Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 107. Kekecewaan Agra


__ADS_3

"hentikan!" teriak Ricky yang sudah tidak tahan melihat keadaan Felix saat ini, beberapa orang menerobos masuk ke dalam ruangan karna merasa terganggu dengan suara berisik yang terjadi di ruangan itu.


"ada apa ini?" seorang pria paruh baya berbadan tambun mendekat ke arah Felix, dia memegang kepala lelaki itu yang sudah banyak mengeluarkan darah.


Beberapa orang juga mendekat untuk melihat Felix, namun Rezie bertindak cepat dengan mengusir semua orang yang saat ini sibuk berbisik-bisik menerka apa yang sedang terjadi di tempat itu.


Ricky segera memapah tubuh Felix dengan dibantu oleh Rezie untuk membaringkannya ke ranjang, lalu mereka membawa lelaki itu ke ruangan Ricky karna dia sendiri yang akan memeriksa kondisinya.


Agra sendiri masih mematung di tempatnya, dia diam sembari melihat ke arah lantai yang masih menyisakan noda darah Felix. Hatinya masih terasa sangat sakit, bagaimana mungkin semua orang yang ada disekitarnya mengkhianatinya?


Agra juga menduga kalau Ricky sudah tau mengenai jati diri Felix, karna sedari tadi laki-laki itu tampak membela Felix. Lain hal dengan Rezie yang hanya mencoba untuk menjauhkannya dari tubuh Felix.


Tiba-tiba Agra teringat satu hal, "apa Aleta juga tau mengenai hal ini?"


Pikirannya mulai menerka-nerka semua kejadian yang telah terjadi.


Buak, Agra memukul dinding dengan sangat kuat menyebabkan tangannya memerah, dia merasa benar-benar dipermainkan oleh orang-orang yang ada disekitarnya.


"Agra, apa yang kau lakukan?" teriak Rezie yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Kenapa? kenapa semua ini terjadi padaku? apa salahku? apa salahku hingga mereka semua mengkhianatiku? aarggh," Agra kembali melayangkan pukulannya ke arah dinding untuk meluapkan segala emosi yang saat ini sedang dia rasakan.


"Hentikan Agra! tanganmu bisa hancur." Rezie menahan tangan Agra agar tidak lagi memukul dinding, tubuh Agra merosot terjatuh ke atas lantai.


"kenapa? hiks kenapa mereka sekejam ini padaku? hiks, Aleta," Agra sudah tidak mampu lagi untuk mengungkapkan betapa hancur dan kecewanya perasaannya saat ini, lalu Rezie meraih tubuh Agra dengan erat seraya memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu.


Pada saat yang sama, Aleta sedang uring-uringan di kamarnya. Dia merasa sangat gelisah saat ini, beberapa kali dia menelpon ke nomor Agra namun tidak ada jawaban. Lalu dia beralih menelpon ke nomor Felix, dan hasilnya nomor lelaki itu malah tidak aktif.


"sayang, ada di mana kamu saat ini? maafkan aku, hiks," Aleta kembali menangis karna menyesal telah berbohong pada Agra, dia tau kalau saat ini hati Agra pasti sangat sakit karna perbuatannya.


Tiba-tiba, ponsel Aleta berdering. Dengan semangat 45 dia meraih benda pipih itu dan langsung melihat siapa yang menelponnya.


"Devo," gumam Aleta, dia bingung harus mengangkat panggilan itu atau tidak. Cukup lama Aleta membiarkan ponselnya, namun Devo terus menelponnya seakan-akan ada hal yang sangat penting saat ini.

__ADS_1


Aleta menghembuskan napas kasar, "halo," akhirnya dia mengangkat panggilan dari lelaki itu.


"ayo, kita bertemu!" ajak Devo disebrang telpon.


"apa? bertemu? tidak-tidak, aku tidak mau!" tolaknya, dia tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu.


"bukannya kau ingin tau tentang masalahku dan suamimu?" suara Devo terdengar sedikit kesal.


"aku sudah tau semuanya, dan suamiku juga sudah tau kalau kau sering bertemu denganku!" ucap Aleta.


"begitu ya, kalau gitu biar aku yang menemuimu," balas Devo, sepertinya dia ingin sekali bertemu dengan Aleta.


"apa? tidak! aku tidak ingin bertemu denganmu, dan kau juga tidak boleh bertemu denganku!" tolak Aleta dengan menggebu-gebu, dadanya naik turun karna mulai emosi.


"aku ingin bertemu denganmu sebelum bertemu dengan Agra," ucap Devo lagi.


"tunggu, bertemu dengan Agra katanya?"


"laki-laki sialan, awas saja kalau dia sampai menemuiku," geram Aleta, lalu dia beranjak keluar dari kamar untuk menemui keluarganya.


Ditempat lain, terlihat Rezie dan Agra sedang duduk dipinggir danau. Rezie sengaja membawa Agra untuk menenangkan diri, dia tidak mau kalau sahabatnya itu nanti akan melampiaskan amarahnya pada Aleta.


Sebenarnya Rezie masih bingung dengan apa yang terjadi, dia yang selama ini sibuk tak menentu memang tidak mengetahui apa yang terjadi pada teman-temannya. Dia juga sangat terkejut saat mengetahui kalau Felix adalah kakak kandung Devo, padahal selama ini dia sudah mengorek semua informasi Devo namun tidak pernah membaca tentang identitas Felix.


Rezie juga tak habis pikir dengan Ricky, dia bingung kenapa sahabatnya itu menyembunyikan hubungan Felix dan Devo dari Agra, padahal selama ini Agra sudah mencari Devo ke mana-mana.


Lalu Rezie melirik ke arah Agra yang sedang duduk tak jauh darinya, keadaan temannya itu terlihat sangat kacau. Baju yang berantakan, rambut yang acak-acakan serta tangan yang membengkak akibat pukulan-pukulan yang dia layangkan pada Felix dan juga dinding.


Agra sendiri hanya menatap kosong ke arah danau, dia tidak tau harus bersikap bagaimana lagi ke depannya. Dia tidak percaya kalau orang-orang terdekatnya tega berbohong padanya, terutama Aleta yang tahu betul bagaimana usahanya untuk menemukan Devo.


"aku tidak mengerti, kenapa orang-orang terdekatku melakukan ini? kenapa mereka tidak jujur saja padaku, apa salah kalau aku mengetahui hal ini? apa salah kalau aku tahu Felix itu kakak kandung Devo? selama bertahun-tahun aku mencari keberadaan bajingan itu, bahkan aku telah mengupayakan usaha terbesarku untuk menemukannya. Dan Felix, dia malah menutup mata dan mulutnya. Untuk apa dia melakukan itu? apa dia juga ingin menghancurkanku? sehingga dia menyembunyikan identitasnya? atau dari awal dia memang bekerja sama dengan Devo?"


"Arrrgghh!" Agra berteriak dengan sangat kencang saat kepalanya terasa mau pecah, berbagai pikiran memenuhi kepala saat ini.

__ADS_1


"kenapa Rezie, kenapa Ricky juga berbohong padaku? kenapa dia menutup mulutnya, dan tidak memberitahuku?" Agra melihat ke arah Rezie yang juga sedang melihatnya, matanya sudah berembun seraya ingin menjatuhkan air membasahi pipi.


"mungkin dia melakukan itu karna ada alasannya Agra,"


"alasan? alasan apa? apa mereka pikir aku akan langsung membunuh Felix, begitu aku tau kalau dia adik bajingan itu? hah!" hardik Agra sambil menjambak rambutnya karna merasa tidak mengerti kenapa selama ini dia dibohongi.


"Bertahun-tahun dia berbohong seolah-olah dia tidak mengenal bajingan itu, dan terus berpura-pura untuk membantuku mencarinya. Pantas aku tidak bisa menemukan bajingan itu, ternyata Felix yang selama ini melindunginya. Hahaha." Agra tertawa keras saat menyadari betapa bodohnya dia selama ini, dia tidak mengira kalau musuhnya ternyata selama ini telah memperdayanya.


Rezie merasa bingung harus bagaimana menenangkan Agra sedangkan dia sendiri juga tidak tau dengan apa yang sedang terjadi. Tapi yang pasti, dia akan selalu berada disisi Agra dan tidak akan meninggalkan lelaki itu seorang diri.


Cukup lama mereka terdiam di tempat itu, sampai tiba-tiba ponsel Rezie berdering dan dia langsung mengambilnya dari saku jasnya.


"halo," Rezie menerima panggilan dari Ricky.


"Rezie, cepat ke rumah orangtua Aleta sekarang!" ucap Ricky dengan cepat, terdengar dari suaranya kalau saat ini lelaki itu sedang panik.


"ada apa?" tanya Rezie sembari membangunkan tubuhnya.


"Aleta menghilang,"


"apa?"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 🥰 mohon dukungannya sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2