Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 109. Tidak sadar, Meninggal?


__ADS_3

Felix masih berpikir keras bagaimana cara untuk menemukan Aleta, dia sudah sangat khawatir dengan keadaan wanita itu saat ini.


Agra sendiri sudah berteriak-teriak memberi perintah kepada semua orang untuk mencari keberadaan sang istri.


Terkadang dia kembali menghajar Felix untuk melampiaskan amarahnya, hingga Felix harus berada cukup jauh dari Agra agar dia selamat.


Ditempat lain, Aleta yang saat ini sedang tertidur di dalam mobil mulai mengerjapkan matanya, perlahan namun pasti kedua matanya terbuka dan langsung disuguhkan dengan wajah seorang pria yang sangat dia kenal.


"kau sudah bangun?" suara baritone Devo mengagetkan Aleta yang saat ini sedang tergeletak dipangkuannya. Sontak Aleta langsung bangun dan melihat kesekeliling mobil yang sedang melaju melewati pepohon.


"apa yang kau lakukan?" teriak Aleta sembari memundurkan tubuhnya, dia memeluk perutnya dengan tangan gemetaran.


"aku sedang mengajakmu jalan-jalan" jawab Devo dengan santai.


"kau menculikku?" tanya Aleta yang tidak percaya kalau saat ini dia jadi korban penculikan.


"yah, bisa dibilang gitu," jawabnya seperti tidak melakukan kesalahan sama sekali.


"kau gila, Devo!" bentak Aleta dengan mata yang berkaca-kaca, dia merasa sangat takut saat ini.


Devo tidak memperdulikan apa yang Aleta ucapkan, dia memandang ke arah jalanan yang menampakkan pemandangan indah disebuah hutan.


"turunkan aku!" pinta Aleta sembari memaksa pintu mobil itu supaya terbuka.


"untuk apa turun, sebentar lagi kita sampai," seru Devo, dia menarik tangan Aleta agar menghadap ke arahnya.


"jangan menyentuhku!" teriak Aleta dengan tangis yang sudah pecah di wajahnya.


"sebenarnya apa mau mu Devo, kenapa kau menculikku?" tanyanya dengan lirih, dia sudah kehabisan tenaga akibat teriak-teriak sedari tadi.


"sudah ku bilang kalau aku ingin mengajakmu jalan-jalan," jawabnya dengan sebal.


"Aku tidak mau! turunkan aku, aku ingin bersama suamiku! hiks." Aleta menangis sembari terus meminta untuk diturunkan, dia khawatir dengan suaminya yang saat ini tidak tau entah ada di mana.


"diam! atau aku akan melakukan sesuatu padamu!" ancam Devo, dia menatap Aleta dengan tajam.


"tidak! aku tidak akan diam sebelum kau menurunkanku!" tolak Aleta, dia tidak mau bersama dengan pria gila seperti itu.


Devo memilih bungkam, dia tidak ingin berdebat dengan wanita itu.


"kau benar-benar tidak punya hati, Devo!" ucap Aleta dengan tajam membuat Devo melihat ke arahnya.


"apa kau tau, kalau saat ini Agra sudah mengetahui hubunganmu dan Felix?" tanya Aleta, napasnya terasa sesak saat mengingat sang suami.

__ADS_1


"itu bukan urusanku!" ucap Devo dengan penuh penekanan.


"bukan urusanmu kau bilang? Felix jadi seperti itu karnamu!" bentak Aleta yang sudah kehilangan kesabarannya.


"aku tidak pernah menyuruhnya untuk melakukan semua itu," ucap Devo.


"dia melakukan itu karna Ayahmu, dan rasa sayangnya padamu. Sungguh kau sangat tidak pantas untuk menjadi adiknya," sentak Aleta dengan napas terputus-putus.


"tau apa kau tentangku? hah!" teriak Devo yang merasa kalau Aleta sok tau dengan kehidupannya.


"aku tau semuanya, Devo! aku tau kalau kau dan dia memiliki ibu yang berbeda, selama ini Felix telah banyak berkorban untukmu." ucap Aleta dengan tajam.


"berkorban kau bilang? hah! karna kehadirannya lah hidupku jadi hancur," hardik Devo sembari melihat ke arah samping.


"apa kau pikir cuma hidupmu saja yang hancur? Felix jauh lebih hancur dari apa yang kau rasakan," tutur Aleta dengan tajam.


"dia yang semasa kecilnya tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang Ayah, dia juga harus hidup diluaran sana yang penuh dengan kekerasan," Aleta menghirup napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"kau selalu merasa menjadi korban, tanpa kau sadari kalau Felix lah yang sudah banyak berkorban untuk keluargamu. Dia harus kehilangan ibunya karna perbuatan ibumu, setelah itu kau juga selalu menyakitinya. Andai kau tau seberapa besar rasa sayangnya padamu,"


Devo mematung ditempatnya, dia tidak mampu untuk membantah apa yang Aleta ucapkan. Dadanya bergemuruh saat teringat dengan keadaan Felix saat ini.


Tiba-tiba Aleta diam, dia merasa perutnya mengencang. Lalu rasa sakit mulai menjalar diperutnya membuat dia meringis menahan sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.


"kenapa kau?" tanya Devo yang melihat wajah pucat Aleta dengan keringat yang mengucur dikeningnya.


"pe-perutku, perutku sakit," lirih Aleta sembari memegangi perutnya yang seakan melilit di dalam sana.


Devo ikut mengusap perut Aleta, dia mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang saat ini wanita itu rasakan.


Mobil yang mereka kendarai sudah berhenti disebuah tempat, terlihat seorang wanita berjalan cepat ke arah mereka.


"kenapa kalian lama sekali? tanya Mona yang sudah menunggu lama ditempat itu.


Aleta yang merasa sudah tidak tahan lagi mengerrang kuat, seperti ada sesuatu yang akan keluar di bawah sana.


"apa yang terjadi padanya?" tanya Mona sembari melihat ke arah Aleta sementara Devo mengabaikan apa yang wanita itu tanyakan.


"air apa ini? Aleta, kau pipis?" tanya Devo saat melihat guyuran air yang keluar dari dari kaki Aleta.


"aku-aku-aku akan melahirkan,"


"apa?" teriak Devo dan Mona bersamaan, mereka sangat terkejut dengan apa yang Aleta ucapkan. Supir pribadi yang sedari tadi diam pun merasa sangat terkejut, dia melihat ke arah Aleta yang saat ini sedang bersandar sembari menahan rasa sakit diperutnya.

__ADS_1


"aku sudah tidak tahan, eengghh," Aleta mengejjan keras saat merasa anak-anaknya sedang mencari jalan lahir.


Devo yang melihat itu menjadi panik, dia memerintahkan supir itu untuk putar balik dengan secepat mungkin. Namun Mona menahannya, dia tidak ingin kalau Aleta kembali pada Agra.


"minggir!" teriak Devo membuat Mona terdiam dan tidak berani mengungkapkan kata-katanya.


Devo memegangi tangan Aleta yang mengepal kuat membuat urat-urat yang ada dilehernya menonjol keluar. Sementara Mona ikut masuk ke dalam mobil Devo.


"lebih cepat lagi!" teriak Devo yang sudah merasa khawatir melihat kondisi wanita itu.


Aleta benar-benar sudah tidak tahan lagi, keringat dingin mengucur deras ke seluruh tubuhnya.


"Agra, Agra. Hiks, Agra," Aleta terus memanggil nama Agra saat rasa sakit kembali datang, dia memejamkan matanya sembari mencengkram kuat lengan Devo membuat lelaki itu meringis karna kuku-kuku Aleta yang menancap dikulitnya.


"aku sudah tidak tahan lagi! aku ingin bersama dengan suamiku," lirih Aleta dengan air mata yang terus menetes dari sudut matanya.


"aku-aku akan menelponnya," seru Devo dengan tangan gemetaran saat melihat darah segar menetes dari sela-sela kaki Aleta.


Mona yang juga melihat darah menjadi ikut panik, rencana jahat yang sudah mereka rencanakan hancur berantakan.


"bertahanlah! bertahanlah Aleta," ucap Devo sembari mengaktifkan kembali ponselnya.


Lalu dia mengirim pesan pada Felix tentang keberadaannya dan juga Aleta.


"Aleta!" teriak Devo yang melihat Aleta sudah memejamkan kedua matanya.


"bangun! Aleta buka matamu!" teriak Devo sembari menepuk-nepuk pipi Aleta, namun wanita itu tetap tidak sadar dengan bibir yang pucat seperti mayat.


"tidak!" Devo memeluk tubuh Aleta yang sudah mulai dingin.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Yuk mampir juga ke karya terbaru Othor, Cinta Terakhir Zulaikha 😍 Mohon dukungannya 🥰


__ADS_1


__ADS_2