Jebakan Ranjang Gadis Belia

Jebakan Ranjang Gadis Belia
Bab. 81. Perdebatan Sengit


__ADS_3

Rumah sakit X


Kling, bunyi ponsel Aleta menghentikan percakapannya dengan Mama Lena dan Mama Deeva, dia lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas meja samping ranjang.


Aleta memutar video yang dikirim seseorang untuknya, matanya membulat sempurna saat menyaksikan apa yang ada divideo itu sembari mencengkram kuat ponsel yang sedang dia pegang.


"Aleta, apa itu?" Mama Deeva terlihat sangat penasaran, begitu juga dengan Mama Lena yang langsung merapatkan duduknya.


"wanita sialan, beraninya dia," geram Aleta sembari meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja.


Mama Deeva bangkit dan mengambil ponsel Aleta, dia sudah benar-benar penasaran dengan apa yang anaknya lihat tadi. Namun ponsel itu terkunci, kemudian Mama Deeva meminta Aleta untuk membukanya.


"Mama, itu urusan anak muda," ucap Aleta, dia tidak mau menunjukkan video itu pada Mamanya.


"kenapa rupanya? Mama juga mau lihat!" Mama Lena juga sudah mati penasaran dengan apa yang Aleta lihat, tapi tetap saja Aleta tidak memberitahu mereka membuat kedua Mama itu menyerah.


Kemudian Aleta memilih untuk menelpon teman-temannya, dan memberitahu mereka untuk datang ke Rumah sakit saat ini juga.


"Ma, teman-temanku mau datang ke sini. Lebih baik Mama pulang saja dan istirahat," usir Aleta, dia ingin mengadakan rapat secara tertutup dengan teman-temannya.


"Aleta, kau mengusir Mama?" ucap Mama Deeva dengan bola mata yang hampir keluar dari matanya.


"oh tidak-tidak! aku cuma mau Mama istirahat, udah tua harus banyak istirahat," bantah Aleta dengan cepat, dia tidak ingin menyinggung perasaan kedua Mamanya.


"jadi, kau mengatai Mama tua?" tanya Mama Lena yang merasa tidak terima dikatain tua.


Duuh, Aleta menggaruk kepalanya yang memang sedang gatal. Semua penjelasannya salah dimata kedua Mamanya itu.


"begini Ma, aku cuma mau Mama-Mamaku ini istirahat. Supaya kalau aku keluar dari Rumah sakit nanti, Mama bisa menyambutnya," ucap Aleta dengan riang gembira, kalau kali ini perkataannya tetap salah dimata mereka, dia akan menyeret kedua Mamanya untuk pulang ke Rumah mereka masing-masing.


"baiklah, Mama nanti pulang kalau teman-temanmu sudah datang," balas Mama Deeva, Aleta menghembuskan napas lega karna Mamanya itu percaya dengan apa yang dia ucapkan.


"Aleta, apa kau sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Mama Lena yang merasa curiga dengan gerak-gerik menantunya itu.


"Hah, ti-tidak!" Aleta mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah tuduhan dari Mama Lena, dia meyakinkan kalau dia hanya tidak mau kedua Mamanya itu sampai kelelahan.


Setengah jam kemudian, teman-teman Aleta sudah berkumpul diruangan itu. Mama Lena dan Mama Deeva memutuskan untuk segera pulang, namun mereka kembali mengingatkan Aleta untuk selalu menjaga kondisinya.


"kok kami gak dikasitau sih, kalau kau di Rumah sakit?" tanya Lusi sembari menghempaskan pantatnya ke atas sofa, diikuti oleh Egi dan juga Bima.

__ADS_1


"ini kan ku kasitau sih," balas Aleta sambil mencebikkan bibirnya.


"iya-iya udah kau kasitau, terus gimana keadaanmu?" tanya Egi menengahi perselisihan mereka.


Kemudian Aleta memberitahu mereka kalau dia baik-baik saja, dan juga menceritakan alasan kenapa dia menyuruh mereka datang ke tempat ini.


"tunggu, jadi maksudmu mantan kekasih suamimu itu ingin kembali lagi padanya, gitu?" tanya Lusi untuk memperjelas ceritanya.


"yup, dia ingin merebut suamiku," jawab Aleta sembari mencengkram selimut yang sedang menutup tubuhnya.


Kemudian Aleta menunjukkan sebuah video pada mereka semua, yang langsung membuat teman-temannya menggeleng tidak percaya.


"su-suamimu sangat menyeramkan," seru Lusi saat melihat Agra mencekik leher Mona sembari mengusap lehernya sendiri.


"kalau aku jadi Agra, aku akan mengoyak bibirnya itu. Enak sekali dia mencium milikku," geram Aleta, dia ingin sekali merobek mulut Mona yang telah lancang mencium bibir suaminya.


"tapi, dari mana kau dapat video ini?" tanya Egi yang tidak menyangka kalau temannya itu bisa sampai punya video suaminya.


Lalu Aleta menceritakan kalau dia dapat video itu dari Felix.


Setelah Agra pergi dari Rumah sakit, Aleta segera mengirim pesan pada Felix agar merekam pertemuan Agra dengan Mona. Dia ingin tau apa yang terjadi pada mereka.


Felix mulai merekam sejak awal kedatangan Agra, sampai Felix membawa Mona keluar dari ruangan lelaki itu. Setelah selesai, dia langsung mengirim video pada Aleta tanpa sepengetahuan Agra.


Teman-teman Aleta menganggukkan kepala mendengar penjelasan darinya, mereka benar-benar takjub dengan apa yang Aleta lakukan.


"jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Lusi sembari meletakkan ponsel Aleta ke tempat semula.


"aku akan memberi pelajaran padanya, dan akan membuatnya menyesal karna sudah menggangguku," ucap Aleta dengan sinis.


Mereka sudah bisa menduga bahwa Aleta tidak akan membiarkan mantan kekasih Agra lepas begitu saja, dan mereka juga pasti akan membantunya untuk menghempaskan pelakor itu.


"pertama, kita harus menyelidiki latar belakang wanita itu," ucap Lusi, dia paling bersemangat dalam hal seperti ini.


"kalau urusan itu, aku sudah menyuruh seseorang untuk melakukannya. Setelah aku tau identitasnya, giliran kalian yang membantuku," jelas Aleta.


Lalu mereka mulai mendiskusikan rencana untuk membalas perbuatan Mona, tentu semuanya harus dipersiapkan sebaik mungkin supaya mendapatkan hasil yang terbaik.


"padahal cantik ya, tapi kok masih saja merebut suami orang," celetuk Lusi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak habis pikir dengan wanita-wanita yang tega merebut milik orang lain.

__ADS_1


"benar, gak punya harga diri banget merebut hak orang lain," sambung Aleta membenarkan ucapan sahabatnya.


"kalian ini, apa kalian tidak ingat dengan perbuatan kalian sendiri?" seru Egi tiba-tiba, dia geram dengan kedua sahabatnya yang tidak sadar diri.


"apa maksudmu?" tanya Bima yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Egi.


"sok gaya mencibir orang lain, padahal kalian kan juga seperti wanita itu," cibir Egi dengan bersedekap dada, sementara Aleta, Lusi dan Bima saling pandang karna benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan Agra.


"kalian kan juga menjebak Agra, dan dia itu kekasih Margaret. Apa kalian tidak sadar kalau kalian itu sama saja dengan wanita itu?" ucap Egi telak menancap dihati teman-temannya.


Jleb, Aleta dan Lusi membeku di tempat mereka. Dua manusia itu merasa tertohok dengan apa yang Egi ucapkan, sementara Egi hanya tersenyum tipis saat melihat dua wanita itu diam seperti patung.


"ta-tapikan itu beda!" bantah Aleta, dia merasa tidak terima disamakan dengan pelakor itu.


"di mana bedanya? sama-sama merebutkan," Egi semakin memojokkannya, namun bukan Aleta namanya kalau mengalah begitu saja.


"Pokoknya beda! Agra dan Margaret itu belum menikah sedangkan Agra dan aku sekarang sudah menikah, bahkan udah ada bocil-bocil ini diperutku." Tunjuk Aleta pada perut buncitnya.


"benar tuh! selagi belum ada pernikahan, maka kita berhak untuk merebut," tambah Lusi yang mendukung perkataan Aleta 100 %.


"jadi, kalau yang sudah menikah saja baru disebut pelakor?" tanya Egi lagi yang tidak ada habisnya, sepertinya dia punya dendam tersembunyi pada dua sahabatnya itu.


"tentu saja, kalau mengganggu suami orang itu namanya pelakor sedangkan kalau merebut kekasih orang itu namanya...," Aleta menjeda ucapannya karna bingung harus memberi sebutan apa.


"namanya apa?" tiba-tiba suara Agra mengagetkan mereka yang tengah bersitegang.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Yuk mampir juga ke karya teman othor yang keren ini ya, dijamin seru dan betah buat baca 😍


__ADS_1


__ADS_2