi merinding.


"tapi kayaknya memang suara mama deh" gumamnya.


"ah mungkin lagi berantem sama papa." ucapnya kemudian. mamanya itu memang selalu nangis kalau lagi berantem sama papanya. nampaknya aja garang padahal cengeng. persis seperti dirinya sendiri.


Karna jam sudah lewat di angka 12 malam, Aleta memutuskan untuk tidur. dia sudah sangat lelah dan ngantuk. tapo tiba-tiba matanya kembali terbuka. dan dia langsung mengambil ponselnya didalam laci.


"ah benar. besok Egi ulang tahun rupanya." ucapnya sambil kembali memasukkan ponselnya kedalam laci. besok dia harus membeli hadiah untuk sahabat kesayangannya.

__ADS_1


☆☆☆


yuuk jangan lupa dukung othor. like. koment. favoritkan 😘


__ADS_2