Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 127. Niko Andrea


__ADS_3

Lusi mematung ditempatnya berdiri dengan berbagai pertanyaan yang berputar dikepalanya, dia merasa bingung kenapa pria tadi menemuinya dan berbicara sesuatu tentang seorang pria bernama Niko Andrea.


"kenapa mereka mendatangiku? dan apa hubungannya urusan mereka denganku?" kepala Lusi terasa ingin pecah saat dia memikirkan semuanya, sementara Rezie masih setia berada di belakangnya.


"ayo, aku akan mengantarmu pulang!" tawar Rezie membuat Lusi langsung berbalik melihat ke arahnya.


"kau mau mengantarku pulang?" tanyanya dengan tidak percaya, tangannya terangkat mengusap-usap telinga karna merasa indra pendengarannya sedang rusak.


Rezie berdecak kesal saat melihat reaksi Lusi, dia lalu mendekat dan menarik tangan wanita itu untuk masuk kemobilnya.


"apa yang kau lakukan?" teriak Lusi yang saat ini sedang didorong masuk ke dalam mobil oleh Rezie.


"aku akan teriak supaya kau dimasukkan kekantor polisi lagi!"


"diam! apa kau mau ditemui oleh pria tadi lagi?" ketus Rezie sembari menutup pintu mobilnya, dia lalu memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.


"ta-tapi, kenapa kau mau mengantarku?" tanya Lusi sambil memicingkan matanya, dia merasa curiga dengan kebaikan lelaki itu.


"apa salahnya hanya mengantar, toh kita satu jalan" jawab Rezie, dia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"tapi, nanti kita berhenti di supermarket ya. Aku mau belanja," ucap Lusi.


"dasar wanita kurang ajar, dikasi hati malah minta jantung," gerutu Rezie, sudah untung dia mengantar wanita itu untuk pulang, pikirnya.


"kan kau sendiri yang mau mengantarku, jadi apa salahnya kalau berhenti disupermarket sebentar!" ucap Lusi membela diri, dia melihat ke arah samping dengan smirik licik diwajahnya.


"terserah," Rezie malas berdebat lagi dengan wanita itu, dia memilih untuk mengikuti apa yang Lusi inginkan.


Setelah sampai di supermarket, Lusi meminta Rezie untuk menemaninya belanja. Tentu saja Rezie menolak mentah-mentah ajakan Lusi, tetapi bukan Lusi namanya jika tidak bisa memaksa lelaki itu untuk ikut dengannya.


"Emm, apa lagi ya?" Lusi melihat-melihat barang-barang yang tersusun rapi di atas rak guna mengingat segala kebutuhan sehari-harinya yang sudah habis.


Rezie yang sedang mendorong troli di belakang Lusi merasa sangat kesal, dia menyesal karna telah menarkan tumpangan pada wanita itu.


Ricky yang saat itu juga sedang berada disupermarket terus melihat ke arah Rezie, beberapa kali dia mengucek matanya untuk memastikan apakah yang saat ini dia lihat adalah temannya atau tidak.


"Itukan benar-benar Rezie!" Ricky melangkahkan kakinya untuk mendekati lelaki itu.

__ADS_1


"Woy." Ricky menepuk bahu Rezie membuat lelaki itu terjingkat kaget di sebelah barang belanjaan Lusi.


"kau! bikin kaget saja!" ketus Rezie, jantungnya terasa sangat sesak akibat terkejut dengan ulah temannya.


"Kau sedang belanja?" Ricky mengambil sebungkus barang yang menjadi fokus matanya sedari tadi, dia menyodorkan benda itu kehadapan Rezie.


"kau pakai pembalut?"


"Apa? se-sembarangan!" Rezie merebut roti bantal itu dan kembali memasukkannya ke dalam troli.


"ayo kita pulang! aku udah capek banget pengen mandi," seru Lusi yang tidak tau kalau ada Ricky ditempat itu.


Ricky melihat kearah Lusi dan Rezie secara bergantian dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, sementara Lusi sendiri merasa sangat terkejut sampai es krim yang sedang dia pegang terjatuh ke atas lantai.


"kalian tinggal bersama?" tanya Ricky sembari menutup mulutnya seolah-olah sangat terkejut dengan kebenaran yang baru dia ketahui.


"tidak!" jawab Lusi dan Rezie bersamaan membuat beberapa orang yang melintas ditempat itu melihat ke arah mereka.


"ja-jangan memfitnah sekejam itu dong, Dokter!" ucap Lusi, dia merasa sangat tidak terima. Sementara Rezie hanya mendengus sebal dengan apa yang diucapkan wanita itu.


"dia kan cuma menemaniku belanja Dok, bukan berarti dia tinggal serumah denganku!" bantah Lusi, dia melirik ke arah Rezie untuk meminta bala bantuan.


"aku tidak sengaja bertemu dengannya, jadilah aku dibawa ke supermarket ini," tambah Rezie.


Ricky mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari mereka, dia merasa ada sesuatu yang janggal tetapi ya sudahlah. Dia malas untuk berdebat lagi dengan dua manusia itu.


"karna kita sudah berkumpul di sini bagaimana kalau main ke rumahku?" tawar Lusi, dia mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan agar bisa bersama dengan Ricky.


"cih, dasar wanita ganjen," gumam Rezie yang hanya bisa didengar oleh Lusi, wanita itu lalu menginjak kaki Rezie membuatnya langsung kesakitan dan berteriak tanpa suara.


"baiklah, ayo kita- loh, apa yang terjadi padamu?" ucap Ricky saat melihat Rezie meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


"dia tidak apa-apa Dokter, kalau gitu ayo kita pergi!" Lusi mendorong troli belanjaannya untuk membawanya ke kasir, dia lalu menyodorkan sebuah kartu pada kasir tersebut.


Setelah belanja, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol ria dirumah Lusi. Untuk pertama kalinya, Lusi dan Rezie terlihat akur dan saling bersenda gurau membuat Ricky menaruh curiga pada mereka berdua.


"apa ini, yang dinamakan benci jadi cinta?" Ricky menggelengkan kepelanya saat kalimat itu melintas dikepalanya.

__ADS_1


"oh ya, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" ucap Rezie, dia ingin bertanya perihal lelaki bernama Niko Andrea.


"tanya saja! gak bayar kok," jawab Lusi, tangannya sibuk mengupas kulit kacang kesukaannya.


"siapa lelaki bernama Niko Andre?" tanya Rezie, Lusi yang akan memasukkan kacang ke dalam mulut menghentikan tangannya. Bahkan kacang-kacang itu berjatuhan ke lantai saat ini.


Sementara Ricky yang mendengar pertanyaan Rezie langsung melihat ke arahnya dengan bingung, "bukannya Niko itu pemilik kasino terbesar di kota ini,"


"dia adalah Ayahku," jawab Lusi dengan jujur, dia kembali mengambil kacang yang ada dihadapannya dan memakan kacang itu sampai habis.


"Ayahmu?" ulang Rezie, dia melirik ke arah Ricky yang juga sedang meliriknya.


"kenapa? kau penasaran?" tanya Lusi, untuk pertama kalinya wanita itu terlihat dingin pada orang lain.


"kenapa-"


"tidak, Rezie hanya ingin bertanya saja," potong Ricky, dia melirik ke arah Rezie dan memberi kode agar tidak melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan.


"kalau gitu kami permisi ya Lusi," pamit Ricky, dia membangunkan tubuhnya dengan diikuti oleh Rezie.


Namun, saat baru beberapa langkah menuju pintu. Tiba-tiba seorang pria membuka pintu apartemen Lusi membuat semua orang terkejut saat melihat pria tersebut.


"Lily! apa yang kau lakukan dikota ini?" seru seorang pria paruh baya dengan dua orang bawahannya.


Sementara Ricky dan Rezie yang mengenal betul sosok pria itu beralih melihat ke arah Lusi yang terdiam di dekat sofa, mereka bingung saat mendengar pria itu memanggil Lusi dengan sebutan Lily.


"apa itu yang ingin anda tanyakan setelah bertahun-tahun meninggalkanku dan Ibu?"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2