
Hari ini, Aleta dan teman-temannya sedang menyiapkan tugas akhir untuk kelulusan mereka sembari mempersiapkan diri untuk terjun kedunia kerja. Mereka terus melatih kemampuan dan bakat mereka agar bisa bersaing dengan manusia-manusia lainnya.
Tidak terasa, Aleta sudah berhasil menempuh pendidikan yang dia inginkan. Tinggal menunggu beberapa saat lagi, maka Aleta akan mendapatkan gelar dan juga Ijazah yang telah dia perjuangkan.
"Ale, kau terlihat sangat pucat loh," ucap Egi sembari menyentuh kening Aleta.
"benar, pucat banget kayak mayat," Lusi membenarkan ucapan Egi diikuti oleh Bima yang juga menganggukkan kepalanya.
"aku cuma kelelahan," jawab Aleta sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia juga merasa hari ini sangat lelah dan lemas, beberapa kali pandangannya terasa kabur dengan pusing yang berputar di kepalanya.
"lebih baik kau pulang deh," saran Lusi lagi.
Hari ini jadwal mereka memang sangat padat, jadi wajar saja kalau Aleta merasa lemas dan pusing. Kemudian Aleta memutuskan untuk kembali ke apartemen, karna memang kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
"loh, sudah pulang Nya?" tanya Bik Nani yang sedang membersihkan ruang tamu. Aleta hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan pembantunya itu. Dia bergegas menuju kamar untuk segera mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.
"Aduuh, kok pusing sekali ya." Aleta memijat kepalanya untuk mengurangi pusing yang sedang dia rasakan.
Tiba-tiba rasa mual menyerangnya, Aleta segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan sarapannya tadi pagi. Dia menekan perut yang terasa sakit sembari berjalan dengan perlahan kembali ke atas ranjang.
"apa aku masuk angin ya?" Aleta menerka-nerka alasan kenapa tubuhnya sedang tidak sehat hari ini. Dia bergegas mengambil minyak untuk di oleskan ke perutnya.
Tiba-tiba Aleta teringat sesuatu, sudah lama dia tidak kedatangan tamu bulanan. Kalau dipikir-pikir, semenjak dia menikah dengan Agra, Aleta hanya 3 kali menstruasi. Sangking banyaknya kegiatan, dia sampai tidak sadar kalau sudah hampir 4 bulan dia tidak lagi kedatangan tamu bulanan.
Pikirannya mulai berkelana, jangan-jangan dia sedang hamil ? Aleta bergegas keluar untuk membeli Tespack, dia ingin mengetahui apakah dia hamil atau tidak.
Setelah berhasil membelinya, Aleta kembali pulang dengan perasaan campur aduk dan tak karuan. Beberapa kali Aleta hampir menabrak pengendara lain karna kehilangan fokus, dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Sesampainya di apartemen, Aleta dikejutkan dengan keberadaan Agra yang sedang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"dari mana saja kamu?" tanya Agra dengan wajah di tekuk bak pakaian kusut.
"Emm, abis beli sesuatu." Aleta bergegas meninggalkan Agra sembari menyembunyikan apa yang dia bawa. Bisa gawat kalau laki-laki itu tau dia habis membeli Tespack.
Agra terus melihat ke arah Aleta dengan perasaan kesal, sudah dua jam dia menunggu namun Aleta tidak juga datang ke perusahaannya. Padahal dia tadi sudah menyiapkan makanan yang istimewa untuk rubah licik itu, alhasil semua makanan yang telah dia siapkan masuk ke dalam tempat pembuangan sampah.
Dia juga beberapa kali menelpon Aleta, namun tidak juga di jawab dan berakhir dengan ponsel Aleta yang tidak aktif, membuat kepalanya semakin mengepulkan asap tebal.
Agra segera bergegas menuju kampus Aleta, namun lagi-lagi dia tidak bisa menemukan wanita itu. Sampai dia bertemu dengan Bima yang sedang membeli makanan di pinggir jalan, Bima memberitahukan kalau Aleta sudah pulang ke rumah membuat Agra semakin di landa emosi.
Agra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dan menyalip semua kendaraan yang melaju di hadapannya. Suara klakson terus bersahut-sahutan karna ulahnya, namun dia merasa tidak peduli dan tetap melajukan mobil dengan kencang.
Setelah sampai di apartemen, Agra tetap tidak melihat wujud Aleta membuatnya geram sembari membanting ponsel kesayangannya hingga tidak berbentuk lagi.
Dia merasa heran, kenapa hari ini susah sekali bertemu dengan istrinya ? padahal dia sudah sangat rindu dengan wajah Aleta. Lalu Agra memutuskan untuk menunggu istrinya itu di depan pintu, karna saat Bik Nani di tanya pun dia tidak tau kemana Nyonya nya pergi.
Agra segera melangkahkan kakinya ke kamar mengikuti Aleta yang sudah meninggalkannya sedari tadi. Begitu membuka pintu, Agra melihat Aleta sedang memainkan ponselnya di atas ranjang dengan santai seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan.
"apa-apan sih kau!" bentak Aleta sambil berusaha melepas cekalan tangan Agra.
"kemana saja kau, aku sudah lama menunggumu di kantor!" suara Agra tak kalah nyaring dari Aleta, membuat gadis itu terjingkat dari tempatnya.
Mendengar perkataan Agra, Aleta baru ingat kalau dia harus datang ke perusahaan untuk makan siang bersama suami gilanya. Namun karna dia tadi sedang tidak enak badan, dia melupakan ucapan Agra dan malah pulang ke apartemen mereka.
"emm maaf, aku lupa," ucap Aleta pasrah. Dia tahu kalau Agra pasti akan sangat murka saat mendengar ucapannya itu.
"lupa, beraninya kau melupakanku!" teriak Agra sambil menghempaskan tangan Aleta dengan kasar membuat tubuh Aleta terhuyung ke belakang dan menabrak meja kecil yang ada di samping ranjang.
Aleta memegang perutnya yang terasa sakit, namun dia tetap menatap tajam pada Agra.
__ADS_1
"aku saja waktu itu pernah menunggumu sampai 2 jam, tapi aku enggak marah," hardik Aleta sambil memegangi perutnya, sementara Agra terlihat diam mencerna ucapan Aleta.
"jadi kau balas dendam, gitu," tuduh Agra padanya.
"apa! balas dendam katanya...." Aleta ingin sekali mencakar wajah Agra yang sudah sembarangan bicara. Namun tiba-tiba Aleta merasa perutnya sangat sakit, membuatnya langsung terjongkok dengan wajah meringis.
Agra yang melihat Aleta kesakitan langsung mendekat dan menjongkokkan tubuhnya, dia meraih Aleta ke dalam pelukannya.
"apa yang terjadi padamu?" suara Agra terdengar sangat khawatir, dia segera menggendong Aleta dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"makanya, sama suami itu jangan melawan," gerutu Agra sembari memeriksa perut Aleta.
Aleta yang sedang menahan sakit merasa benar-benar kesal, dia ingin sekali menampol bibir suaminya yang tidak sadar diri. Padahal karna ulah lelaki gila itu yang membuat perutnya jadi terasa sakit.
Agra memperhatikan wajah Aleta yang semakin pucat, keringat dingin juga sudah mengalir di wajah cantik itu. Sampai mata Agra melotot sempurna saat melihat ke arah kaki Aleta, cairan berwarna merah tampak mengalir di kaki wanita itu membuat Agra segera menggendongnya ala bridal style dan membawa Aleta keluar dari kamar.
"tunggu, kita mau kemana?" Aleta yang belum sadar dengan apa yang terjadi memberontak saat di gendong oleh Agra. Namun pada saat Agra mendudukkannya di kursi mobil, Aleta melihat darah segar mengalir di sela-sela kakinya membuatnya kaget dan lemas seketika.
"sayang, Aleta..., bangun!" suara Agra menggema di dalam mobil sembari berusaha membangunkan istrinya.
•
•
•
TBC.
Gawat, sebenarnya apa yang terjadi ?
__ADS_1
Yuk kakak* semua bantu Like dan Koment yg banyak, VOTE dan Rating 5 juga, jangan lupa Hadiah nya 🥰 supaya karya othor ini bisa bersinar 😍
Terima kasih buat yang udah baca 😘