
Setelah pertemuannya dan Margaret selesai, Aleta melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Dia melihat jam yang melingkar ditangannya menandakan kalau hari sudah hampir malam.
"Mama, Mama," teriak Daffa dan Daffi saat melihat Aleta masuk ke dalam rumah, kedua putranya itu langsung merangkak dengan cepat untuk mendekat ke arah sang Mama.
"Uuh anak-anak Mama yang ganteng, wangi sekali sih." Cup, Aleta mengecup pipi gembul Daffa dan Daffi secara bergantian.
Aleta kemudian membawa kedua putranya ke dalam kamar dengan tangan kanan menggendong Daffa dan tangan kiri menggendong Daffi.
"Mama mau mandi dulu ya sayang, kalian di sini saja. Tidak boleh ke mana-mana, paham?" tanya Aleta yang dibalas dengan anggukan kepala kedua putranya.
Dia lalu menutup pintu agar kedua putranya tidak keluar kamar, dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Suara ocehan Daffa dan Daffi menggema di dalam kamar itu, membuat Aleta terjingkat kaget saat mendengarnya. Namun, tiba-tiba kedua putranya tidak bersuara lagi membuat Aleta gelisah.
"kok, tiba-tiba mereka diam?" gumamnya sembari mempercepat ritual mandinya, dia langsung mengambil handuk tanpa menyiram tubuhnya yang masih bersabun.
"Daffa, Daffi," panggil Aleta sembari menyembulkan diri dari kamar mandi, dia celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan putra-putranya.
Aleta mematung ditempat saat melihat perbuatan kedua buah hatinya, dia menahan tawa saat melihat wajah Daffa dan Daffi sudah berlumuran dengan lipstik dan juga maskara yang membuat seluruh tubuh mereka jadi hitam.
Aleta bergegas mengambil ponsel di dalam tasnya untuk mengabadikan momen bersejarah itu, dia memotret kedua putranya dari segala arah.
"ayo sayang, sekali lagi!" seru Aleta yang sudah seperti seorang fotografer yang sedang memotret seorang model, sementara Daffa dan Daffi juga bergaya bak model papan atas.
Agra, yang saat ini sedang berdiri diambang pintu mendadak jadi kaku saat melihat tingkah istri dan kedua anaknya.
Matanya terbuka lebar dengan mulut menganga saat melihat sang istri yang hanya menggunakan handuk dengan busa sabun yang menempel diseluruh tubuh, sementara kedua putranya juga terlihat seperti badut dengan aneka macam warna ditubuh mereka.
"nah, sekarang sudah selesai," ucap Aleta sembari membalikkan tubuhnya, dia terjingkat kaget saat melihat Agra sudah berdiri diambang pintu.
"astaga, bikin kaget aja!" ucap Aleta sambil memegangi dadanya yang berdebar.
"apa yang kalian lakukan?" tanya Agra, dia melangkahkan kakinya untuk mendekati kedua putranya.
"dan siapa mereka ini? apa mereka anak-anakku?" tambah Agra lagi sambil mengangkat tubuh Daffa yang saat ini sudah dipenuhi oleh warna hitam. Matanya bergerak ke sana ke mari mengamati seisi kamar yang juga dipenuhi oleh warna.
__ADS_1
"mereka anak kita lah, masa anak setan sih," cibir Aleta sembari berjalan ke arah lemari, dia mengambil satu set pakaian tidur untuk dipakai.
"mandi sana! sekalian mandiin mereka," lanjut Aleta setelah berhasil menemukan pakaiannya.
"kau juga harus mandi, sayang. Tubuhmu itu penuh sabun," ucap Agra, dia kembali menurunkan Daffa dan mencolek tubuh Aleta untuk mengambil busa sabun yang masih tersisa.
"Lihat ini!" Agra menunjukkan tangannya yang dipenuhi sabun membuat Aleta cengengesan dan langsung tancap gas masuk ke dalam kamar mandi.
Agra juga bergegas membawa kedua putranya untuk masuk ke dalam kamar mandi, mereka berdua harus direndam agar semua warna-warna yang melekat ditubuh Daffa dan Daffi menghilang.
Setelah proses panjang di dalam kamar mandi, akhirnya mereka berempat turun ke bawah untuk menikmati makan malam dengan Agra dan Aleta yang menggendong kedua anaknya masing-masing.
Waktu makan malam mereka pun berjalan dengan sangat lama, semua dikarenakan tingkah Daffa dan Daffi yang selalu berbuat ulah di manapun dan kapanpun membuat kedua orangtua serta babysitter mereka jadi kewalahan.
****
Saat ini, Aleta dan Agra tengah berbaring di atas tempat tidur. Agra memeluk Aleta dengan erat seraya memejamkan mata yang sudah sejak tadi ingin terpejam, sementara Aleta masih tidak ingin tidur. Dia tengaj sibuk memikirkan sang kakak.
"Sayang, apa kau sudah tidur?" Aleta mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Agra.
"hem," Agra berdehem untuk menjawab ucapan Aleta dengan mata yang masih terpejam.
"hem," lagi-lagi hanya deheman yang terdengar.
Aleta menaikkan kepalanya agar sejajar dengan Agra, dia lalu mengecup seluruh wajah sang suami sampai membuat lelaki itu terkekeh geli.
"terus!" ucap Agra sembari menahan tengkuk Aleta agar bibir mereka tetap menyatu.
Setelah ciuman panjang yang menghabiskan napas serta energi, akhirnya Agra membuka kedua matanya. Namun, tangannya tetap memeluk tubuh Aleta dengan erat.
"sayang, kita harus melakukan sesuatu untuk kak Dareen," ucap Aleta, dia harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah sang kakak.
"untuk apa? Dareen bisa sendiri lah nyelesaikan masalahnya," seru Agra, dia tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.
"kok untuk apa sih, udah jelas untuk menyelamatkan kak Dareen," ketus Aleta, dia sebal dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"menyelamatkan? emangnya Dareen lagi perang!" cibir Agra dengan tawa yang sengaja dia tahan.
Aleta memukul-mukul dada bidang Agra karna merasa kesal dengan ucapan lelaki itu. "ini lebih dari sekedar perang!"
"ck, iya-iya," lirih Agra sembari menahan tangan Aleta yang terus menghantam dadanya.
"pokoknya kita harus melakukan sesuatu, kita harus memberi pelajaran pada wanita busuk itu," geram Aleta, dia sampai meremmas selimut yang menutupi tubuhnya sampai kusut.
"jangan bermain-main Aleta, nanti kau bisa celaka!" ucap Agra, dia memberi peringatan pada Aleta agar tidak berbuat yang aneh-aneh.
"kalau aku celaka, kan ada kamu, suamiku," seru Aleta dengan senyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.
"cih, memangnya siapa yang berani mencelakaimu!" desis Agra dengan tajam, jika ada yang berani mencelakai Aleta maka dia akan mematahkan seluruh tulang-tulang mereka.
"makanya sayang, kita harus melakukan sesuatu. Aku merasa kalau Lesya pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menjerat kak Dareen," gerutu Aleta sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"yasudah, besok-besok saja dipikirkan. Sekarang kita tidur!" ucap Agra, matanya sudah tidak tahan lagi untuk terpejam.
"Kok besok-besok sih! kita harus memikirkannya sekarang, sayang!" Aleta menggoyang-goyangkan tubuh Agra sampai lelaki itu berdecak marah.
"ya sudah, besok aku akan membunuh Lesya. Kalau dia mati, maka tidak akan ada lagi masalah dengan kakakmu," ketus Agra, dia membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aleta yang sudah membuatnya kesal.
"cih, sembarangan aja kalau ngomong," gumam Aleta, dia lalu memeluk Agra dari belakang mencoba untuk merayu suaminya.
"jangan menyentuhku!"
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Mampir juga ke karya teman Othor yang super keren 😍