
Setelah mengetahui tentang masa lalu Agra, Aleta mulai menyusun rencana untuk mempertemukan Agra dengan Devo. Semakin lama suaminya menemukan lelaki itu, pasti nantinya akan sangat susah meyakinkan Agra kalau Felix tidak berniat jahat padanya. Karna suatu saat nanti Agra pasti akan tau kalau Felix adalah kakak kandung Devo.
Kemudian Aleta kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda, dia harus menyelesaikannya sebelum Agra datang untuk makan siang.
Beberapa jam telah berlalu, Aleta yang sedang berkutat dengan pekerjaan dikejutkan dengan dering ponsel yang ada disakunya. Dia segera mengambil dan melihat Agra sedang menelpon.
"halo," jawab Aleta.
"aku akan menjemputmu untuk makan siang," ucap Agra, dan Aleta segera mengiyakan ucapan Agra.
Aleta segera keluar dari ruangannya setelah telpon itu terputus, dia berjalan ke depan untuk menunggu Agra diparkiran.
"Aleta." tiba-tiba langkah Aleta terhenti saat mendengar seseorang sedang memanggilnya, dia berbalik untuk melihat siapakah orang tersebut.
Devo mendekat ke arah Aleta saat wanita itu sudah menghentikan langkah kakinya, sementara Aleta sendiri hanya menatap tajam padanya.
"aku sudah menunggu telpon darimu, tapi kau malah tidak menghubungiku," ucap Devo, dia sudah menunggu kabar dari wanita itu.
"aku sudah tau apa yang terjadi antara kau dan suamiku," seru Aleta, dia menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah karna harus ke sana ke mari membawa kedua anaknya.
Devo memperhatikan Aleta dengan intens, entah kenapa wanita itu benar-benar tidak bisa keluar dari pikirannya. Bahkan sampai saat ini jantungnya berdebar-debar sangat kencang saat bersama dengan wanita itu.
"apa aku sedang jatuh cinta?" Devo mulai menerka-nerka isi hatinya.
"apa cuma itu yang ingin kau katakan?" tanya Aleta, sebenarnya dia ingin bertanya tentang perbuatan lelaki itu. Namun saatnya tidak tepat, dia takut kalau Agra akan melihat mereka berdua.
"tidak Aleta, banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Aku juga ingin melakukan banyak hal bersamamu," ucap Devo tanpa sadar, matanya menatap wajah Aleta tanpa berkedip.
"apa-apaan dia ini?" Aleta merasa bingung sekaligus aneh dengan apa yang Devo ucapkan.
"tunggu, apa jangan-jangan dia...,"
"kau menyukaiku?" Aleta bertanya langsung pada lelaki itu membuat Devo terjingkat kaget. Dia tidak menyangka kalau Aleta akan bertanya seperti itu padanya.
"Itu, aku-" Devo tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tangannya ditarik oleh Aleta ke arah samping membuat tubuh mereka menempel dengan sempurna, mereka merapat ke dinding membuat perut Aleta menempel diperut Devo.
Deg, deg, deg jantung Devo berpacu dengan sangat cepat saat tubuh mereka saling berdempetan, sementara Aleta melihat ke arah seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
Devo meletakkan tangannya dipinggang Aleta, membuat wanita itu berada tepat dipelukan Devo. Devo terus memandang ke arah wajah Aleta, dan berakhir pada bibir wanita itu yang begitu menggoda.
Perlahan Devo mulai memajukan wajahnya, dan sedikit lagi bibir mereka akan bertemu.
"diam! Agra bisa melihat kita jika kau banyak bergerak," ucap Aleta sembari terus memperhatikan ke arah samping. Devo yang tersadar dengan ucapan Aleta baralih melihat ke arah samping, dan tampak lah Agra sedang berjalan masuk ke dalam Rumah sakit.
Aleta langsung menjauhkan tubuhnya saat melihat Agra sudah masuk ke dalam, dia sedikit merapikan bajunya yang kusut akibat pelukan Devo.
.
"Aku akan menghubungimu nanti." Aleta pergi meninggalkan Devo yang masih terbengong di tempatnya. Lelaki itu belum sadar kalau saat ini Aleta sudah menjauh, nyawanya masih berada di awang-awang karna pelukan mereka.
Aleta menyusul langkah Agra yang akan masuk ke ruangannnya, dia sedikit ngos-ngosan karna langkah Agra yang sangat cepat.
"sayang," panggil Aleta saat jarak mereka sudah lumayan dekat, Agra membalikkan tubuhnya saat mendengar suara sang istri.
Aleta sedikit menundukkan tubuhnya sembari tangannya memegang perut, dia merasa sangat lelah sampai kakinya bergetar saat ini. Agra yang melihat itu langsung mendekat, dia tampak sangat khawatir dengan keadaan Aleta.
"sayang, apa yang terjadi?" tanya Agra sembari menuntun tubuh Aleta dan mendudukkannya di kursi.
"kan sudah ku bilang jangan kerja! baru satu hari kamu udah kelelahan," omel Agra yang tidak tau kalau Aleta lelah karna mengejarnya.
"aku lelah karna mengejarmu! bukan karna kerja," ucap Aleta kemudian. Agra hanya mengerutkan keningnya, dia terlihat bingung dengan apa yang istrinya itu ucapkan.
"sudahlah, ayo kita pergi! aku lapar," ajak Aleta sembari membangunkan tubuhnya dengan dibantu Agra, suaminya itu merangkul tubuhnya sembari mengelus perutnya dengan sayang.
Dari kejauhan, Devo terus memperhatikan Aleta dan juga Agra. Hatinya terasa nyeri saat melihat mereka berdua, dia ingin sekali berada diposisi Agra saat ini.
Aleta dan Agra sudah berada di dalam mobil, Agra segera melajukannya untuk menuju sebuah restoran mengisi perut yang sudah keroncongan.
"emm sayang, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Aleta, dia terlihat ragu-ragu saat mengatakannya.
"apa?" tanya Agra tanpa mengalihkan wajahnya dari arah jalan.
"kalau-kalau seandainya kau bertemu dengan Devo, apa yang akan kau lakukan?" tanya Aleta dengan hati-hati, Agra yang mendengar pertanyaan Aleta langsung melihat ke samping. Tampak jelas kemarahan dimata Agra saat membicarakan Devo.
"aku akan membunuhnya!" jawab Agra membuat Aleta langsung menelan salivenya.
__ADS_1
"tidak! tidak mungkin Agra melakukan itu," Aleta meyakinkan diri kalau suaminya tidak mungkin membunuh orang lain.
Tiba-tiba dering ponsel Aleta mengagetkannya yang sedang memikirkan tentang Devo, dia sampai terjingkat kaget sembari memegangi dadanya.
"mama," gumam Aleta saat melihat Mama Lena yang menelponya.
"iya ma," jawab Aleta membuat Agra melihat sekilas padanya.
"sayang, acara tujuh bulanan kalian diadakan dirumah Mama ya," Mama Lena memberitahu tentang tempat acara tujuh bulanan kandungannya.
"iya Ma, tapi apa saja yang harus kami siapkan?" tanya Aleta, dia memang tidak tau mengenai acara yang begituan.
"kalian tidak perlu menyiapkan apa-apa, biar Mama sama Mama kamu yang menyiapkannya," jawab Mama Lena, kemudian Mama Lena kembali mengingatkan mereka kalau acara tujuh bulanan akan dilaksanakan 3 hari lagi.
Setelah mengatakan itu, Mama Lena memutuskan panggilan mereka. Aleta kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku
"kata Mama acara tujuh bulanannya diadakan 3 hari lagi," Aleta memberitahu Agra sembari menyandarkan tubuhnya.
"bukannya kamu bilang minggu depan?" tanya Agra, baru saja kemaren Aleta memberitahu acara tujuh bulanannya.
"enggak tau tuh Mama, mereka semangat sekali mengadakan acara ini," jawab Aleta, kedua Mamanya benar-benar sangat bersemangat untuk acara tujuh bulanannya.
"tentu saja, anak-anak kita kan cucu pertama mereka," jelas Agra, Aleta hanya menganggukkan kepalanya saja untuk menyetujui apa yang suaminya ucapkan.
Lalu Aleta kembali memikirkan masalah Devo, dia harus segera menyelesaikannya sebelum acara tujuh bulanan. Dia ingin agar suaminya merasa tenang dan bahagia saat acara itu berlangsung tanpa ada amarah dan dendam untuk masa lalu.
"*aku harus segera bicara 4 mata dengan Devo"
•
•
•
TBC*.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1