Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 30. Gara-gara Sarapan


__ADS_3

Aleta keluar dari kamar Agra dengan perasaan kesal dan terus saja menggerutu hingga langkah kakinya sampai ke dapur.


"padahal bisakan pesan online, ngapain harus nyuruh aku coba," gerutu Aleta sambil mengambil alat-alat tempur yang akan dia gunakan untuk memasak.


Sekitar 20 menit, Aleta sudah menyelesaikan masakannya. dia memasak bubur ayam kesukaannya dengan segelas susu yang selalu menemani sarapan dipagi hari.


Setelah selesai menyusun makanannya, Aleta segera beranjak untuk pergi ke kamar Agra.


"makanan udah siap," ketus Aleta sambil berbalik ingin segera keluar dari kamar itu.


"tunggu ! aku tidak bisa berjalan," ucap Agra.


Aleta kembali melirik ke arah pria itu, lalu kalau tidak bisa berjalan, aku harus apa pikirnya.


"bantu aku !" ucap Agra lagi.


"maaf tuan, badanku kecil. gak bisa membantu tuan, lebih baik panggil tuan Felix saja," jawab Aleta.


"dia sudah pergi. cepat !" perintah Agra lagi.


Ck. Aleta mendekat ke arah lelaki itu dan menarik tangannya. dia meletakkan tangan lelaki itu ke atas bahunya dan menopang berat tubuh Agra yang dia rasa tiga kali lipat dari berat tubuhnya sendiri.


"tapi tuan, yang sakit itu anu tuan. bukan kaki tuan," ucap Aleta sambil memapah Agra.


"tau apa kau, gara-gara kau aku jadi seperti ini,"


Cih. Aleta tidak ingin lagi berdebat dengannya. dia mengunci rapat mulutnya dan tetap membantu Agra untuk berjalan.


Melihat Aleta diam, Agra menyeringai penuh kemenangan. dia akan terus menyiksa Aleta seperti ini agar wanita itu menyesal sudah mendekatinya.


Keringat sudah mengucur deras diseluruh tubuh Aleta. padahal baru beberapa meter saja dia membantu Agra untuk berjalan. kakinya juga sudah gemetaran, dia sudah tidak sanggup lagi meneruskan langkah kakinya.


"tunggu, kenapa aku bersusah payah seperti ini. aku kan bisa membawa sarapannya ke kamar." Aleta benar-benar merasa menjadi manusia yang paling bodoh dimuka bumi ini.


"tuan, saya akan mengambil sarapan untuk tuan. sekarang lebih baik kita kembali ke kamar," ucap Aleta sembari menghentikan langkah kakinya.


"tidak, aku ingin makan di dapur," ucap Agra.

__ADS_1


"apa." Aleta langsung melepaskan tangan Agra dari tubuhnya. dia merasa kesal mendengar perkataan lelaki kurang ajar itu.


"kau mau buat aku jatuh," bentak Agra.


"setelah menjebakku, kau juga menghancurkan keperkasaanku, dan sekarang kau mau membunuhku," teriaknya lagi.


Glek. Aleta menelan salive nya sendiri mendengar perkataan Agra. memang benar kalau semua adalah kesalahannya, tapi kenapa dia harus melakukan hal seperti ini, pikirnya.


"baiklah, pergi kau dari sini. kita lihat akan sehancur apa keluargamu besok,"


"tuan, ayo cepat. tuan sudah laparkan," potong Aleta. dia langsung memapah tubuh Agra dengan cepat tanpa memberi celah untuk lelaki itu berkomentar.


"haha. aku sudah tau kelemahanmu rubah licik, karna keluargamu itu kau juga sampai menjebakku" Agra kembali menyeringai penuh kemenangan.


Setelah perjuangan panjang, akhirnya Aleta sampai juga ke meja makan. dia mendudukkan Agra dengan sangat hati-hati agar pria itu tidak lagi mengancamnya.


"silahkan tuan." Aleta meletakkan semangkuk bubur yang masih hangat ke hadapan Agra.


"aku tidak suka bubur," ucap Agra sambil menyingkirkan bubur itu dari hadapannya.


"aku ingin sarapan nasi goreng," ucap Agra.


"apa. tuan, kenapa tuan tadi tidak bilang kalau mau sarapan pakai nasi goreng," bentak Aleta. dia sampai mengepalkan tangannya karna geram melihat tingkah laki-laki itu.


"mana ku tau," jawaban yang singkat dan padat.


Tangan Aleta sudah memegang mangkuk yang berisi bubur, bersiap untuk melemparkannya ke orang yang berada dihadapannya.


"huh, sabar Aleta sabar...." dia kembali meletakkan mangkuk itu dengan kasar dan bersiap untuk memasak nasi goreng.


Srang sreng srang sreng... tak berselang lama, nasi goreng buatannya sudah tersedia di meja makan. Aleta meletakkan nya tepat di hadapan Agra dengan secangkir kopi seperti yang biasa Agra minum.


"maaf tuan, saya masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan. sampai jumpa," ucap Aleta sambil bergegas keluar dari apartemen itu.


Tapi sial, dia tidak tau apa passwordnya. jadilah Aleta mematung didepan pintu.


"heh, mau kemana kau ? tugas mu belum selesai," ucap Agra sambil bersiap untuk memakan nasi goreng buatan Aleta.

__ADS_1


uhuk uhuk uhuk Agra sampai terbatuk-batuk saat merasakan rasa masakan yang sangat menusuk di lidahnya. dengan cepat Agra meminum kopi yang ada di meja itu.


Byur.... lagi-lagi Agra memuntahkan kopi yang bahkan belum sampai ke tenggorokannya. lidahnya terasa terbakar karna ternyata kopi itu masih sangat panas.


"Aleta, kesini kau...," jerit Agra sambil menyingkirkan makanan dan minuman yang ada dihadapannya.


Pyar... pyar... semua makanan dan minuman itu berserakan dilantai akibat ulah Agra. dia benar-benar merasa emosi karna merasa dipermainkan oleh Aleta.


"mampus lah aku..." Aleta dengan cepat merogoh ponsel yang ada didalam tasnya dan segera mencari nomor ponsel Lusi untuk meminta bala bantuan.


Tut... tut...


"Hal"


"Lusi tolong aku...," potong Aleta.


"Aleta, ada apa denganmu?" tanya Lusi di sebrang telpon yang dipenuhi dengan ke khawatiran


"cepat datang ke apartemen Agra, aku mau dimutilasi disini," ucap Aleta sembari memutuskan panggilan teleponnya. tut.


"Aleta..., kesini kau," teriak Agra lagi saat Aleta tidak juga mendekat ke arahnya.


"ya Tuhan, sekali ini saja. tolong selamatkan aku," gumam Aleta sambil membuat posisi seperti orang tiarap di depan pintu.





tbc.


**Aleta Aleta, salut othor liatnya 🤣


Jangan lupa kasi dukungan yang banyak ya buat othor 😘


Terima kasih buat yang udah baca 😘**

__ADS_1


__ADS_2