Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 42. Hari Pertama Magang


__ADS_3

Seorang wanita berjalan menjauh dari kerumunan orang yang ada disekitar Aleta dan Agra. Dia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dan menelpon seseorang.


"nona, dia masih hidup," lapornya pada orang yang sedang dia telpon.


"bocah sialan, banyak benar nyawa dia," ucap seseorang disebrang telpon.


"tuan Agra langsung terjun ke air begitu nona Aleta terjatuh," tambahnya lagi.


Tut. panggilan itu langsung dimatikan oleh seseorang yang dia telpon. Sepertinya orang itu marah karna melihat Aleta baik-baik saja.


Agra dan yang lainnya terlihat sudah memasuki mobil mereka untuk kembali ke kota. Dia juga tetap memeluk Aleta walau gadis itu selalu minta untuk dilepaskan. Tapi akhirnya Aleta mengalah, dia membiarkan apapun yang ingin di lakukan oleh Agra.


Sesampainya di kota, Agra langsung mengantar Aleta pulang ke rumahnya. Dia ingin kalau rubah liciknya itu segera istirahat, dan menyuruh Dokter pribadi keluarganya untuk memeriksa keadaan Aleta.


Pemeriksaan berjalan dengan lancar, tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan. Aleta hanya perlu banyak istirahat untuk mengembalikan energi kehidupannya.


Agra juga langsung berpamitan pada orangtua Aleta begitu selesai memastikan kalau keadaan Aleta baik-baik saja dan beristirahat di kamarnya.


Kejadian hari ini benar-benar mengguncang jiwa Agra, dia benar-benar merasa takut saat melihat Aleta tercebur ke dalam sungai. Tanpa pikir panjang dia juga langsung menceburkan dirinya, karna pada saat itu hanya ada satu ketakutan yang dia rasakan. Yaitu takut kehilangan rubah liciknya.


****


Keesokan harinya, Aleta terlihat sudah semangat seperti biasanya. Seluruh keluarga menyarankan agar dia tetap istirahat di rumah, namun karna hari ini adalah hari pertamanya magang, maka Aleta tidak ingin melewatkan hal tersebut.


"apa tidak sebaiknya istirahat di rumah aja dek," saran Dareen. Dia masih terlihat khawatir dengan kondisi kesehatan Aleta. Walaupun dia sudah terlihat seperti biasanya, namun akan jauh lebih baik kalau adiknya itu tetap istirahat di rumah.


Aleta menggelangkan kepalanya. "Aku baik-baik aja kak, kakak gak perlu khawatir." Dia mencium pipi sang kakak beserta kedua orangtuanya dan segera pamit untuk berangkat menuju rumah sakit tempatnya magang.


Mobil mewah Aleta sudah sampai di parkiran Rumah sakit XX, dia segera keluar dari mobil itu dan berlalu masuk ke dalam Rumah sakit.


Aleta dan Lusi di tempatkan disatu rumah sakit yang sama sedangkan Egi dan Bima berada di Rumah sakit yang berbeda. Dengan langkah lebar Aleta mendekat ke arah Lusi yang sedang berdiri di depan ruangan seorang Dokter.


Aleta menepuk bahu Lusi membuat wanita itu terlonjak kaget karna tepukan tangannya.

__ADS_1


"astaga, bikin kaget aja sih," gerutu Lusi sembari memegangi dadanya sementara Aleta hanya terkikik geli melihat reaksi temannya itu.


"Kalian sudah datang?" sapa Ricky sembari keluar dari ruangannya.


"Selamat pagi Dokter Ricky." Lusi tersenyum dengan sangat cantik menyapa Dokter tampan itu. Aleta yang melihatnya hanya geleng-gelang kepala saja, temannya itu memang selalu suka dengan yang tampan-tampan sama seperti dirinya sendiri.


"selamat pagi juga," balas Ricky dengan senyum manisnya.


"mulai saat ini saya yang akan menjadi mentor kalian selama magang di rumah sakit ini, jadi saya harap kita bisa saling membantu dan bekerja sama," Ricky memberi penjelasan pada mereka sedangkan Lusi dan Aleta hanya mengangguk-anggukan kepala saja.


"jangankan membantu Dokter, menikah dengan Dokter saja saya sangat siap dan bersedia," celetuk Lusi tanpa rasa malu. Aleta menepuk keningnya sendiri melihat tingkah temannya itu sedangkan Ricky hanya tersenyum menahan malu.


"ehem, kalau gitu saya akan mengajak kalian untuk berkeliling sambil berkenalan dengan semua pekerja yang ada di sini," ajak Ricky pada mereka.


Ricky memperkenalkan Aleta dan Lusi pada semua Dokter dan pekerja yang ada di sana, dia juga mengajak mereka berkeliling untuk melihat ruangan-ruangan pasien yang nantinya akan mereka rawat.


Tanpa terasa jam makan siang sudah datang menyapa mereka, para pekerja dan pasien tengah bersiap untuk menikmati makan siang mereka.


"wah, ternyata capek juga ya kalau magang gini." keluh Lusi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Aleta membenarkan ucapan Lusi dengan menganggukkan kepalanya.


"baru juga hari pertama," cibir Ricky sambil menggeleng-gelangkan kepala.


"seperti inilah kita bekerja, bahkan bisa jadi lebih sibuk lagi dari ini. kita harus merawat pasien, membuat laporan medis, juga masih banyak hal lain yang harus kita kerjakan." jelas Ricky. Sebenarnya menjadi Dokter adalah pekerjaan yang mulia, kita bekerja untuk menolong dan mengobati orang lain tanpa memandang ras, agama dan juga suku. Semua kita beri pengobatan sampai mereka sembuh dari sakit yang sedang diderita.


Namun, pekerjaan seorang Dokter juga tidaklah mudah. Banyak rintangan dan kesusahan yang harus mereka lewati untuk bisa mendapat gelar dan mengobati pasien yang sudah menunggu pengobatan dari mereka. Mengobati juga bukan hanya sekedar mengobati, mereka harus bisa meneliti sakit apa yang sedang diderita oleh pasien agar bisa memberi pengobatan dan perawatan yang sesuai.


"bagaimana persiapan pernikahanmu dan Agra Aleta, lancar?" tanya Ricky di sela-sela makannya.


"yah begitula, mungkin hanya sekitar 20 % lagi yang belum rampung," jawab Aleta. Karna saat ini dia sedang magang, jadi semua persiapan dia serahkan sepenuhnya pada Mama Lena dan Mama Deeva. namun sesekali dia juga diminta untuk memberi masukan untuk konsep resepsi acara pernikahannya dengan Agra.


"semoga kamu selalu bahagia," ucapan tulus yang keluar dari mulut Ricky.


Lusi melihat ke arah Ricky, ada semburat sedih yang terlihat jelas diwajah tampannya itu. Mungkin Aleta tidak menyadarinya, namun sudah bisa dipastikan kalau Ricky pasti menyimpan rasa untuk Aleta.

__ADS_1


"duuh kasihan sekali," Lusi ikut prihatin dengan cinta yang tak kesampaian itu.


Setelah selesai makan, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Aleta terlihat sangat serius menyelesaikan segala tugas yang diberikan padanya. Dari dulu, dia memang sangat tertarik dalam dunia medis. Dia ingin memberi pengobatan pada semua orang yang membutuhkan pengobatan, terutama anak-anak dan para lansia.


Tiba-tiba ponsel Aleta bergetar, dia segera mengambilnya dan terlihat pria sombong sedang menelpon.


"halo," jawab Aleta.


"apa yang kau lakukan?" tanya Agra disebrang telpon.


"kenapa?" bukannya menjawab Aleta malah balik bertanya.


"kalau aku tanya itu jawab aja!" Agra terdengar sedikit kesal.


"lagi kerjalah, masa iya sih di Rumah sakit lagi berenang," cibir Aleta. Dia merasa terganggu dengan telpon lelaki itu.


"ya sudah, nanti pulang kerja aku jemput," ucap Agra.


"tidak per-" tut. Agra langsung mematikan panggilan telpon mereka.


Aleta meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja karna kesal melihat ulah lelaki itu sembari mulutnya terus mengegerutu mengeluarkan sumpah serapah untuk Agra.


"dasar pria sombong, sialan, kurang ajar...," lengkap sudah gelar yang dia beri untuk calon suaminya.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2