
"A-Agra," lirih wanita itu, membuat Agra melihat ke arahnya.
Mata Agra membulat sempurna dengan jantung yang seakan ingin keluar dari rongga dadanya saat mengenali siapa wanita yang sedang duduk di samping Aleta.
Aleta sendiri memperhatikan mereka yang terlihat menatap satu sama lain, dia berpikir apa mungkin Agra mengenal wanita yang sudah menolongnya ini ?
"Agra," panggilan Aleta menyadarkan Agra yang sedang menatap ke arah wanita itu, dia lalu beralih melihat ke arah Aleta dengan gugup.
"ada apa?" tanya Aleta memperhatikan raut wajah Agra yang terlihat tidak baik-baik saja.
Untuk sejenak, Agra menenangkan debaran jantungnya dan berusaha menahan gejolak emosi yang sedang menguasai perasaannya.
"ayo kita pulang!" ajak Agra kemudian sembari menggandeng tangan Aleta tanpa menjawab pertanyaannya.
"tu-tunggu!" Mona menghentikan langkah Agra dan Aleta yang sudah berbalik pergi, Aleta sendiri melihat ke arah mereka secara bergantian. Dia sekarang yakin kalau Agra dan wanita itu sudah saling kenal.
"kenapa kau berhenti?" tanya Agra saat Aleta menghentikan langkahnya, sementara Aleta merasa sangat bingung. Dia bertanya-tanya sebenarnya siapa wanita ini ? kenapa Agra sangat emosional saat melihatnya ?
"A-Agra, aku ingin bicara padamu," ucap Mona berusaha menahan kepergian mereka.
Agra yang mendengar itu langsung menatapnya tajam, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Aleta membuat istrinya itu meringis kesakitan.
"kau menyakitiku," ucap Aleta sembari menggoyangkan tangannya akibat cengkraman Agra.
"ma-maaf sayang," Agra mengecup pergelangan tangan Aleta yang memerah akibat cengkramannya, membuat Mona merasa kaget sampai tubuhnya limbung ke arah belakang.
Tanpa memperhatikan Mona, Agra segera mengajak Aleta untuk pulang. Dia mengatakan ada pekerjaan yang sangat penting yang harus dia kerjakan. Sementara Mona menatap kepergian mereka dengan diam, lidahnya seolah keluh ingin mengeluarkan sesuatu.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Aleta terus melirik ke arah Agra sedangkan Agra hanya menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Aleta menghembuskan napas kasar, dia merasa kalau Agra mempunyai hubungan dengan wanita tadi.
"siapa dia?" Aleta memilih untuk bertanya secara langsung, dia tidak ingin berspekulasi tentang suaminya. Namun Agra tidak menjawab, dia tetap memandang ke arah depan tanpa menghiraukan pertanyaan Aleta.
"kenapa enggak dijawab? dia kekasihmu?" tuduh Aleta sembari menatap Agra dengan tajam.
Agra mengalihkan pandangannya ke arah Aleta, dia terlihat sangat tidak suka dengan apa yang istrinya itu ucapkan. Namun mulutnya tetap bungkam, dia tidak ingin membahas tentang wanita itu.
"baiklah, terserah," Aleta beralih melihat ke arah jendela dengan pikiran yang sudah menjalar ke mana-mana.
Tak berselang lama, sampailah mereka ke apartemen. Aleta bergegas keluar dan menutup pintu mobil dengan kencang membuat Agra terlonjak dari duduknya. Dia segera menyusul langkah Aleta sebelum istrinya itu masuk ke dalam lift.
"Aleta, kau tidak boleh jalan terburu-buru seperti itu," tegur Agra, dia takut terjadi sesuatu dengan buah hati mereka.
"kenapa? kenapa kalau aku berjalan seperti itu?" bentak Aleta membuat Agra terkejut dengan suaranya. Aleta sangat kesal saat lelaki itu tidak mau menjawab pertanyaannya. Dia bergegas keluar saat pintu lift sudah terbuka, dan masuk ke dalam apartemen.
"Aleta, tunggu! apa kau tidak mendengarkan ucapanku," cekal Agra, dia geram saat Aleta kembali berjalan dengan terburu-buru. Aleta segera menepis tangan Agra, dan berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
"kenapa aku harus bertemu dengannya," gerutu Agra saat kembali mengingat pertemuannya dengan Mona.
Aleta yang sedang berada di dalam kamar melemparkan tasnya begitu saja, dia benar-benar merasa kesal dengan Agra. Apa salahnya kalau menjawab pertanyaannya ? toh dia juga tidak akan marah kalau wanita itu memang mantan kekasih Agra, pikirnya.
Aleta bergegas ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri sembari berendam di dalam bathtub, dia tidak ingin emosinya mempengaruhi kandungannya.
Tak lama Agra juga masuk ke dalam kamar, dia sudah khawatir saat tidak melihat Aleta berada di kamar mereka.
"Aleta," panggilnya sembari memeriksa kamar mandi. Aleta yang sedang berendam terkejut saat melihat keberadaan Agra, dia lalu membuang muka tanpa menghiraukan suaminya itu.
Agra melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya dan ikut masuk ke dalam bathtub. Dia memandang wajah Aleta dengan lembut sembari memaksa agar Aleta juga melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Lepaskan!" Aleta menepis tangan Agra yang sedang menyentuh wajahnya, membuat Agra menghela napas berat.
"dia wanita dimasa laluku," ucap Agra tiba-tiba, membuat Aleta yang tadinya menghadap ke samping langsung beralih ke arahnya.
"maksudmu mantan?" tanya Aleta, dia tidak paham dengan maksud Agra yang mengatakan wanita dimasa lalu. Agra menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Aleta, membuat gadis itu menghela napas.
"tinggal bilang gitu aja kok repot, sini duduk di belakang," perintah Aleta untuk duduk di belakangnya. Agra menuruti perintah istrinya dengan bingung, karna Aleta tidak memberi reaksi apa-apa saat dia mengatakan kalau wanita tadi adalah mantan kekasihnya.
"kau enggak marah?" tanyanya sambil memeluk tubuh sang istri dan mengecup tengkuknya yang terbuka.
"kau masih berhubungan dengannya?" bukannya menjawab Aleta malah balik bertanya padanya.
"Ti-tidak." Agra mengibas-ngibas tangannya menjawab pertanyaan dari Aleta. Walau hatinya tadi merasa sedikit sesak saat melihat Mona, namun dia tidak ada perasaan lagi padanya. Apalagi berhubungan dengan wanita yang sudah berselingkuh di belakangnya, mengingat itu saja membuatnya ingin mengubur Mona hidup-hidup.
"Kalau gitu, kenapa aku harus marah?" Aleta menyandarkan tubuhnya ke dada Agra. Dia memejamkan mata saat menikmati suasana seperti ini.
"tapikan, dia mantan kekasihku," sepertinya Agra ingin sekali melihat Aleta marah, dia merasa tersinggung karna reaksi Aleta yang biasa saja menandakan kalau istrinya itu tidak ada perasaan apa-apa padanya.
"dia kan cuma mantan, kecuali kalau kau punya hubungan gelap sama dia, barulah aku marah," tambah Aleta memberi penjelasan. Dia tidak punya alasan untuk marah, tapi kalau sampai mantannya itu mengganggu kedamaian hidupnya, maka dia akan membasminya dengan obat palakor.
•
•
•
TBC.
Othor juga mau dong obat pelakornya 🤭 kalau kalian gimana ?
__ADS_1
Yuk Like dan Komen sebanyak-banyaknya, VOTE dan Rating 5, jangan lupa kasi Hadiah juga 🥰 supaya karya Othor lebih berkembang 😍
Terima kasih buat yang udah baca 😘